
"Maaf, Atha! Semua yang aku ucapkan tadi cuma prank!"
"Apa?"
Atha terlonjak kaget saat mendengar ucapan Syifa, sangking kagetnya, dia sampai kehilangan hasratnya untuk melakukan kesenangannya saat ini.
"Kau jangan main-main, Syifa! Kenapa kau tega membohongiku?"
Atha mengguncang kedua bahu Syifa membuat wanita itu menatapnya dengan tajam, sungguh Syifa sangat kesal melihat Atha yang terus membahas tentang pengakuannya.
Melihat Syifa diam, Atha semakin merasa geram. Dia lalu menggigit puncak gundukan sintal wanita itu sampai membuat Syifa berteriak kesakitan.
"Apa kau sudah tidak waras, Atha? Bagaimana kalau ini sampai putus?"
Syifa mengusap-ngusap puncak dadanya yang terasa perih, bisa-bisanya suaminya itu menggigit puncak itu dengan kuat.
"Aku memang sudah tidak waras, makanya jangan memancing kesabaranku!"
Syifa berdecak kesal. "Memangnya siapa yang memancing kesabaranmu? Jelas-jelas kau yang membuatku kesal karna terus bertanya sesuatu yang membuatku malu!"
Atha yang sudah siap untuk menjawab semua ucapan Syifa mendadak jadi bungkam, dia mencoba untuk memahami apa yang dikatakan istrinya.
"Aku terus bertanya sesuatu yang membuatnya malu? Apa itu berarti dia benar-benar mencintaiku?"
Untuk pertama kalinya, Atha menggunakan kepalanya untuk berpikir dengan keras, dan dia bangga karna telah berhasil memahami maksud dari ucapan sang istri.
"jadi, kau benar-benar-"
"Atha, dengarkan aku baik-baik! aku juga mencintaimu, aku mencintaimu! Jadi, jangan pernah bertanya masalah itu lagi!" ucap Syifa dengan penuh penekanan, dia kemudian bangun dan menarik selimut ke dalam kamar mandi.
Brak! Atha kembali mendapatkan kesadarannya saat mendengar suara pintu yang tertutup, senyumnya mengembang karna perasaan bahagia yang meluap dalam hatinya.
"Akhirnya, akhirnya aku mendapatkan cinta istriku!"
__ADS_1
Atha bangun dan melompat-lompat di atas ranjang seperti anak kecil, dan lebih parahnya lagi, dia melompat-lompat tanpa memakai pakaiannya sedikitpun.
Pada saat yang sama, Syifa baru saja keluar dari kamar mandi dan berjalan kembali ke arah ranjang. Tubuh Syifa membeku saat melihat pemandangan yang suaminya suguhkan, matanya juga membulat sempurna saat melihat pusaka Atha terus bergoyang mengikuti gerak tubuh lelaki itu.
"Atha!"
Tidak tahan melihat tingkah suaminya, Syifa memilih untuk langsung menyadarkan Atha dari kegilaan lelaki itu saat ini.
"Sayang!"
Atha melompat turun dari ranjang saat melihat keberadaan Syifa, entah sadar atau enggak saat ini lelaki itu terus ke sana kemari dengan bertelanjang ria.
"Sayang, apa kau-"
"Pakai dulu pakaianmu, Atha! Mau sampai kapan kau menerbangkan bur*ungmu itu!"
Mendengar ucapan Syifa, sontak Atha langsung melihat ke arah bawah dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.
"cih, rasa cintaku luntur karna asetmu yang sejak tadi bergoyang!"
"Apa?"
Pada saat yang sama, Rafa dan Sita juga sedang menghabiskan waktu di dalam kamar. Begitu banyak cobaan di awal pernikahan mereka, hingga tidak memberi waktu untuk berduaan seperti saat ini.
"Mas, terima kasih karna sudah menyelamatkanku! Aku berpikir saat itu mungkin aku tidak bisa melihatmu lagi!"
Cup, Rafa mendaratkan kecupan singkat dibibir sang istri untuk membungkam mulut Sita.
"Kau adalah istriku, jadi sudah seharusnya kalau aku menyelamatkanmu, Sofia!"
Sita tersenyum simpul sembari menyandarkan tubuhnya ke dada bidang Rafa. "Aku tau, Mas! Tapi walau bagaimana pun, aku tetap berterima kasih padamu!"
Rafa memeluk tubuh Sita sebagai balasan atas rasa terima kasih wanita itu, mulutnya tidak berhenti memberikan kecupan-kecupan diwajah sang istri.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba Rafa teringat dengan seseorang. Sudah sejak lama dia ingin bertanya mengenai orang tersebut, tetapi selalu lupa karna kejadian yang mereka alami.
"Oh yah, Sofia! Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
Sita yang sedang menunduk mendongakkan kepalanya saat mendengar ucapan Rafa. "Kenapa harus bertanya boleh atau enggak, Mas? Kalau Mas ingin bertanya, yah tanya saja!"
Rafa tersenyum dan kembali mendaratkan kecupan singkat dibibir Sita. "Siapa wanita yang malam itu bersamamu, Sofia! Kenapa kau bisa bersamanya?"
Sita terdiam mendengar pertanyaan Rafa, dia mulai mengingat-ingat sosok yang sedang ditanyakan oleh suaminya.
"Benar! Aku juga baru ingat dengannya padahal aku berhutang nyawa atas bantuannya!"
Yah, Sita ingat tentang seorang gadis yang telah menolongnya. Dia adalah Gadis yang sama yang bertemu dengannya dipesawat.
"siapa dia?" tanya Rafa kembali.
"Dia wanita yang aku tolong di pesawat, Mas! Ternyata Allah kembali mempertemukan kami dengan cara menolong kita!"
Rafa menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan Sita. "Kita belum sempat mengucapkan terima kasih padanya!"
Yah, Sita juga ingin menemui wanita itu. Akan tetapi, dia tidak tau di mana rumahnya. Bahkan namanya saja pun dia tidak tau.
"Kita cuma bisa berdo'a supaya suatu saat nanti bisa kembali bertemu dengannya, Mas! Semoga dia selalu dalam keadaan sehat dan bahagia!"
Rafa mengaminkan ucapan Sita, dia lalu menarik tubuh sang istri untuk masuk ke dalam dekapannya.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