Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 47. Berhasil Selamat.


__ADS_3

Sita merasa sangat terkejut saat seseorang menarik tubuhnya, orang itu juga langsung menutup mulutnya saat dia tidak sengaja berteriak.


"Ssst, jangan bersuara atau mereka akan menangkap kita!"


Sita menganggukkan kepalanya mendengar ucapan wanita yang ada di hadapannya saat ini, wanita itu lalu membantunya untuk bergerak ke tempat yang ditunjuk oleh wanita tersebut.


Mereka berdua bersembunyi di bawah kursi yang ada di samping rumah seseorang dan berharap kalau tidak ada yang bisa menemukan mereka.


Tubuh mereka berdua menjadi tegang saat mendengar derap langkah seseorang yang sedang mendekat, mereka merapatkan tubuh dan saling berpelukan saat ini.


"Cepat cari wanita itu sebelum-"


Brak! Tiba-tiba Sita dan wanita itu terlonjak kaget saat mendengar benturan yang cukup keras, mereka merasa penasaran dengan apa yang terjadi tetapi juga takut untuk melihatnya.


"Sayang, Sofia! Apa kau ada disekitar sini?"


Sita terperanjat saat menyadari kalau itu adalah suara Rafa, dia segera bersiap untuk keluar tetapi ditahan oleh wanita yang ada di sampingnya.


"Se-sebentar Nona, lihat itu!"


Wanita itu menunjuk ke arah kanan untuk memperlihatkan ada dua orang lelaki yang masih ada di tempat itu, sangat berbahagia jika Sita keluar saat ini juga.


"Ta-tapi dia suamiku, aku, aku harus menolongnya!"


Sita merasa tidak tega membiarkan Rafa seorang diri, tetapi dia juga bingung harus bagaimana menghadapi semuanya.


"Keadaan anda tidak lebih baik dari suami anda, jadi biarkan dia yang mengurusnya!"


Wanita itu kemudian membuka masker yang sejak tadi dia pakai dan menunjukkan wajahnya pada Sita.


"Ka-kau?"


Sita merasa terkejut saat mengenali wanita yang telah menolongnya, yah, dia adalah wanita yang sama yang telah dia tolong di dalam pesawat.


"maaf karna sudah membuat anda terkejut, tapi saya juga sangat terkejut saat tidak sengaja melihat anda!"


Stella yang baru berkeliling untuk mencari pekerjaan merasa sangat terkejut saat tidak sengaja melihat seseorang yang terjatuh dari lantai 2 vila itu, dia terus menperhatian apa yang terjadi sampai dia melihat Sita keluar dari lubang anji*ng dan bergegas untuk membantunya.


"Aaargh!"


Mereka berdua kembali terkejut saat mendengar suara teriakan seseorang, refleks Sita langsung bergerak keluar karna dia sangat mengenal suara yang berteriak tadi.

__ADS_1


"Apa yang anda lakukan?"


Stella terpaksa ikut keluar saat melihat Sita keluar, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Rafa sudah terkapar di atas tanah.


"Mas!"


Rafa yang sudah kehabisan tenaga merasa mendengar suara Sita, dia lalu berusaha untuk kembali bangkit walaupun darah segar sudah bercucuran diseluruh tubuh.


"Oh, tidak!"


Stella melihat lelaki yang menghajar Rafa tadi kembali ingin melakukan serangan, dia harus melakukan sesuatu sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Dengan cepat, Stella mengambil batu yang ada di samping kakinya dan memukul kepala lelaki yang sudah menaruh kakinya tepat dikepala Rafa.


Brak! Lelaki itu langsung pingsan saat sebuah batu melayang tepat kekepalanya, sementara Rafa hanya bisa diam melihat semua itu.


"Mas!"


Rafa lalu mengalihkan pandangannya ke arah belakang, dan betapa bahagianya dia saat melihat Sita ada di tempat itu.


Stella segera membantu Rafa untuk menghampiri Sita yang juga sedang kesusahan untuk bergerak, dia merasa ikut bahagia dengan apa yang terjadi saat ini.


"Mas, kau, kau baik-baik saja?"


Sita juga memeluk tubuh Rafa yang sudah bersimbah darah, dia menangis dengan terisak melihat keadaan suaminya saat ini.


Stella kemudian menghubungi polisi agar segera datang ke tempat itu sebelum orang-orang yang mengejar mereka kembali datang.


"Sofia, maafkan aku! Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu!"


Sita menggelengkan kepalanya untuk membantah ucapan Rafa. "Kau tidak melakukan kesalahan apapun, Mas! Kau malah datang untuk menyelamatkanku!"


Perasaan sedih dan bahagia menyelimuti hati mereka saat ini, suasana yang sangat mengharukan itu membuat Stella juga ikut meneteskan air mata.


"M-Mas?"


Sita merasa terkejut saat tiba-tiba tubuh Rafa lemas dan terjatuh dalam pangkuannya. "Mas, apa, apa yang terjadi?"


Sita berusaha menyadarkan Rafa tetapi lelaki itu tetap diam dan menutup kedua matanya, dia terus menggoyang-goyangkan tubuh Rafa sembari terus memanggil namanya.


"Se-sepertinya suami anda sangat kelelahan dan kehilangan banyak darah, Nona!"

__ADS_1


Stella membantu Sita untuk membaringkan tubuh Rafa, dia juga membalut luka yang ada di tangan dam kaki lelaki itu akibat sayatan senjata tajam.


Tidak berselang lama, datanglah beberapa polisi ke tempat mereka berada dan langsung membawa mereka semua ke rumah sakit.


Sita merasa lega walaupun saat ini keadaannya dan Rafa sangat mengenaskan, setidaknya kini mereka sudah keluar dari mara bahaya.


"Dasar bod*oh, brengs*ek!" Kalian tidak berhak lagi untuk hidup!"


Dor, dor, dor! Danish mengamuk di vilanya saat mengetahui kalau Sita berhasil melarikan diri, dia bahkan semakin murka saat mengetahui kalau Rafa juga datang untuk menyelamatkan wanita itu.


"Tuan, ke-kenapa anda-"


"Diam kau! Atau aku juga akan meledakkan kepalamu!"


Lelaki yang ada di samping Danish langsung tutup mulut saat mendengar ucapannya, dia hanya bisa memandangi mayat teman-temannya yang dibunuh dengan tragis oleh bos mereka sendiri.


"Bereskan sampah-sampah itu!"


Danish segera keluar dari Vila itu dengan perasaan kesal, rencananya gagal total akibat pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Sementara itu, Sita dan Rafa yang sudah berada di rumah sakit langsung dibawa ke ruang UGD untuk diperiksa lebih lanjut.


Pihak kepolisian juga langsung meminta keterangan dari Stella tentang kejadian yang telah menimpa pasangan suami istri itu.


Stella menceritakan semua yang dia ketahui pada polisi, setelahnya dia menunggu hasil pemeriksaan yang Dokter lakukan pada Sita dan juga Rafa di depan ruang UGD.


Beberapa jam kemudian, Sean yang baru tiba di bandara bergegas untuk menelpon Rafa. Dia harus bertanya bagaimana kabar mereka saat ini.


"Halo?"


Sean mengernyitkan keningnya saat mendengar suara seorang wanita, dan suara itu bukanlah suara Sita. "Siapa kau?"


"Ma-maaf, Tuan! sa-saat ini pemilik ponsel ini sedang berada di rumah sakit Pelita-"


Tut, Sean segera mematikan panggilan itu dan bergegas menuju rumah sakit bersama dengan Soni.




__ADS_1


Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2