
Stella yang kebetulan sedang memegang ponsel Rafa merasa kebingungan saat ada yang menelpon ke ponsel itu, dan dia semakin bingung saat tiba-tiba sih penelpon mematikan panggilan begitu saja.
"Kakak ipar? Apa dia ini kakaknya Nona itu?"
Stella membaca nama yang tadi tertera dilayar ponsel Rafa, tetapi sedetik kemudian dia dikagetkan dengan keberadaan Dokter yang sudah berdiri di hadapannya.
"apa Nona keluarga dari kedua pasien?" tanya Dokter tersebut.
"Bu-bukan, Dokter! Tapi saya orang yang sudah ditolong oleh mereka, lalu saya juga menolong mereka!"
Dokter tersebut mengernyitkan keningnya karna merasa bingung dengan penjelasan wanita yang ada di hadapannya, tetapi dia mencoba untuk melupakan kebingungannya itu.
"a-apa mereka baik-baik saja?"
"Tentu saja, Nona! Tapi, untuk saat ini mereka harus dirawat secara intensif di rumah sakit karna cidera mereka cukup serius!"
Stella mengangguk-anggukkan kepalanya dengan apa yang Dokter itu katakan, dia lalu mengikuti Dokter tersebut untuk memindahkan kedua pasien ke ruangan ICU.
Sean yang baru sampai di rumah sakit bergegas untuk mencari keberadaan Sita dan juga Rafa, dia dan Soni segera menanyakan pada pihak adminstrasi rumah sakit tersebut.
"Pasien yang bernama Rafa Pahlevi dan Sofia Pranata saat ini sedang dirawat di ruang ICU, Tuan!"
Deg, jantung Sean terasa seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarum saat mendengar kalau adiknya sedang berada diruang ICU. Untuk sekali lagi, dia tidak bisa menjaga dan melindungi adiknya sendiri.
"Tuan, saya yakin kalau Nona muda dan Tuan Rafa pasti baik-baik saja!"
Soni tentu tau apa yang Tuannya pikirkan, karna dia sendiri pun saat ini sangat mengkhawatirkan keadaan Nona mudanya.
Mereka berdua lalu segera menuju ruangan ICU dengan diantar oleh salah satu perawat yang ada di rumah sakit itu.
"Sofia!"
Stella terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang, dia lalu melihat ke arah 2 orang lelaki yang saat itu mendekatinya.
"Tu-Tuan, apa anda tidak tau kalau di rumah sakit itu tidak boleh ribut?"
Sean dan Soni menghentikan langkah mereka saat ada wanita yang berdiri tepat di tengah jalan. "Minggir!"
__ADS_1
"Ssstt, sudah saya bilang jangan ribut! Ini rumah sakit, bukan hutan!"
Sean langsung menarik tangan wanita itu dan menghempaskannya ke kursi, tetapi wanita itu gantian menarik ujung kemeja Sean sampai membuatnya oleng dan terjatuh tepat di atas tubuh wanita tersebut.
Bruk! Sean dan Stella sama-sama terdiam dengan saling berpandangan, sementara Soni sendiri hanya terpaku melihat apa yang terjadi pada Tuannya.
1 detik, 2 detik, sampai 3 detik Sean baru bangun dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan sementara Stella sendiri masih terdiam di tempatnya.
"Dasar wanita gila!"
Sean kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang ada diujung lorong dengan diikuti oleh Soni.
"Ap-apa katanya? Gila?"
Stella yang baru sadar perlahan mulai bangkit dan menyusul langkah dua 2 lelaki itu, dia semakin mempercepat langkah kakinya saat mengetahui kalau mereka sedang menuju ruangan Sita dan juga Rafa.
"Berhenti! Kalian tidak boleh masuk ke dalam ruangan itu!"
Stella kembali menubruk tubuh Sean untuk menghalanginya agar tidak masuk ke dalam ruangan itu, dia mulai berpikir mungkin saja 2 lelaki itu adalah orang yang telah menyerang Sita dan juga Rafa.
"Dasar wanita gila! Minggir kau!"
Sean yang sudah bersiap untuk menarik tubuh Stella terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar suara Dokter.
"apa anda Tuan Sean Pranata?"
"Benar, saya adalah Kakak kandung dari pasien anda! Bagaimana kondisi adik saya dan suaminya?"
Stella membulatkan matanya saat mendengar ucapan lelaki itu, dia lalu menggeser tubuhnya karna merasa malu sudah berpikiran yang tidak-tidak.
"Keadaan mereka cukup stabil, Tuan! Hanya saja, luka yang ada dikepala Tuan Rafa masih perlu penanganan yang serius. Begitu juga dengan istrinya yang mengalami patah tulang di daerah pinggang dan kakinya!"
Sean mengusap wajahnya dengan kasar saat mendengar penjelasan Dokter, hatinya terasa tercabik-cabik saat mendengar kondisi Sita dan juga Rafa.
Sean kemudian melihat Sita dan Rafa dari balik kaca karna saat ini mereka belum bisa dijenguk, air matanya kembali menetes membasahi wajahnya yang sendu.
"Paman, pemerintahkan semua anggota untuk bersiap, karna aku akan melakukan serangan besar-besaran ke markas Danu!"
__ADS_1
"A-apa anda tidak salah, Tuan!"
Soni sangat terkejut saat mendengar ucapan Sean, dia tau kalau saat ini Danu merupakan orang yang paling kuat berada di balik semua kejadian ini. Akan tetapi, melakukan serangan seperti itu tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru.
"Tidak! Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, dia tidak bisa menggulingkan kekuasaanku sehingga dia menyerang adikku! Kita disibukkan dengan serangan-serangan yang dia lakukan terhadap perusahaan, sampai kita lengah mengawasi Sofia!"
Suara Sean terdengar lirih, tetapi terlihat jelas kebencian dari setiap kata yang terucap dari mulutnya.
"saya mengerti, Tuan! Tapi, kita juga tidak boleh gegabah. Saat ini, Danu sudah melebarkan kekuasaannya di daerah Timur, kemungkinan besar dia akan mengerahkan kekuatan itu untuk melawan anda!"
"Persetan dengan semua itu, aku akan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri! Aku juga akan meminta Atha untuk mengerahkan anggotanya, dan jangan lupa, saat ini Marco masih hidup. Bajing*an itu tentu tidak akan tinggal diam dengan kejadian ini!"
Glek, Stella menelan salivenya saat mendengar pembicaraan antara 2 lelaki yang ada di hadapannya. Dia lalu terjingkat kaget saat tiba-tiba ponsel yang sedang dia pegang berbunyi.
"Ma-maaf, sepertinya ponsel Tuan Rafa ini-"
Sean langsung menyambar ponsel yang disodorkan oleh wanita itu dan membaca sebuah pesan dari seseorang.
"Anda benar, Tuan! Saya sudah menyelidiki keberadaan Tuan Danish, dan saat ini lelaki itu sedang berada di Kota yang sama dengan anda!"
Sean merasa semakin murka saat membaca sebuah pesan yang dikirim oleh anak buah Rafa, kini dia semakin yakin untuk menghancurkan mereka semua.
"Kau! Apa kau mendengar semua ucapanku tadi?"
Sean melirik ke arah wanita yang ada di sampingnya, terlihat wanita itu melihatnya dengan gugup.
"Ti-tidak Tuan, saya dinyatakn tuli oleh Dokter! Sumpah!"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
__ADS_1