
"Baiklah, kita tidak perlu menunggu lagi! Segera jalankan semua rencana kita, dan pastikan kalau Danu masuk dalam jebakan kita!"
Atha dan Rafa menganggukkan kepala mereka untuk menjalankan apa yang Sean katakan, kemudian mereka semua keluar untuk menjalankan tugas masing-masing.
Atha segera kembali ke rumahnya untuk memberitahukan pada Syifa bahwa dia harus pergi kesuatu tempat, dia berharap kalau rencana mereka akan berjalan lancar dan dia bisa kembali bersama istrinya.
"Sayang!"
Atha celingukan ke sana kemari saat baru masuk ke dalam apartemen, dia mencari keberadaan sang istri yang tidak tampak di matanya.
"Kau sudah pulang?"
Syifa yang baru selesai menjemur pakaian terlihat sedang menuruni anak tangga dengan membawa keranjang pakaian, dia tersenyum manis ke arah Atha yang sedang melihatnya.
"untuk apa menjemur pakaian? Kan ada pembantu!" ucap Atha setelah Syifa berada di sampingnya.
Syifa menggelengkan kepalanya dan berlalu ke dapur dengan diikuti oleh Atha, lelaki itu mulai memeluk tubuh Syifa yang sedang mengambil minuman di dalam kulkas.
"Minum dulu, tadi aku buatin jus mangga untukmu!"
Atha tersenyum lebar sembari menerima gelas yang Syifa beri, dia senang dengan perhatian yang istrinya berikan.
"Hah, ini segar sekali! Makasih, Sayang!"
Cup, Atha mengecup pipi Syifa membuat wanita itu sedikit kaget. Dia lalu memalingkan wajahnya yang bersemu merah ke arah meja makan.
"Tapi Sayang, ke mana Bik Sum?"
Atha sejak tadi tidak melihat keberadaan pembantunya, biasanya wanita paruh baya itu sudah sibuk membersihkan apartemennya.
"Aku sedang meliburkan Bik Sum!"
Atha mengernyitkan keningnya mendengar ucapan sang istri. "Kenapa, Sayang? Apa dia membuat kesala- auph!"
Atha tidak bisa melanjutkan ucapannya saat Syifa memasukkan dimsum ke dalam mulutnya, sementara wanita itu malah tertawa lebar membuatnya cepat-cepat mengunyah makanan yang ada dimulutnya.
"Dasar, sudah mulai berani yah!"
Atha memeluk tubuh Syifa dan menggelitik perutnya membuat wanita itu tertawa terbahak-bahak, dia terus melakukannya sampai istrinya ampun-ampun dan minta untuk dilepaskan.
__ADS_1
"Udah, hahaha!"
Atha masih saja lanjut sampai mereka berdua tergeletak di atas lantai, dia lalu memeluk tubuh Syifa yang sedang kelelahan dengan napas tersengal-sengal.
"Aku senang melihatmu tertawa seperti itu, Syifa!"
Atha kembali mengecup bibir Syifa membuat wanita itu memejamkan kedua matanya, dia senang karna akhir-akhir ini Syifa benar-benar berubah dan selalu memperlakukannya dengan baik.
"aku sangat mencintaimu, Sayang! Dan aku senang karna kau telah memperlakukan aku dengan baik, tapi ...," Atha menjeda ucapannya membuat Syifa melihatnya dengan penuh tanda tanya.
"Tapi, aku mau kau tetap menjadi dirimu sendiri! Aku ingin kau hidup nyaman dan bahagia bersamaku, karna bagaimana pun dirimu, aku akan tetap selalu mencintaimu!"
Hati wanita mana yang tidak meleleh saat mendengar ucapan manis yang keluar dari mulut seorang lelaki yang sangat dicintai, bukan hanya dicintai saja, tapi sudah menjadi milik seutuhnya.
"aku, aku mengerti, Mas!"
"Bagus-"
Atha terdiam saat menyadari sesuatu, dia yang sedang tiduran di samping Syifa kini beranjak bangun dan berada tepat di atas wanita itu.
"Mas? Kau memanggilku Mas?"
Syifa menganggukkan kepalanya dengan malu, wajahnya mulai bersemu merah membuat Atha merasa sangat gemas.
Suasana yang tadinya penuh dengan keharuan dan kebahagiaan berubah menjadi kekesalan, Syifa langsung mencubit perut Atha sampai lelaki itu menjerit kesakitan.
"Sayang, cubitanmu itu benar-benar aduhai!"
"Cih!"
Syifa bangun dan beralih pergi ke kamarnya, sementara Atha hanya tertawa saja melihat raut wajah sang istri yang terlihat sangat kesal.
"Tunggu, aku belum sempat bilang tentang penyerangan itu!"
Atha baru ingat kalau dia belum bicara pada sang istri, dia lalu berlari ke arah kamar untuk menyusul kepergian Syifa.
Jeglek, jeglek. Ternyata Syifa mengunci pintu kamar mereka membuat Atha tidak bisa masuk, tetapi bukannya marah, Atha malah tertawa bahagia dengan apa yang istrinya lakukan.
"Aku kangen dikunci seperti ini!"
__ADS_1
Benar-benar deh kalau Atha, dia lalu mengetuk pintu kamar itu sembari memanggil sang istri.
"Sayang, apa kau bisa membukakan pintunya? Aku ingin membicarakan hal penting denganmu!"
Hening, tidak ada sahutan dari dalam kamarnya. Atha lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Syifa.
"Sayang, aku ingin bicara hal penting!"
Atha menunggu beberapa saat, semoga istrinya mau membukakan pintu untuknya atau minimal membalas pesannya.
Setelah menunggu 15 menit, akhirnya pintu kamar itu terbuka. Atha segera masuk dan mendekati Syifa yang sedang duduk dipinggir ranjang.
"Sayang!"
Syifa membuang muka saat Atha mendekatinya, tetapi lelaki itu tidak peduli dan duduk di sampingnya.
"Sayang, aku harus pergi bersama dengan Tuan Sean dan Rafa!"
"Mau ke mana?"
Mendengar nama Sean dan Rafa, Syifa langsung merasa khawatir. Dia bahkan sampai memegang kedua tangan Atha dengan tatapan tajamnya.
"kami mau menyerang Danu, jadi-"
"Apa, apa harus sekarang?"
Atha menganggukkan kepalanya. "Kau tunggu di rumah saja, atau ku antar ke rumah Ammar?"
Syifa menggelengkan kepalanya, dia lalu memeluk tubuh Atha membuat lelaki itu sedikit terkejut.
"aku ikut!"
"Apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