Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 31. Lamaran yang Tidak Biasa.


__ADS_3

Saat ini, semua orang sudah berkumpul dimeja makan. Para wanita tampak sedang menyiapkan makanan dan minuman untuk para lelaki.


Syifa yang duduk di samping Atha terus menundukkan kepalanya saat matanya tidak sengaja bertetapan dengan lelaki itu, sementara Atha malah terus melebarkan senyumnya dengan perasaan sangat bahagia.


"sepertinya suamimu bahagia sekali ya, Syifa!" sindir Ridwan membuat yang lainnya menoleh ke arah lelaki itu.


"Namanya juga pengantin baru, Mas! yah pastilah bahagia!" sambung Ammar.


Wajah Syifa semakin memerah dengan rasa malu yang tidak tertahankan, sementara Atha merasa tidak peduli dan asyik memakan sarapannya.


"Tapi, ke mana Kak Rafa? Apa dia sudah pulang?"


Ammar baru sadar kalau ternyata Rafa tidak ada ditempat itu, dia lalu beranjak bangun untuk melihat lelaki itu di kamarnya.


"mungkin dia masih tidur, Mas! Semalaman Mas Rafa tidak tidur karna menyelesaikan pekerjaannya!" ucap Sita, dia sengaja tidak membangunkan Rafa agar lelaki itu bisa istirahat.


Ammar menganggukkan kepalanya, dia lalu kembali duduk karna tidak ingin menganggu istirahat lelaki itu.


Setelah selesai, Ammar dan Zulaikha pergi ke Bandara untuk menjemput Ibu Dijah yang baru pulang umrah.


Syifa dan Atha memutuskan untuk kembali ke kamar karna mereka ingin membuka hadiah-hadiah yang telah mereka terima.


Sita sendiri bergegas ke kamar Rafa dengan membawa makanan dan minuman untuk lelaki itu.


"Mas!"


Sita mengetuk pintu kamar Rafa untuk beberapa kali, tetapi lelaki itu tidak bersuara dan membuka pintu.


Akhirnya Sita membuka pintu kemar itu dengan perlahan, terlihat Rafa masih bergelung di bawah selimut.


Sita membuka pintu kamar itu dengan lebar agar orang-orang bisa melihatnya di dalam kamar itu, dia lalu meletakkan makanan dan minuman yang dia bawa ke atas meja.


"Mas, bangunlah!" panggil Sita kembali, dia berdiri di samping ranjang sembari memperhatikan wajah lelaki itu.


"Saat tidur saja, wajahnya tegang seperti itu! Sebenarnya dia sedang mimpi apa?"


Sita tersenyum simpul, dia lalu sedikit mengguncang tubuh Rafa sampai lelaki itu mengerjapkan kedua matanya.


"Ka-kau!"


Rafa langsung duduk dengan tegak saat melihat Sita, dia lalu merapikan pakaiannya yang mungkin saja sedang berantakan.


"Maaf karna membangunkanmu, Mas! Tapi kau harus segera sarapan karna hari sudah mulai siang."


Rafa langsung melirik ke arah jam yang tergantung di kamar itu, betapa terkejutnya dia saat melihat ternyata sudah jam 9 pagi.

__ADS_1


Dia langsung bangkit dan berlalu ke kamar mandi, tetapi dia berhenti dan kembali melihat ke arah Sita.


"Terima kasih karna sudah mengantar sarapan untukku, Sita! Aku harus segera bersiap karna kita akan pergi ke rumahmu!"


Sita menganggukkan kepalanya, dia lalu keluar dari kamar sembari menutup pintu kamar itu.


"Apa seperti ini, rasanya kalau sudah punya istri?"


Rafa yang biasanya selalu hidup sendiri dan melakukan semuanya sendiri sedikit merasa tersentuh dengan apa yang Sita lakukan, dia lalu tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya ke dalam kamar mandi.


Sita dan Rafa berangkat ke rumah Sean untuk menyiapkan semuanya, setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di rumah keluarga Pranata yang sudah dipadati para pekerja.


"selamat pagi, Nona muda, Tuan!" sapa semua para pekerja yang ada di tempat itu.


"selamat pagi semuanya, terima kasih untuk kerja keras kalian!" balas Sita, dia tersenyum manis kesemua orang yang membantunya menyiapkan pesta sementara Rafa hanya diam di sampingnya.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah, terlihat Sean dan Soni sedang berbincang di ruang keluarga.


"Assalamu'alaikum!"


Sean tersenyum senang saat melihat adiknya dan Rafa, dia lalu menjawab salam itu dan menyuruh mereka untuk duduk.


