
Beberapa hari selanjutnya, Sean, Rafa dan Atha terlihat berkumpul di ruang kerja Sean untuk membicarakan penyerangan terhadap Danu.
"ke mana Paman Soni?" tanya Rafa, tumben sekali dia tidak melihat lelaki paruh baya itu di samping Sean.
"Dia sedang memanggil seseorang, kalian tunggu saja!"
Rafa menganggukkan kepalanya, mereka lalu membahas tentang keadaan perusahaan Danu saat ini.
"aku telah berhasil mendapatkan 20% saham perusahaannya, dengan menggunakan identitas orang lain. Tapi, lambat laun dia pasti akan mengetahuinya!" ucap Sean, dia lalu memberikan laporan keuangan perusahaan itu.
"Aku tidak percaya kalau Danu rela mengeluarkan banyak uang perusahaan untuk menaklukkan kelompok-kelompok mafia, tapi semua itu pasti akan sangat menyulitkan kita!"
Yah, Sean dan Rafa menyetujui apa yang Atha katakan. Semakin luas kekuasaan Danu, maka akan semakin susah untuk menghancurkannya.
"Tapi, karna ambisinya itu. Dia jadi tidak bisa mengontrol perusahaannya dengan baik, dan memudahkanku untuk melakukan serangan!"
Ada untung dan rugi dari apa yang Danu lakukan untuk mereka, apalagi adanya bantuan dari Marco membuat rencana mereka berjalan lancar.
"jadi, apa besok kau akan melihat Marco, Rafa?" tanya Sean dengan pelan.
Rafa melihat ke arah Sean, dia lalu sedikit mengulas senyum diwajahnya. "Iya, aku besok ingin melihat proses hukumannya!"
Semua orang terdiam mendengar ucapannya, mereka tau apa yang sedang Rafa rasakan saat ini. Walaupun ucapan lelaki itu terdengar biasa saja, tapi matanya terlihat sendu karna besok Ayahnya akan dihukum mati.
"Apa saya boleh masuk, Tuan?"
Tiba-tiba terdengar suara Soni sembari suara ketukan dipintu ruangan itu, Sean segera mempersilahkannya untuk masuk dengan diikuti oleh seseorang.
"kemari!" perintah Sean pada seorang lelaki yang berdiri di samping Soni.
Lelaki itu mendekati Sean sesuai dengan apa yang lelaki itu perintahkan, begitu dia dekat, Sean langsung berdiri tepat berhadapan dengannya.
Glek, lelaki itu sedikit gemetar dengan apa yang terjadi saat ini. Apalagi ternyata di ruangan itu bukan hanya ada Sean, tetapi ada Atha dan Rafa juga.
"Namamu Dian, bukan?"
Lelaki itu mengangguk mendengar pertanyaan Sean, ingin sekali dia bertanya untuk apa dia dipanggil ke ruangan itu tetapi mulutnya terasa sangat berat.
__ADS_1
"Jadi, sudah berapa lama kau kerja denganku?"
Lelaki itu mengernyitkan keningnya dengan bingung, tetapi dia kembali menganggukkan kepalanya. "Sudah hampir 2 tahun, Tuan!"
"Lumayan lama, ya!"
Sean mengangguk-anggukkan kepalanya, begitu juga dengan semua orang yang ada di ruangan itu.
"Lalu, sudah berapa lama kau bekerja dengan Danu?"
Deg, tubuh lelaki itu menegang seketika. Bukan karna dia bernapsu tetapi karna dia sangat terkejut dengan apa yang Sean tanyakan.
"A-apa maksud anda, Tuan?"
Sean menarik sudut bibirnya membentuk senyum sinis, dengan cepat dia berbalik dan langsung menodongkan pistol tepat ke kepala lelaki itu.
"Sudah sejak lama aku ingin sekali membunuhmu, tapi aku tahan demi bisa membalas semua dendamku pada Tuanmu itu!"
Tubuh lelaki itu semakin bergetar hebat dengan debaran jantung yang terus berlomba, sepertinya dia sudah ketahuan, dan dia harus segera pergi dari tempat ini sebelum Sean membunuhnya.
"Sa-saya, saya tidak tau apa yang-"
"Kenapa? Apa kau ingin mengatakan kalau kau tidak mengenal Danu?"
Rafa tampak sangat emosi, sudah cukup selama ini dia terus bersabar. Namun, saat ini sudah tidak lagi.
Lelaki yang bernama Dian terus menunduk dan tidak mengatakan apapun, dia melirik ke arah pintu yang ada tepat di sampingnya. Tangannya mulai bergerak ke saku celananya untuk mengambil sesuatu.
"Aaarggh!"
Dian menjerit kuat saat kaki Soni menekan tepat ke tangannya, rupanya lelaki itu tau kalau dia ingin mengambil sesuatu di dalam saku celananya.
Atha dan Rafa yang melihat itu segera mendekat untuk memeriksa seluruh tubuh lelaki itu. Namun, belum sempat mereka mendekat. Dian mendorong tubuh Soni dan langsung menarik pistolnya dan membidik tepat ke arah Sean.
Dor! Suara tembakan menggema di dalam ruangan itu membuat Sita yang ada di dapur terperanjat kaget. Dia segera berlari ke lantai dua untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Brak! "Kakak!"
__ADS_1
Sita langsung berlari ke arah sang Kakak yang sudah bersimbah darah. "Apa, apa kakak tidak apa-apa?" Dia menekan lengan Sean yang sedang terluka.
"Kakak tidak apa-apa Sweetu, hanya sedikit terluka saja!"
Yah, peluru yang Dian tembakan melesat tepat ketubuh Sean. Untungnya dia cepat menghindar dan peluru itu hanya sedikit mengenai lengan kanannya.
"Dasar bajing*an!"
Buak!
"Aarggh!"
Atha dan Rafa segera menghajar lelaki itu dengan membabi buta, mereka sangat menyesal karna bersikap baik dan tidak langsung membunuhnya.
"Kau lihat saja, aku akan membuat kau hidup dalam penderitaan sampai kau berharap agar Tuhan segera mengambil nyawamu!"
Rafa kembali menghajar lelaki itu sampai dia terkapar tidak berdaya, darah segar terus mengalir dari kepala dan mulutnya tetapi itu tidak bisa memuaskan hati mereka semua.
Lelaki itu lalu melirik ke arah seseorang yang ada di ruangan itu seolah-olah dia sedang meminta tolong, tetapi orang tersebut malah tersenyum sinis ke arahnya.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah, pastikan dia diikat dan disiksa layaknya binatang di sana!"
Soni menganggukkan kepalanya dan segera memanggil beberapa orang untuk memindahkan lelaki itu, sementara yang lainnya segera menelpon Dokter untuk memeriksa luka Sean.
"Apa kau sudah mendapatkan ponselnya, Atha?"
Atha menganggukkan kepalanya, dia sudah mengambil alat komunikasi lelaki itu agar bisa menghubungi Danu dan membuat jebakan untuk lelaki itu.
"Baiklah, kita tidak perlu menunggu lagi! Segera jalankan semua rencana kita, dan pastikan kalau Danu masuk dalam jebakan kita!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