
Syifa membuka pakaian tepat dihadapan wanita itu dan menampakkan tubuh seksinya sampai wanita itu tercengang, sementara Atha sendiri juga merasa kaget dengan apa yang Syifa lakukan.
"Lihat! Apakah menurutmu, Atha tidak akan puas dengan tubuhku ini?"
Nathalie mengepalkan kedua tangannya, dia tidak bisa membantah ucapan Syifa karna memang tubuh wanita itu sangat padat dan sempurna.
Syifa merutuki apa yang baru saja dia lakukan, dia tidak tau entah setan apa yang baru saja merasukinya hingga melakukan hal bod*oh seperti itu.
"Ya Allah, apa yang sedang aku lakukan?"
Syifa segera meraih pakaiannya dan kembali memakainya sebelum kegilaannya semakin menjadi-jadi.
Atha menelan salivenya saat melihat tubuh Syifa yang hanya menggunakan bra dan segitiga bermuda saja, dia lalu berlari mendekati istrinya dan memeluknya erat.
"jangan ditutup, aku menyukainya, Sayang! Aku sangat menyukainya!"
"A-Atha, apa yang kau- eemmp!"
Syifa tidak bisa melanjutkan ucapannya karna bibirnya sudah dilummat oleh Atha, lelaki itu langsung melempar pakaian yang ada ditangan Syifa dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"A-Atha- eemmp, aah!"
Syifa yang ingin menyadarkan Atha kalau masih ada orang lain di apartemen itu tidak bisa melepaskan ciuman lelaki itu, dia lalu menggigit bibir Atha sampai laki-laki itu mengerrang karnanya.
"Aarrgh! Kau agresif sekali, Sayang! Aku menyukainya!"
Akhirnya ciuman mereka terlepas, dada Syifa dan Atha naik turun karna sedang menghirup oksigen untuk pernapasan mereka.
"A-Atha, dia-"
Atha yang baru sadar kalau masih ada Nathalie di tempat itu beralih melihat ke wanita itu, terlihat Nathalie mengepalkan tangannya dengan wajah merah padam melihat hidangan yang baru saja mereka suguhkan untuknya.
"Lebih baik kau sekarang pergi, karna aku sudah tidak tahan ingin bercinta dengan istriku!"
Nathalie langsung berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun pada mereka, dia merasa dadanya sedang terbakar hingga tidak sanggup lagi berada di tempat itu.
Brak! Atha langsung mengganti password apartemennya begitu Nathalie keluar dari sana, dia tidak ingin lagi siapapun masuk ke dalam rumahnya tanpa izin.
"Sayang, kau mau ke mana?"
Atha mengejar langkah Syifa yang sudah menaiki tangga, dia menahan tangan wanita itu tetapi langsung ditepis olehnya.
__ADS_1
"jangan sentuh aku! Pergi saja dengan wanita itu!"
"Ap-apa?"
Syifa kembali berjalan masuk ke dalam kamar, dia mengunci kamar itu dan merebahkan diri ke atas ranjang.
"Astaghfirullah, apa yang sudah terjadi padaku?"
Syifa lalu kembali bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi, dia harus menenangkan diri dan meminta ampunan pada sang Ilahi.
Atha yang baru sadar kalau Syifa sudah tidak ada di hadapannya segera menyusul masuk ke dalam kamar, sesuai dugaan, istrinya itu pasti akan mengunci pintu.
"Ck! Kentang sekali sih!"
Atha meremmas rambutnya dengan kasar, dia mencoba untuk menahan segala hasrat yang sudah sampai ke ubun-ubunnya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Atha membuka pintu kamarnya dengan menggunakan kunci cadangan. Perlahan dia masuk dan mencari keberadaan sang istri.
Deg, jantung Atha berdebar kencang saat melihat Syifa sedang duduk di atas sajadah dengan menggunakan mukenah lengkap. Dia lalu mendekati Syifa dengan pelan karna tidak mau mengganggu konsentrasi wanita itu.
