Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 44. Mempersiapkan kejutan.


__ADS_3

"apa aku boleh menikah lagi?"


"Hem- apa?"


Atha melotot tajam saat mendengar apa yang Syifa katakan, sementara wanita itu hanya tersenyum tipis sembari mengalihkan pandangannya.


"Coba kau bilang sekali lagi?"


Atha mencengkram dada Syifa membuat wanita itu terlonjak kaget, dia kemudian menghimpit tubuhnya hingga merapat kepintu mobil.


"A-Atha! apa kau tidak tau kita sedang ada di mana?"


Syifa menahan wajah Atha yang sudah hampir mengecup bibirnya, dia sedikit meringis saat cengkraman Atha semakin kuat mencengkram dadanya.


"berjanjilah kau tidak akan mengatakan itu lagi!"


"Hah? Sssh, A-Atha!"


Syifa mendessis saat tangan Atha mulai turun ke inti tubuhnya, dia harus segera menghentikan kegilaan ini sebelum suaminya semakin menjadi.


"A-aku berjanji, aku berjanji tidak akan mengatakan itu lagi!"


Cup, Atha mengecup kening Syifa lalu menghentikan apa yang tadi dia lakukan walaupun dia senang melakukannya.


"dasar mesum! Bisa-bisanya kau seperti itu di mobil orang lain,"


"Memangnya kenapa, Sayang? Di sini semua bebas untuk dilakukan!"


Syifa berdecak kesal, walaupun negara bebas, tetapi mereka juga harus punya etika di hadapan orang lain.


Tidak berselang lama, sampailah mereka kesebuah hotel yang akan menjadi tempat istirahat mereka. Atha menggandeng tangan Syifa untuk masuk ke dalam hotel walaupun wanita itu berusaha untuk menolak.


"Kalau kau hilang, aku tidak akan mencarimu!"


Akhirnya Syifa menyerah untuk menarik tangannya, dia membiarkan lelaki itu melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Atha lalu berbicara pada resepsionis untuk memberitahukan kamar yang sudah dia pesan sebelumnya, lalu resepsionis itu memanggil salah satu karyawan untuk mengantar mereka ke kamar.


"Silahkan, Tuan, Nyonya! Jika butuh sesuatu, silahkan hubungi kami!"


Syifa mengucapkan terima kasih pada karyawan itu dan berlalu masuk ke dalam kamar, matanya membulat sempurna saat melihat hamparan pantai yang sangat indah terlihat jelas dari jendela kamar mereka.


"Ya Allah, indah sekali!"

__ADS_1


Syifa berlari ke balkon kamarnya untuk melihat pemandangan indah itu, sementara Atha berjalan pelan dan memeluk tubuhnya dari belakang.


"Apa kau suka?"


Hembusan napas Atha terasa menyapu leher Syifa membuat darahnya berdesir, dia tau benar kalau Atha pasti akan kembali meminta jatah padanya.


"A-Atha, aku, aku sangat lelah! Bisakah kita melakukannya besok saja," ucap Syifa dengan jujur, dia memang merasa sangat lelah dan ingin segera istirahat.


Atha langsung menggendong tubuh Syifa dan membawanya ke atas ranjang, sungguh dia sudah sangat candu dengan tubuh istrinya itu.


"Atha, aku,"


"ssstt, kau cukup menikmatinya saja, Sayang! Biarkan aku yang bekerja!"


Atha segera melucuti pakaian Syifa tanpa bisa dicegah lagi, wanita itu hanya bisa pasrah dan membiarkan apa yang suaminya inginkan.


Setelah 1 jam berlalu, akhirnya Atha tumbang di samping Syifa yang langsung tertidur setelah memuaskan suaminya.


Atha menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuh Syifa agar terlindungi dari mara bahaya, dia lalu bangun dan mengambil minum dikulkas mini yang ada di kamar itu.


