Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 28. Apa kau tidak akan menyesal?


__ADS_3

Restu pernikahan kini telah Rafa dapat, sekarang giliran mengatakan semuanya pada calon istrinya yang pasti akan membuat wanita itu sangat terkejut atau bahkan bisa saja dia sampai pingsan.


Rafa celingukan ke sana kemari mencari keberadaan Sita, biasanya matanya akan langsung menyorot wanita itu, tapi kini dia tidak bisa menemukannya di antara kerumunan orang.


"Kak, dari mana saja sih?"


Rafa memalingkan wajahnya, ternyata ada Ammar yang sedang berdiri di sampingnya dan itu pun dia tidak sadar.


"Apa kau melihat Sita?"


Kening Ammar berkerut, tumben sekali lelaki itu mencari Sita pikirnya. "Tadi dia masuk menemani Syifa ganti pakaian, nanti malam kan acaranya mau dilanjut lagi."


Rafa menganggukkan kepalanya dan berbalik hendak menemui wanita itu. Akan tetapi, baru selangkah berjalan dia kembali berbalik menghadap Ammar.


"kau sebenarnya kenapa, Kak?" tanya Ammar dengan heran, sudah sejak tadi hilang entah ke mana, sekarang malah terlihat seperti orang kebingungan.


"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu!"


Ammar bangkit, walaupun dia merasa bingung tapi dia tau kalau apa yang ingin Rafa katakan pasti hal penting. Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan acara pesta itu.


"Ada apa? Apa masalah yang kemarin belum selesai?"


Rafa menggelengkan kepalanya. "Bukan itu!"


"aku ingin mengatakan kalau, em ... kalau aku ingin menikahi Sita,"


"Ooh, menikahi Si- apa?"


Ammar kaget setengah mati, suaranya memenuhi ruangan itu membuat beberapa orang yang melintas sedikit terusik.


"Kau, kau bilang apa Kak?" tanyanya dengan tidak percaya, dia bahkan sampai mengguncang tubuh Rafa.


Rafa berdecak kesal melihat raut wajah Ammar yang sangat terkejut itu, dia lalu menceritakan semua niatnya pada lelaki itu. Dia juga menceritakan percakapannya dengan Sean.


"Astaghfirullahal'adzim, kalian benar-benar membuatku gila!"


Ammar memijat kepalanya yang berdenyut, kemaren Atha yang membuatnya hampir terkena serangan jantung. Sekarang malah dia kena serangan jantung beneran akibat ulah Rafa. Ada apa dengan para lelaki itu, pikirnya.


"aku sudah mengatakan semuanya padamu, tapi tenang saja. Aku dan Tuan Sean yang akan menyiapkan segalanya,"


"Tenang? Bagaimana aku bisa tenang kalau kalian seperti ini? Apa kalian sedang lomba nikah?"


Ammar menggertakkan giginya, apa sekarang sedang ada lomba nikah atau bagaimana. Sungguh dia tidak mengerti dengan semuanya.


"Ammar, jodoh itu berada ditangan Allah. Yah mungkin saja memang sudah begini jalan Takdirnya."

__ADS_1


Kepala Ammar semakin berdenyut, entah bagaimana dia akan mengatakan semua ini pada istrinya nanti.


"Tapi, apa Sita menerima ini? Apa dia mau menikah dengan Kakak?"


Ammar menatap curiga, jangan-jangan mempelai wanitanya sama sekali tidak tau mengenai hal ini. Sama seperti Atha dan Sifa waktu itu.


"Dia tau, hanya saja dia belum mengatakan iya atau tidak! Sudahlah, aku harus mencarinya sekarang!"


Rafa berbalik dan pergi ke kamar Syifa sementara Ammar terduduk disofa yang ada di sampingnya untuk menenangkan diri.


"Aku yakin kalau Zulaikha pasti akan pingsan kalau mendengar masalah ini!" Ammar semakin merasa pusing, dia lalu berjalan gontai untuk mencari Zulaikha karna dia harus segera mengatakan hal ini pada istrinya itu.


Rafa yang sudah berdiri di depan kamar Syifa mengetuk pintu, beberapa kali dia lakukan sampai seseorang membukakan pintu itu untuknya.


"M-Mas! a-ada apa?" tanya Sita dengan tergagap, entah kenapa melihat lelaki itu dia jadi merasa gugup.


