
Zulaikha jatuh pingsan karna mendengar kabar yang langsung membuat jiwanya terguncang, untung saya Ammar sempat menangkap tubuhnya sebelum jatuh membentur lantai.
"Astaghfirullah! bangun, Sayang!"
Ammar menepuk-nepuk pipi Zulaikha untuk menyadarkannya sementara yang lain ikut terkejut dengan apa yang terjadi.
"ayo bawa istri anda masuk, Tuan!"
Dokter itu membuka pintu ruangan Syifa dan menyuruh Ammar untuk membawa istrinya ke dalam karna dia ingin memeriksa kondisi wanita itu.
Ammar meletakkan Zulaikha di atas sofa yang langsung diperiksa oleh Dokter, sementara Atha dan Sean melihat keadaan Syifa yang terbaring di atas ranjang.
"siapa yang telah melakukan semua ini?"
tiba-tiba Sean bertanya pada Atha tanpa mengalihkan pandangannya, dia tetap melihat kearah Syifa dengan hati terasa sesak.
"Tomi, dia anak dari Tuan Baskara!" suara Atha lirih terdengar, matanya menatap tajam kearah tangan Syifa yang banyak terdapat luka lebam.
"bajingan itu! awas saja dia, aku akan membuatnya menyesal telah melakukan semua ini!"
Bagi Sean, Syifa sama seperti adiknya sendiri. Apalagi selama ini Syifa sudah sangat baik pada Sita, membuat Sean banyak berhutang budi padanya.
"tidak perlu! biar aku saja yang membunuh mereka!"
Sean mengalihkan pandangannya kearah Atha, terlihat jelas kebencian dan dendam yang terpancar diwajah lelaki itu.
"Aku sudah menganggap Syifa sebagai adikku sendiri, dan aku mengerti perasaan seperti apa yang kau rasakan!"
Sean menepuk bahu Atha untuk memberikan semangat padanya, entah kenapa sejak bergabung dengan keluarga Ammar, Sean berubah menjadi seseorang yang lebih hangat dan perhatian.
Atha terdiam, tangannya terkepal erat karna kembali mengingat keadaan saat pertama kali dia menemukan Syifa.
"Aku akan membunuh mereka!"
Sean yang sudah berjalan beberapa langkah mendekati Ammar kembali menghentikan langkahnya, dia berbalik dan melihat kearah lelaki itu.
Ammar dan seorang Dokter yang juga berada diruangan itu beralih melihat kearah Atha saat mendengar ucapannya, bahkan Ammar sampai bangun dan menghampiri lelaki itu.
"kau, kau bilang apa, Atha?"
"tentu saja, mereka memang harus dibunuh! aku akan atur semuanya."
Ammar beralih melihat tajam kearah Sean, sungguh dia tidak habis pikir kenapa dua lelaki itu sangat mudah mengatakan ingin menbunuh seseorang.
"aku sudah melaporkannya pada polisi, pihak kepolisian akan-"
__ADS_1
"tidak perlu! orang-orang biada*ab seperti mereka tidak pantas untuk dipenjara, tapi lebih pantas untuk mati!"
Ammar tidak dapat melanjutkan ucapannya karna sudah dipotong oleh Atha, dia yakin kalau saat ini lelaki itu sangat serius dengan apa yang dia katakan.
"aku mengerti bagaimana perasaanmu, Atha! dan kami juga merasakan rasa sakit atas kejadian ini, apalagi istriku, dia merasa benar-benar hancur! dan bukan itu saja, dia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri karna merasa gagal menjaga adik-adiknya,"
Suara Ammar bergetar saat memikirkan bagaimana kondisi istri dan keluarganya, dia merasa Allah sedang memberikan cobaan bertubi-tubi pada mereka.
"kita memang merasa sakit dan hancur, tapi bukan berarti kita bisa membunuh mereka begitu saja,"
"lalu, kita harus menyerahkan mereka pada polisi, yang hanya akan dihukum selama 3 sampai 5 tahun saja!"
Potong Atha, dia merasa tidak setuju dengan apa yang Ammar katakan. Lebih baik dia sendiri yang membunuh mereka walaupun dia harus menerima konsekuensinya.
"dia benar, Ammar! bahkan kalau bukan dia yang membunuh mereka, maka aku sendiri yang akan melakukannya!"
Bagi seorang Sean, bunuh-membunuh bukanlah hal baru dalam dunianya. Selain terkenal menjadi pengusaha nomor 1, dia juga terkenal akan kebringasannya dalam dunia mafia.
