
Sean dan Rafa membawa Sita ke rumah sakit, dan benar saja. Setelah diperiksa Dokter, Sita baik-baik saja dan hanya kelelahan.
Sean dan yang lainnya bernapas lega saat mendengarnya, kemudian dia keluar dari ruangan Sita untuk membicarakan hal penting dengan Soni.
Rafa yang sedang duduk di samping ranjang tidak bergerak, dia ingin menemani Sita yang masih terlelap di atas ranjang tersebut.
Berbagai pertanyaan mengular dibenak Rafa, apalagi saat melihat sosok wanita itu di tengah kerumitan hidupnya bersama keluarganya sendiri.
Ada rasa lain yang menggelitik hati Rafa saat ini, apalagi dia semakin intens memperhatikan wajah teduh Sita yang memberi ketenangan pada siapa saja yang melihatnya.
Namun, seketika Rafa mengalihkan pandangannya saat melihat Sita mulai mengerjapkan mata. Dia sedikit mundur untuk mengambil jarak, karna sejak tadi kakinya menempel diranjang sangking dekatnya.
"ya Allah, sakit sekali kepalaku!" keluh Sita sembari berusaha untuk bangun.
Rafa yang melihat itu tidak tinggal diam, dia segera bangkit dan menahan tubuh Sita yang berusaha untuk duduk.
Sita terkejut dengan sebuah tangan yang melingkar ditubuhnya, dia lalu melihat ke arah samping dan matanya bertemu dengan manik hitam Rafa.
Untuk beberapa saat mereka saling pandang, mata bulat dengan warna coklat terang bertemu dengan manik hitam yang membuat siapa saja bisa tenggelam karnanya.
Tangan Sita mencengkram lengan Rafa, sementara lelaki itu tetap menahan tubuh Sita melalui tangan sebelah kirinya.
Sean dan Soni yang sudah selesai bicara berjalan masuk ke dalam ruangan, mereka lalu terpaku di depan pintu saat melihat pemandangan itu.
"Sepertinya sebentar lagi aku akan menggelar acara resepsi pernikahan, Paman!"
Soni tersenyum, dia menyetujui apa yang Sean katakan sembari mengukuti langkah lelaki itu.
Rafa yang mendengar derap langkah langsung tersadar, dia cepat-cepat menegakkan tubuh Sita dan menyanggah pungungnya dengan bantal.
Sita sendiri merasa sangat malu, dia memalingkan wajahnya ke arah samping sembari berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Kau sudah sadar, Sweetu?"
Sean berjalan mendekat, dia mengusap wajah Sita yang tersenyum terhadapnya sembari matanya melirik ke arah Rafa.
"tapi Kak, kenapa aku di sini?" Sita baru sadar kalau saat ini dia sedang berada di rumah sakit.
"tidak papa, kau hanya kelelahan! Dokter juga sudah memperbolehkanmu pulang!" jawab Sean.
Kemudian mereka semua keluar dari rumah sakit setelah Dokter kembali melakukan pemeriksaan, Sita meminta untuk diantar ke rumah Ammar karna masih ada pekerjaan yang harus dia lakukan.
"Tapi kau tidak bolah terlalu lelah, Sweetu! pikirkan kesehatanmu!"
Sita menganggukkan kepalanya, dia berjanji pada sang Kakak kalau tidak akan terlalu banyak bekerja.
Sesampainya di rumah Ammar, Sean dan Soni langsung kembali ke perusahaan, sementara Sita dan Rafa tinggal di rumah itu.
"Ya Allah, Kak!"
__ADS_1
Ammar yang melihat Rafa langsung berjalan cepat dan memeluk tubuh lelaki itu, banyak pasang mata yang menatapnya bingung, terutama seluruh keluarga yang ada di tempat itu.
"Sita, ada apa dengan mereka?" tanya Zulaikha, untuk pertama kalinya dia melihat Ammar seperti itu.
Sita hanya mengendikkan bahunya saja, dia tidak ingin mengatakan apa yang sudah terjadi pada Rafa.
"Syukurlah Kakak baik-baik saja!"
Ammar melerai pelukannya, terlihat Rafa tersenyum lebar ke arahnya sembari menepuk bahunya.
Sita yang masih merasa canggung beralih ke kamar Syifa untuk menemui gadis itu, dia juga ingin melihat sudah sampai mana persiapan pernikahan yang akan terjadi 2 hari lagi.
"Hari ini desainer akan datang untuk mengukur gaun resepsi dan akad!"
Itulah jawaban Syifa ketika Sita bertanya tentang persiapannya, ternyata Atha memang sudah mempersiapkan semuanya hingga Syifa tidak perlu lagi pergi keluar.
"Atha benar-benar hebat, dia sudah menyiapkan segalanya!" ucap Sita, dia melirik ke arah Syifa yang memandangnya dengan sebal.