"bisa kita bicara sebentar?" pinta Rafa.


Sita menganggukkan kepalanya, dia lalu kembali menemui Syifa untuk mengatakan kalau dia sedang ada urusan saat ini.


Rafa mengajak Sita ke rooftop, dia tidak ingin ada yang mengganggu pembicaraan mereka nantinya. Sementara Sita sendiri merasa bingung dan berdebar-debar, tetapi dia memilih diam dan mengikuti apa yang Rafa katakan.


"Ada apa Mas? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Sita setelah mereka berada di rooftop.


"Aku ingin membicarakan masalah tadi, kau taukan kalau aku tidak main-main dengan apa yang aku katakan?"


Sita menggangguk, dia mencoba untuk memahami apa yang lelaki itu inginkan walaupun debaran jantungnya sudah menggelegar.


"jadi, aku, aku akan menikah denganmu!"


"Apa? Ttapi kenapa? Bu-bukannya Kakakku sudah menyelesaikan semuanya?"


Terkejut dan terheran-heran, itulah yang Syifa rasakan saat ini. Bukankah Kakaknya sudah menemuinya dan menyelesaikan semuanya, tapi kenapa Rafa masih saja membahas tentang pernikahan?


"Kakakmu memang sudah menyelesaikannya."


Sita menatap bingung, lalu, untuk apa lagi kau membahas tentang pernikahan? Itulah yang terpancar diwajahnya saat ini.


Rafa menarik sedikit sudut bibirnya membentuk senyum tipis. "Dia mengatakan kalau aku harus menikahimu secepatnya!"


"Apa? Itu, itu tidak mungkin!"


Bola mata Sita membulat sempurna, dia tidak percaya kalau Kakaknya akan melakukan hal seperti itu.


"Itu benar, aku sudah mendapat restu dari Tuan Sean. Jadi, aku mengatakannya padamu!"

__ADS_1


Sita memijat pelipisnya, ini terlalu mengguncang jiwanya sampai dia tidak bisa untuk mengucapkan apa-apa lagi.


"Kau tidak apa-apa? Apa kepalamu sakit lagi?"


Rafa yang melihat Sita memegangi kepala refleks menahan tubuh wanita itu hingga tubuh mereka berdempetan dengan mata yang saling menatap.


"Kau tidak apa-apakan?"


Sita yang tersadar langsung mendorong tubuh Rafa, dia menganggukkan kepalanya dengan wajah tertunduk.


Jujur saja, Sita memang selalu berdebar-debar saat berdekatan dengan Rafa. Tapi untuk menikah, sepertinya dia belum memikirkan hal itu sama sekali.


"besok aku akan mulai mempersiapkan semuanya, aku harap kau juga mempersiapkan diri untuk itu," ucap Rafa dengan senyum tipis, tapi sayang Sita tidak bisa melihat senyum itu.


"Baiklah, aku harus pergi!"


"Tunggu!"


Rafa yang akan pergi menahan kakinya, sementara Sita sendiri beralih melihat ke arahnya dengan serius.


"kenapa Mas ingin menikahiku? apa karna Mas merasa berhutang budi dengan apa yang sudah aku dan-"


"Tidak! Aku memang berutang budi denganmu, bahkan utang nyawa. Tapi aku menikahimu bukan karna itu!"


Sita maju selangkah lebih dekat dengan Rafa. "Lalu? Kenapa Mas melakukannya? Pernikahan itu bukan sesuatu yang mudah, Mas! Perlu kesiapan hati dan jiwa untuk melakukannya. Jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari."


Mata mereka kembali bertemu, seolah-olah sedang sama-sama meyakinkan hati untuk apa yang akan terjadi.


"Insyaallah, aku tidak akan menyesal! Jadi, apa kau mau menikah denganku?"


Ucapan Rafa terdengar sangat tegas dan yakin kalau dia tidak akan pernah menyesal, membuat hati Sita berdesir hebat. Dia mencoba untuk bertanya pada hatinya, apakah akan menerima Rafa atau tidak.


"Bismillah, restui aku ya Allah!"


Sita memejamkan mata untuk sejenak, menarik napas dalam hingga memenuhi rongga dadanya. "Aku mau menikah denganmu, Mas!"





Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2