"bukan seperti itu! aku paham kalau saat ini kita sedang berduka, tapi kita juga tidak boleh membunuh orang lain. Apa kata Syifa nanti kalau dia tau kalian telah membunuh mereka, dia pasti akan merasa-"
"senang! itulah yang akan dia rasakan, atau dia ingin melihat mereka hancur terlebih dahulu?"
Ammar terdiam dan tidak bisa lagi berkata apa-apa, sejujurnya dia juga merasa sedih dengan apa yang terjadi saat ini. Tapi dia juga tidak bisa membenarkan perbuatan yang akan mereka lakukan.
Dokter yang sejak tadi sudah selesai melakukan pemeriksaan melihat kearah 3 lelaki yang masih bersitegang dia beranjak bangun dan berjalan mendekati mereka.
"memangnya kau tau apa? hah! apa kau tau rasanya melihat seseorang yang kau cintai diperlakukan seperti binatang oleh mereka?"
Atha merasa tidak senang dengan keikut-campuran Dokter itu, tekadnya sudah bulat untuk membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakiti Syifa.
"saya mengerti! sebagai seorang wanita, saya paham betul apa yang pasien saya rasakan!"
"tidak! kau tidak akan mengerti,"
bantah Atha, menurutnya saat ini tidak akan ada yang mengerti bagaimana sakitnya berada diposisi Syifa.
"aku mengerti karna aku juga merasakannya!"
deg, semua orang terdiam saat mendengar apa yang Dokter cantik itu katakan.
"aku juga mengalami seperti apa yang gadis itu alami, aku merasakan sakit dan hancur secara bersamaan sama sepertinya, dan aku merasa semakin hancur saat orang yang aku cintai dihukum karna telah membunuh orang yang telah menodaiku!"
Akhirnya Dokter itu bercerita kalau beberapa tahun lalu dia juga dilecehkan oleh beberapa orang, dan kekasihnya membalas dendam pada orang-orang tersebut dengan membunuh mereka.
"kekasihku dihukum seumur hidup atas apa yang telah dia lakukan, dan itulah puncak dari kehancuran hidupku!"
__ADS_1
Dokter itu lalu kembali duduk di samping Zulaikha yang ternyata sudah sadarkan diri.
"seseorang dihukum karna perbuatannya diketahui! dan aku, akan membunuh mereka tanpa ada satu orang pun yang tau!"
"sebuah bangkai akan tetap tercium baunya walaupun tidak secara langsung, aku harap anda tidak melakukan kesalahan itu!"
Dokter itu menatap Sean dengan tajam, dia tidak mau kalau lelaki itu nantinya akan dihukum seperti yang terjadi pada kekasihnya.
"Mas!"
Suasana yang tadinya hening dan penuh dengan ketegangan, berubah saat Ammar mendengar suara Zulaikha. Dia beralih mendekati sang istri sembari menggenggam erat kedua tangannya.
"apa kau sudah merasa lebih baik?"
Zulaikha menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ammar, dia lalu melihat kearah Dokter yang ada di sampingnya.
"anda harus banyak istirahat, Nyonya! saat ini anda tidak sendirian!"
Zulaikha dan Ammar mengerutkan kening mereka saat mendengar apa yang Dokter itu katakan.
"saya merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk merayakannya, tapi yang namanya anugrah dari Allah tetap harus disukuri. Saya ucapkan selamat untuk kalian, karna saat ini kalian akan menjadi orang tua!"
"ap-apa?"
Zulaikha dan Ammar saling pandang saat mendengar ucapan Dokter, mereka lalu kembali melihat kearah Dokter tersebut.
"saat ini Anda sedang hamil, Nyonya! jadi saya harap anda bisa menjaga kesehatan, pola makan, dan jangan terlalu banyak pikiran!"
Tangisan Zulaikha pecah saat mendengar penjelasan Dokter, Ammar segera memeluk tubuh istrinya itu dengan erat seraya ikut menangis haru karna berita tentang kehamilan Zulaikha.
"kenapa, Mas? kenapa di saat seperti ini? kenapa disaat Syifa mengalami musibah-"
"Sssttt! tidak baik bicara seperti itu, Sayang! semua ini adalah kehendak dari Allah, dan Dia telah memberikan kepercayaan yang besar pada kita. Kita harus bersyukur!"
Zulaikha semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Ammar, dia merasa bahagia sekaligus sedih dengan semua yang terjadi hari ini.
Tanpa mereka semua sadari, ternyata Syifa sudah sadar sejak 15 menit yang lalu, dan dia mendengar semua pertengkaran juga tentang kabar kehamilan sang Kakak.
"ya Allah, berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi semua ini! aku tidak mau menjadi beban untuk orang-orang yang aku sayangi!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih buat yang udah baca 😘