"Hah, kau benar-benar membuatku tergila-gila, Syifa! Bukan hanya karna cintaku, tetapi tubuhmu juga!"


Atha meletakkan botol minuman yang sudah kosong ke atas kulkas dan kembali naik ke ranjang, dia masuk ke dalam selimut dan mendekap tubuh Syifa dengan erat.


Kedua mata Atha terpejam menyusul istrinya yang sudah memasuki alam mimpi.


Pada saat yang sama, Sita juga sedang terlelap di kamarnya. Perjalanan panjang membuat sekujur tubuhnya menjadi sangat lelah, dia tertidur pulas tanpa menyadari kalau suaminya sudah pergi entah ke mana.


"Aku akan mengajak istriku ke sini tepat pukul 8 malam, jadi kalian harus menyiapkannya sebelum aku datang!"


Beberapa orang yang ada di tempat itu menganggukkan kepala mereka, setelahnya Rafa pergi dari sana untuk kembali ke kamar.


Langkah Rafa terhenti saat menyadari kalau sejak tadi ada seseorang yang mengikutinya, dia berbalik dan memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.


"Aku yakin kalau sejak tadi ada yang terus mengikuti!"


Rafa kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar dengan perasaan yang tidak menentu, sementara seorang lelaki yang berada di balik dinding sedang mengepalkan kedua tangannya.


"Cih, kau lihat saja, Rafa! Aku tidak akan membiarkan rencanamu berjalan dengan lancar! Kau sudah merebut Sofia dariku, maka jangan salahkan aku jika aku bersikap kasar padamu!"


Danish berbalik dan kembali berjalan ke kamarnya, dia harus menyusun rencana agar bisa menggagalkan acara yang sedang Rafa siapkan.


Sita mulai menggeliatkan tubuhnya saat merasa ada seseorang yang menciumi wajahnya, dia mengerjapkan kedua matanya dan terkejut saat wajah Rafa berada tepat di depan wajahnya.

__ADS_1


"M-Mas! apa, apa yang kau lakukan?"


"Kau sudah bangun?"


Cup, Rafa mengecup bibir Sita sembari membantunya untuk bangun, wajah Sita bersemu merah atas apa yang telah dia lakukan.


"Mas mau ke mana?"


Sita memperhatikan pakaian yang Rafa pakai, lelaki itu terlihat sangat tampan dan juga rapi dengan setelan kemeja berwarna navy.


"aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, sekarang mandi, dan bersiaplah!"


"Sekarang, Mas?"


Rafa menganggukkan kepalanya, dia lalu turun dari ranjang dan mengambil sebuah kotak yang ada di atas meja.


"Ini ... apa Mas?"


Sita memperhatikan kotak yang Rafa berikan padanya, kemudian lelaki itu memberi isyarat untuk membukanya.


"Ga-gaun? Masya Allah, ini indah sekali, Mas!"


Sita mengangkat gaun berwarna putih dengan hiasin permata biru yang sangat cantik dan elegan. "Ini untukku?"


"Tentu saja! Pakailah ini, dan aku akan menunggumu bersiap!"


Syifa menganggukkan kepalanya dan membawa gaun itu ke dalam kamar mandi, sekilas dia berpikir untuk apa Rafa menyuruhnya memakai gaun yang sangat cantik itu, tetapi dia menepis segala pemikiran karna sedang diburu waktu.


Beberapa saat kemudian, Sita sudah siap dengan gaun yang terlihat pas ditubuhnya. Dia berjalan dengan malu-malu ke arah Rafa yang terus melihatnya dengan tajam.


"ba-bagaimana, Mas? Apakah gaun ini cocok ditubuhku?" tanya Sita dengan ragu-ragu.


"Kesempurnaan memang milik Allah, tapi Dia menciptakanmu dengan sesempurna mungkin, hingga aku tidak sanggup untuk mengedipkan kedua mataku, Sita!"





Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2