"kenapa? kan yang aku katakan memang benar!" sambungnya.
"Iya sih, tapi semua terjadi begitu cepat!"
Syifa menghela napas kasar, dia tidak menyangka kalau lusa sudah menjadi istri orang, apalagi suaminya adalah manusia seperti Atha.
Sita tertawa menanggapi ucapannya, dia lalu berlalu keluar untuk mengerjakan sesuatu yang lain.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
Sita yang sudah ingin berlalu kembali melihat ke arahnya. "Bertanya apa?" Raut wajah Sita tampak sangat penasaran.
"Aku ingin menyebar undangan untuk kolega bisnis Ammar, apa undangannya sudah siap?"
Sita menganggukkan kepalanya, dia lalu meminta Rafa untuk mengikutinya mengambil undangan tersebut.
"ayo, kita pergi!" ajak Sita.
Rafa mengerutkan keningnya, dia hanya meminta undangan dan bukan meminta untuk ditemani.
"Aku akan pergi sendiri!" Rafa menyambar paper bag yang ada ditangan Sita.
"kenapa? Aku kan bisa ikut membantu!" Sita ingin ikut bersamanya, karna tugas menyebar undangan itu adalah tugasnya.
"Kau harus istirahat! Apa kau tidak-"
"sudah, ayo kita pergi! nanti terlambat."
Rafa terpaku melihat Sita yang berjalan ke arah mobilnya, dia baru mengetahui sifat asli dari wanita yang selama ini dia anggap pendiam.
Tidak mau semakin membuang waktu, Rafa mengikuti saja apa yang Sita inginkan, walaupun nanti dia akan menyuruh wanita itu untuk menunggu di dalam mobil.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain terlihat Atha sedang sibuk menyiapkan sesuatu yang akan dia berikan untuk Syifa.
Dia memilih semua perhiasan dan segala macamnya sendiri, bahkan dia sudah meminta desainer untuk menyiapkan bahan khusus untuk gaun yang akan dipakai oleh Syifa.
"kau benar-benar mencintai wanita itu ya, Atha!" seru seorang desainer yang saat ini ada dihadapannya.
"tentu saja! Jadi kau harus menyiapkan gaun itu dengan sebaik mungkin!"
"Cih! dasar kau tidak waras, kau selalu saja menyusahkanku!" Desainer itu merasa kesal, karna Atha memintanya untuk menyiapkan 3 gaun dalam waktu 2 hari.
Atha merasa tidak peduli, dia berlalu pergi dari butik itu karna masih ada banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.
Desainer yang berbicara dengan Atha tadi juga langsung berangkat untuk menemui Syifa, dia benar-benar merasa kesal karna masih disuruh untuk menemui wanita itu.
Sesampainya di rumah Ammar, Zulaikha segera mengantarnya ke kamar Syifa untuk mengukur tubuh sang calon pengantin.
"apa gaunnya benar-benar bisa selesai tepat waktu?" tanya Syifa di sela-sela pengukuran tubuhnya.
"Calon suamimu bisa membunuhku kalau aku tidak menyelesaikannya!" Suaranya terdengar marah, ketus dan penuh kesal.
"tapi kau tenang aja cantik, aku akan menyiapkan semuanya dan akan mengubahmu menjadi seorang bidadari!" sambungnya dengan senyum lebar.
Syifa merasa lega, walaupun dia tidak menginginkan pernikahan ini, tetapi dia juga tidak sanggup untuk menahan malu jika gaunnya tidak selesai tepat waktu.
"lalu, kainnya bagaimana?" tanya Zulaikha yang sejak tadi ada di tempat itu.
"Atha sudah memilihkan jenis kain yang akan dipakai, bahkan 3 gaun yang akan ku buat atas pilihannya semua,"
"benarkah?" tanya Syifa dan Zulaikha bersamaan, mereka tidak percaya kalau Atha sampai mempersiapkan jenis kain yang akan dipakai Syifa.
Desainer itu mengangguk. "Benar! Dia pintar sekali memilih kain yang bagus, tapi kalau kalian memang ingin kain yang lain, kata Atha tidak apa-apa!"
"tidak perlu, aku akan memakai apa yang dia siapkan!" ucap Syifa, dia ingin melihat seberapa jauh Atha menyiapkan semuanya.
"Kau sangat beruntung, cantik! padahal Atha tidak pernah serius dengan wanita manapun, tapi sekarang, dia terlihat sangat mencintaimu!"
Syifa terdiam, dia merasapi kata demi kata yang Desainer itu ucapkan. Mencoba untuk membuka hati menerima kahadiran Atha dalam hidupnya.
"Baiklah, aku akan mencoba menerima semua pemberianmu, Atha! Kalau kau memberi cinta, semoga aku bisa membalasnya! tapi jangan berharap banyak, karna sepertinya, aku sendiri tidak bisa mengendalikan hatiku!"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
__ADS_1