Suara dzikir Syifa terdengar lirih ditelinga Atha membuat jantungnya semakin berdebar keras, dia juga melihat air mata yang berhasil lolos dari sudut mata sang istri.
"Maafkan aku, Syifa! Maafkan aku!"
"A-Atha? Apa yang sedang kau lakukan?"
Syifa mencoba untuk menyingkirkan kepala Atha yang bersandar dibahunya, tetapi seketika dia langsung berhenti saat mendengar suara rintihan lelaki itu.
"Maafkan aku, Syifa! Aku telah melukai hatimu, aku, aku telah membuatmu bersedih! Maafkan aku!"
Untuk pertama kalinya, Atha menangis karna merasa tidak bisa menepati janjinya. Dia berjanji untuk selalu membuat Syifa bahagia, tapi sekarang dia malah membuat wanita itu terluka.
"Maafkan aku!"
Syifa terdiam mendengar kata-kata maaf yang terus Atha ucapkan, dia tidak menyangka kalau Atha sampai menangis seperti itu.
Dia lalu membalikkan tubuhnya dan menggenggam wajah Atha membuat lelaki itu melihat ke arahnya.
"Kenapa kau menangis? Aku, aku tidak marah padamu!"
Syifa mengusap air mata yang masih membekas diwajah Atha, dia bahkan mengecup kening lelaki itu tanpa dia sadari.
__ADS_1
"aku telah membuatmu menangis, Syifa! Aku tidak bisa menjaga janjiku,"
"tidak! Aku menangis bukan karnamu, tapi, tapi karna diriku sendiri. Aku telah melakukan hal bod*oh dan mempermalukan diriku sendiri," lirih Syifa, dia kembali menundukkan wajahnya karna merasa malu pada lelaki itu.
"Tidak, Sayang! Kau tidak seperti itu, aku bangga pada apa yang kau lakukan. Aku senang karna kau membela dirimu sendiri dan mempercayai aku, sungguh Syifa, aku sangat bahagia!"
Cup, Atha mengecup kening Syifa membuat wanita itu menutup kedua matanya. Mereka sama-sama meresapi hangatnya cinta yang sedang mengalir dalam diri masing-masing.
"apa aku boleh melakukannya?" tanya Atha dengan lirih, dia ingin sekali menyatu dengan Syifa saat ini juga.
Syifa tidak menjawabnya, tetapi rona merah yang ada diwajahnya membuat Atha senang dan langsung mengangkat tubuh Syifa ke atas ranjang. Akhirnya mereka kembali melakukan penyatuan dengan penuh cinta, Atha merasa bahagia karna kini Syifa sudah mulai menerima keberadaannya.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Rafa dan Sita sedang menyusun barang-barang mereka. Tepat pukul 2 siang, mereka sudah harus berangkat ke Dubai jadi sekarang saatnya mereka pergi ke bandara.
"Kabari Kakak kalau sudah sampai sana yah, dan jangan lupa jaga kesehatan!"
Rafa dan Sita menganggukkan kepala mereka, kemudian menyalim tangan Sean secara bergantian.
"Semoga setelah honeymoon, kita mendapat kabar baik dari keponakanku!"
Wajah Sita bersemu merah saat mendengar ucapan sang Kakak. "Insyaallah, Kak!"
Rafa juga mengaminkan ucapan Kakak iparnya itu, walaupun dia masih ragu apakah bisa menjadi orangtua yang baik untuk anaknya kelak.
"Baiklah, kalian hati-hati di sana! Dan kau Rafa, jangan terlalu keras pada adikku. Seenggaknya biarkan dia istirahat sebentar!"
Sean mengedipkan sebelah matanya membuat Sita langsung masuk ke dalam mobil, sementara Rafa hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu duduk di samping Sita.
Dari kejauhan, terlihat seorang lelaki sedang memperhatikan mereka dengan sebelah tangan menggenggam ponsel.
"Mereka sudah pergi, Tuan!"
"Bagus, tetap awasi Sean!"
"Baik, Tuan!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