
"Syifa!"
Suara panggilan dari seseorang memecah kesunyian yang ada di dalam kamar Syifa, gadis itu menatap ke luar jendela tanpa membalikkan tubuh ke sumber suara.
"Ya Allah, kau belum siap-siap Dek?"
Zulaikha masuk dan mendekati Syifa dengan diikuti oleh Sita, tetapi gadis itu tetap melihat lurus ke depan tanpa mengalihkan pandangan.
"Syifa, Atha dan keluarganya sudah datang. Apa kau tidak ingin bersiap?"
Zulaikha menyentuh lengan Syifa, dia membalikkan tubuh adiknya itu hingga mereka saling berhadapan.
"Ada apa? apa kau tidak ingin menerima lamaran Atha? hem!"
Syifa memandang Zulaikha dengan sendu, matanya menelisik jauh dalam kedua bola mata sang Kakak untuk melihat apakah Kakaknya bahagia atau tidak.
"Syifa! apa kau mendengar Mbak?"
"Aku dengar, Mbak! dengar kali malah, sampai telingaku sakit!"
Syifa menggosok-gosok telinganya dengan bibir mendengus sebal ke arah sang Kakak.
"ada apa? apa kau tidak-"
"Tidak ada apa-apa, Mbak! aku hanya nervous saja!"
Syifa menarik napas panjang dan menghembuskannya, terus seperti itu untuk meyakinkan sang Kakak kalau semuanya baik-baik saja.
"Nervous itu biasa, Mbak juga dulu kayak gitu! tapi, saat udah melihat wajah Mas Ammar, rasa gugup Mbak berubah jadi rasa bahagia!"
Senyum malu-malu terpancar diwajah Zulaikha, seakan kembali mengingat momen lamarannya dengan sang suami.
Syifa terdiam, bibirnya tersenyum tipis melihat raut wajah bahagia sang Kakak. Untuk beberapa detik matanya terpejam, lalu kembali terbuka saat dia sudah mengambil keputusan.
"Baiklah, lupakan tentang Mbak! yang terpenting sekarang kau harus bersiap!"
Syifa menganggukkan kepalanya, dengan senyuman yang tentu saja terlukis diwajahnya.
"Sita, kau bantu dia bersiap! setengah jam lagi Mbak akan menyusul kalian!"
Zulaikha berbalik dan keluar dari kamar meninggalkan Syifa dan Sita yang saling berpandangan.
"Apa kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Syifa menghela napas kasar, dia berjalan ke arah ranjang dan mendudukkan tubuhnya ke ranjang tersebut.
"Sita, apa kau bahagia kalau aku menerima lamaran Atha?"
Syifa memandang dengan sendu, pancaran keputus-asaan terlihat jelas diwajahnya.
"tentu saja aku bahagia! tapi, aku bahagia bukan karna lamaran ini, tapi karna melihatmu bahagia!"
Tanpa diceritakan pun, Sita sudah paham apa maksud dari ucapan sahabatnya itu. Tangannya terulur menggenggam kedua tangan Syifa membuat gadis itu meneteskan air mata.
"bagi kami, yang terpenting adalah kebahagiaanmu! jika kau tidak menginginkan lamaran ini, ya sudah, kita akan menolaknya dengan baik-baik! jangan berusaha keras untuk membahagiakan orang lain saat dirimu sendiri tidak bahagia, Syifa!"
setiap kata demi kata yang Sita ucapkan benar-benar mengena dihati Syifa, gadis itu memeluk Sita dengan erat untuk menumpahkan segala kegelisahan hatinya.
"hidup ini bagai sebuah kapal yang membutuhkan seorang nakhoda, dan yang menjadi nakhoda untuk hidupmu, yah dirimu sendiri! pikirkanlah, Syifa! kami menyerahkan semua keputusan ditanganmu, karna nantinya kau juga yang akan menjalani bahtera rumah tangga!"
Bagai mendapat oase digurun pasir yang tandus, hati Syifa sedikit tenang saat mendengar semua ucapan Sita. Gadis itu memang selalu bisa menenangkan dan mencerahkan jalannya saat dia tersesat dalam kegelapan.
"Sekarang tenanglah, hirup napas dalam-dalam, dan hembuskan secara perlahan! pikirkan semuanya dengan hati yang lapang, pasti kau akan mendapat jawabannya!"
