Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 49. Kabar Buruk.


__ADS_3

"Ti-tidak Tuan, saya dinyatakan tuli oleh Dokter, sumpah!"


Sean menajamkan pandangannya saat mendengar perkataan wanita itu. "Apa dia pikir aku ini bod*oh? Bagaimana mungkin dia dinyatakan tuli sementara dia bisa mendengar pertanyaanku tadi?"


Sudahlah, Sean tidak ingin membahas masalah yang tidak penting. Saat ini dia harus menyusun rencana untuk membalas dendam atas apa yang telah terjadi pada Sita dan juga Rafa.


Pada saat yang sama, Atha dan Syifa sedang tertidur pulas di kamar mereka setelah menyelesaikan 4 ronde permainan.


Atha benar-benar menggempur Syifa dan tidak mengizinkannya untuk turun dari ranjang, dia selalu ingin menikmati tubuh istrinya itu lagi dan lagi.


Tiba-tiba, dering ponsel berhasil mengganggu ketenangan tidur mereka. Syifa mulai mengerkapkan kedua matanya dan menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.


"Atha, bangun!"


"Eemmhh ... ada apa Sayang?"


Atha menggeliatkan tubuhnya dan semakin mengeratkan pelukannya membuat Syifa berdecak kesal, dia lalu mencubit lengan lelaki itu sampai kedua mata Atha terbuka lebar.


"Ponselmu bunyi terus tuh!"


Atha membalikkan tubuhnya dan mengambil ponsel yang ada di atas meja, dia mengernyitkan keningnya saat melihat siapa yang menelponnya pagi buta seperti ini.


"Mau apa sekretaris Soni menghubungiku?"


Atha segera mengangkat panggilan masuk dari Soni. "Halo, ada apa Tuan Soni?"


Syifa yang mendengar nama seseorang disebut tidak jadi memejamkan kedua matanya, dia kini menghadap ke arah Atha yang tampak serius.


"Ap-apa yang terjadi?"


Atha sangat terkejut dengan kabar yang Soni katakan, wajahnya memucat saat mendengar apa yang telah terjadi pada Sita dan juga Rafa.


Syifa yang terkejut dengan teriakan Atha beralih duduk di samping lelaki itu, dia memperhatikan raut wajah suaminya yang tampak sangat panik dan gelisah.


"Baiklah, katakan pada Tuan Sean kalau aku akan mengatur semuanya!"


Tut, panggilan itu langsung terputus saat Atha mengiyakan perintah dari Sean. Dia lalu membanting ponselnya membuat Syifa terjingkat kaget.


"a-ada apa, Atha?" tanyanya dengan takut, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Kita harus segera bersiap untuk pulang, Sayang!"

__ADS_1


Atha turun dari ranjang dan menyambar handuk yang ada disudut meja, sementara Syifa masih memproses apa yang dia katakan.


"Pu-pulang? Kenapa?"


Atha yang sudah berjalan ke arah kamar mandi menghentikan langkahnya, dia berbalik dan melihat ke arah sang istri.


"temani aku mandi dulu, baru aku kasi tau semuanya!"


"Apa?"


Atha menaik-turunkan alisnya bermaksud menggoda Syifa, tetapi wanita itu malah melempar bantal tepat ke tubuhnya.


"cepat kasi tau ada apa?" teriak Syifa, dia merasa kesal karna dalam keadaan seperti ini tetapi Atha tetap mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Hah!"


Atha menghela napas kasar, entah harus bagaimana dia menceritakan semuanya pada istrinya itu. Dia lalu kembali berjalan ke ranjang dan duduk di ujung ranjang tersebut.


"ada sedikit musibah, Sayang! Jadi kita harus-"


"Apa terjadi sesuatu pada Sita dan Mas Rafa?"


Atha terdiam, tebakan istrinya sangat tepat sasaran. Dia lalu memegang kedua bahu Syifa dengan erat sembari memandang kedua mata indahnya, dan sedetik kemudian dia menganggukkan kepalanya.


Atha langsung memeluk tubuh Syifa membuat istrinya itu semakin terisak, dia harus menenangkan istrinya sebelum menceritakan apa yang sudah terjadi pada Sita dan juga Rafa.


"Cepat katakan! Apa yang terjadi pada mereka?"


Syifa memberontak dan mencoba untuk mendorong tubuh Atha, tetapi lelaki itu malah semakin kuat memeluk tubuhnya.


"kalau kau terus seperti ini, aku tidak akan mengatakannya, Syifa!" ancam Atha.


Syifa terdiam, dia mencoba untuk mengendalikan emosinya agar Atha mau memberitahu apa yang terjadi pada sahabatnya.


"Gitukan cantik!"


Atha mulai merenggangkan pelukannya, tetapi kedua tangannya masih menempel dibahu Syifa.


"sekarang katakan! Apa yang terjadi pada Sita dan Mas Rafa?" tanya Syifa kembali, sekuat tenaga dia menahan gejolak air mata yang sudah menggenang dimatanya.


"mereka, mereka terkena musibah, Sayang! Ada, ada seseorang yang mencoba untuk menculik Sita,"

__ADS_1


"apa? Men-menculik?" teriak Syifa dengan histeris. "La-lalu, apa, apa yang terjadi pada Sita?" Syifa mengguncang tubuh Atha agar segera memberitahunya.


"saat ini, Sita dan Rafa sedang berada di rumah sakit!"


"Ya Allah ...!"


Syifa merasa lemas dan terjatuh dalam pelukan Atha saat mendengar semua itu, dan Atha langsung membenamkan kepala istrinya ke dadanya sembari mencoba untuk memberi ketenangan pada istrinya itu.


"Kenapa? Kenapa, ya Allah?"


Syifa benar-benar merasa hancur, dia merasa kasihan melihat nasib Sita yang selalu saja disakiti oleh orang lain.


"tenangkan dirimu, Sayang! Aku yakin kalau Sita dan Rafa baik-baik saja, kau juga harus yakin itu!" ucap Atha, dia mengusap air mata yang masih mengalir di mata Syifa.


"Ta-tapi kenapa, Atha? Huhuhu, kenapa, hiks, kenapa mereka selalu berbuat jahat pada Sita? Hiks, kenapa?"


Atha merasa sangat sakit melihat keadaan Syifa seperti ini, dia mengerti kalau istrinya itu pasti sangat hancur melihat sahabatnya selalu berada dalam bahaya.


"Kau lihat saja, Danu! Aku akan membuatmu menangis darah karna telah membuat istriku seperti ini!"


Atha mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dia akan mempertaruhkan nyawanya untuk membalaskan dendam keluarga Sean pada bajing*an itu.


Setelah merasa lebih baik, Syifa segera menyusun semua barang-barangnya ke dalam koper karna mereka akan segera pergi dari negara itu.


Dia dan Atha akan langsung berangkat ke Dubai pagi ini untuk melihat bagaimana keadaan Sita dan juga Rafa.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Danu sangat murka saat mengetahui apa yang putranya lakukan. Dia tidak menyangka kalau Danish akan melakukan hal seperti itu.


"Apa kau tidak punya pikiran? Hah! bagaimana mungkin kau melakukan semua itu?"


Teriakan Danu menggema diruang kerjanya saat sedang berbicara melalui telpon dengan Danish, semua anak buahnya hanya bisa menundukkan kepala mereka melihat kemarahannya saat ini.


"jawab Papa, Danish!"


"Karna aku mencintai Sofia, sampai matipun aku akan tetap mencintainya!"




__ADS_1


Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2