"bagaimana, Rafa? apa kau sudah siap untuk acara besok?" tanya Sean, dia melirik ke arah Sita yang tampak bersemu merah.


"Saya lihat persiapannya sudah selesai-"


Sean layaknya seorang Ayah yang harus memastikan kalau putrinya menikah dengan orang yang tepat, supaya putrinya bisa hidup bahagia dalam membina rumah tangga.


"Insyaallah! Aku siap untuk memberikan hidupku untuk istriku."


Rafa menatap Sean dengan tegas, pancaran matanya menyiratkan kalau dia bersungguh-sungguh dengan apa yang dia ucapkan.


Sean tersenyum senang, dia menepuk bahu Rafa seperti mengucapkan kakau dia percaya pada lelaki itu.


Sita sendiri menundukkan kepalanya, ada desiran aneh yang mulai menjalar dihatinya hingga membuatnya ingin menangis atas apa yang Rafa ucapkan.


"Ya Allah, aku menyerahkan segala Takdir padamu! Jika Mas Rafa benar-benar menjadi suamiku, maka aku juga akan menyerahkan seluruh hidupku untuk melayaninya!"


Setelah obrolan mereka selesai, Sita dan Rafa mulai mencoba pakaian yang akan mereka pakai di acara pesta nanti. Rupanya Sean benar-benar sudah menyiapkan segalanya, bahkan sampai gaun dan pakaian yang akan Sita dan Rafa pakai pada acara pernikahan mereka.


Sementara itu, di tempat lain terlihat anak buah Danu sedang menunjukkan beberapa informasi yang mereka dapatkan tentang Rafa.


Senyum Danu melebar kala melihat siapa Rafa sebenarnya, dia bahkan tidak menyangka kalau ternyata lelaki itu adalah anak dari seorang bandar narkoba paling terkenal di seluruh Negeri.


"hebat, hebat sekali! Aku akan lihat bagaimana kau akan sangat terkejut dengan apa yang aku temukan, Sean!"

__ADS_1


"Maaf, Tuan! Saya juga baru mendapat kabar kalau Nona Sofia dan lelaki itu akan menikah besok hari,"


Danu tidak terkejut, karna dia sudah mendengar berita tentang pernikahan itu dari semua kolega bisnisnya.


"Kau lihat saja, Sean! Pertama-tama aku akan mempermalukanmu karna sudah menolak anakku, setelah itu kau pasti akan hancur dan seluruh kekuasaanmu akan jatuh ke tanganku!"


Danu lalu mulai menyusun rencananya untuk memberikan kejutan besar pada mereka, entah dendam seperti apa yang terjadi padanya hingga berulang kali dia mencoba untuk melenyapkan Sean dan juga Sofia.


Pagi sudah berubah menjadi malam, tetapi para pekerja tetap menyelesaikan persiapan pernikahan yang akan diadakan besok.


Sesekali Sita akan memberikan makanan dan minuma untuk mereka, walaupun mereia dibayar mahal, tetapi bekerja terus tanpa henti tentu membuat tubuh mereka sangat pegal.


Rafa yang baru selesai berbicara dengan Sean melihat keberadaan Sita di balkon ruang keluarga, dia lalu menghampiri wanita itu yang sedang memperhatikan para pekerja.


"Ini sudah malam, kenapa kau belum tidur?"


Sita membalikkan tubuhnya saat mendengar Rafa, dia lalu sedikit menggeser tubuhnya agar lelaki itu bisa berdiri di pinggiran balkon.


"aku belum ngantuk, Mas! Mungkin sebentar lagi," jawab Sita sambil kembali melihat ke arah bawah.


Rafa mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan berniat untuk menyerahkan benda itu pada Sita.


"Apa aku boleh mengatakan sesuatu padamu?"


Sita kembali melihat ke arah Rafa, dia menganggukkan kepalanya dan mereka kini sedang berhadap-hadapan.


"mungkin aku tidak bisa seperti lelaki lain yang melamarmu di tempat yang spesial dan dengan romantis, aku juga tidak menyiapkan apapun dan langsung mengajakmu untuk menikah. Tapi, aku tetap menghargai dan menghormatimu layaknya wanita yang sangat spesial!"


"Sita ... bukan! Maksudku, Sofia Pranata, maukah kau menjadikanku sebagai suamimu?"


Sita menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat Rafa bersimpuh di hadapannya, matanya berkaca-kaca saat lelaki itu menyodorkan sebuah cincin yang sangat indah yang masih berada di dalam kotak beludru.


"Will you marry me?"


Tanpa menunggu apapun lagi Sita langsung menganggukkan kepalanya, dia mengambil cincin itu dan memasukkannya ke dalam jari manisnya.


"Terima kasih, terima kasih, Sofia!"





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2