Syifa tersenyum untuk menanggapi ucapan sahabatnya, gadis itu lalu bangun dan menatap Syifa dengan senyum manisnya.
"Aku akan menunggu diluar, kalau kau sudah mendapat jawabannya, panggil saja aku. Oke?"
Waktu terus bergulir, para kerabat Ammar sudah menyambut kedatangan Atha dan keluarganya. Semua orang tampak sedang berbincang hangat di ruang tamu, hanya Atha sajalah yang saat ini sedang dirundung dengan kegelisahan.
Beberapa kali Atha meremmas ujung kemejanya untuk menghilangkan rasa gugup, tapi semua tidak mempan dan malah menambah pikiran.
Sean, yang sejak tadi memperhatikan Atha tersenyum tipis. Dia cukup kagum dengan keberanian lelaki itu, yang langsung melamar gadis tanpa tau akan diterima atau tidak.
"Atha!"
Suara Sean berhasil mengganggu kegelisahan Atha, lelaki itu tampak melihat ke arahnya penuh tanda tanya.
"kenapa tegang sekali? inikan hanya lamaran, bukan peperangan!"
Sean berusaha untuk menghibur Atha, tapi sepertinya lelaki itu tidak terpengaruh.
"bagaimana tidak tegang, aku tidak tau-"
Atha tidak bisa menyelesaikan ucapannya saat melihat seorang wanita sedang menuruni anak tangga, matanya seakan terhipnotis dengan kecantikan wanita yang berhasil merebut seluruh hatinya.
"Wah wah, ternyata ini bintang yang ditunggu-tunggu dari tadi?"
__ADS_1
Syifa tersipu malu saat mendengar gurauan Papa Aldo, begitu juga dengan yang lainnya yang ikut tertawa mendengar ucapannya.
"kau sudah yakin dengan pilihanmu?" bisik Sita, dia mencoba untuk bertanya sekali lagi sebelum acara itu dimulai dan semuanya menjadi terlambat.
Syifa memegang lengan Sita. "Aku tidak tau apakah ini benar atau tidak, tapi begitulah kata hatiku!"
Sita menganggukkan kepalanya, dia ikut senang dengan apa yang dipilih oleh Syifa walaupun mereka tidak tau bagaimana jalan Takdir akan membawa pilihannya itu.
Setelah semua orang berkumpul, akhirnya acara itu pun dimulai. Ammar sebagai wali dari Syifa membuka acara dan memberi kata sambutan, diteruskan dari pihak lelaki yang memberikan sepatah dua kata untuk acara malam ini.
"Baiklah, kedatangan kami di sini ingin menyampaikan niat baik untuk mengikat tali silaturahmi melalui sebuah ikatan pernikahan. Anak saya yang bernama Athala Madava, meminta izin dan meminta restu untuk melamar putri dari keluarga ini yang bernama ...."
Papa Aldo menyenggol lengan Atha untuk menanyakan siapa nama dari calon istrinya karna memang Atha tidak pernah memberitahukan padanya.
"Asyfa El-Rina,"
"Putri keluarga ini yang bernama Asyfa El-Rina, semoga niat baik dari putra kami bisa direstui dan diizinkan oleh semua keluarga!"
Papa Aldo mewakili Atha untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka.
"Terima kasih saya ucapkan kepada Paman Aldo, yang telah menjelaskan maksud dan tujuan anda sekeluarga datang ke rumah kami. Di sini kami sekeluarga merasa senang menerima lamaran dari saudara Athala, tapi, alangkah baiknya jika yang punya badan sendirilah yang menjawab lamaran dari saudara Atha tersebut!"
Ammar melihat ke arah Syifa yang sejak tadi menundukkan kepala, Zulaikha yang berada di samping Syifa memberitahukan padanya untuk melihat ke arah depan.
"Bagaimana, Syifa? apa kau menerima lamaran dari saudara Athala?"
Semua orang tampak sangat bersemangat menunggu jawaban dari Syifa, beberapa dari mereka bahkan terlihat sedang mengabadikan momen ini.
Syifa dan Atha saling pandang, seolah saling berkomunikasi lewat pandangan mata itu. Di mana Atha memandang dengan penuh kegelisahan, sementara Syifa sendiri memandangnya dengan sendu.
Syifa memejamkan mata, dia menarik napas dalam sebelum menjawab pertanyaan Ammar.
"Saya, Asyifa El-Rina menerima lamaran dari saudara Athala Madava!"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
__ADS_1