Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 35. Belanja Bersama.


__ADS_3

"Iya lah, siapa cobak, yang bisa tidur kalau belum dapat jatah!"


"Atha!"


Syifa hampir saja menarik mulut Atha yang sudah bicara tidak-tidak di depan orang lain, sementara Zulaikha dan Ammar terkikik geli mendengar apa yang lelaki itu ucapkan.


Syifa langsung masuk ke dalam mobil setelah pamitan pada Ammar, dia tidak ingin kalau mulut Atha semakin merusak suasana.


Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di mobil itu. Beberapa kali Atha melirik ke arah Syifa tetapi wanita itu malah memalingkan wajahnya ke arah samping.


"Hem, rugi sekali jika seorang istri menyia-nyiakan pahala besar yang bisa dia dapat dari suaminya."


Serangan pertama Atha luncurkan, dia ingin mencari perhatian dari Syifa agar suasana tidak terlalu sepi.


"Seorang istri akan mendapat balasan surga jika melayani dan membahagiakan suaminya, aah! Maka nikmat yang mana lagi yang didustakan."


Serangan kedua, Atha melirik ke arah Syifa yang mulai memberikan reaksi dengan mengepalkan tangannya. Sekarang saatnya dia memberikan pukulan telak yang bisa membuat emosi wanita itu membara.


"apalagi jika melayani suami di atas ranjang, aah! Bahkan para malaikat pun akan mendo'akan wanita itu, betapa senangnya! Rugilah seorang istri yang menyia-nyiakan semua itu, membuang banyak pahala-"


"Tidak semua pahala hanya berasal dari hubungan ranjang!"


Akhirnya tetangga sebelah buka suara, terlihat Syifa menatap tajam ke arahnya yang berusaha untuk menahan senyuman.


"mengikat tali pernikahan saja, itu sudah mendapat pahala,"


"Benar! Apalagi jika melakukan hubungan layaknya suami istri, pahala yang akan didapat pasti tidak terhingga."


Syifa yang akan membalas ucapan Atha menjadi bungkam, dia sebenarnya juga tau kalau apa yang lelaki itu ucapkan adalah benar, dan anehnya kenapa lelaki seperti Atha tau masalah begituan.


Tidak berselang lama, sampailah mereka di apartemen Atha. Sebenarnya Papa Aldo meminta mereka untuk tinggal di rumahnya, tetapi Atha langsung menolaknya mentah-mentah. Dia ingin menikmati waktu berdua saja dengan Syifa.


Mereka segera turun dan berjalan ke arah unit apartemen itu, Syifa mengedarkan pandangannya karna memang dia baru pertama kali ke tempat ini.


"Kenapa diam saja? Ayo, masuk!"


Syifa lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam apartemen itu, dan betapa terkejutnya dia saat melihat begitu mewahnya hunian yang selama ini menjadi tempat tinggal suaminya.

__ADS_1


"Astaga, aku lupa mengisi kulkas!"


Atha langsung menghubungi pembantunya untuk belanja keperluan mereka sehari-hari, biasa hidup sendiri membuatnya selalu memesan makanan dari aplikasi online, dan lupa kalau saat ini dia tidak sendiri lagi.


"mengisi kulkas? Untuk apa?" tanya Syifa dengan bingung.


"kalau tidak ada apa-apa dikulkas, bagaimana aku bisa memberi makan istriku?" seru Atha.


Syifa tersenyum tipis, ternyata lelaki itu sedang mengkhawatirkannya hingga panik seperti itu.


"Kita kan bisa belanja, kenapa harus menyuruh orang lain?"


Atha menatapnya bingung, seumur-umur dia belum pernah belanja apapun, kalaupun dia ingin sesuatu, maka dia akan memberi perintah pada orang lain.


"kita masukkan dulu barang-barang kita, abis itu kita belanja!" ucap Syifa sembari berbalik hendak keluar.


"Tunggu! Mau ke mana kau?"


Syifa yang sudah berbalik menatapnya bingung, dia lalu menunjuk ke arah luar kalau dia ingin memindahkan barang-barang.


"apa gunanya ada para pekerja, kalau kau masih mau mengangkat barang-barang itu!"


Atha lalu menelpon seseorang untuk memindahkan barang-barang mereka, setelah itu dia dan Syifa segera berangkat ke supermarket untuk belanja kebutuhan sehari-hari.


"Beli untuk satu hari saja, lusa kita sudah berangkat ke Paris!"


Syifa mengangguk mengerti, dia lalu mulai memilih beberapa ikan, daging, dan sayuran untuk mereka. Tidak lupa buah-buahan sebagai pencuci mulut.


Atha terus memperhatikan apa yang Syifa lakukan, wanita itu terlihat cekatan dalam memilih segalanya.


"Nih!"


Syifa memberikan semua belanjaannya pada Atha membuat tubuh lelaki itu oleng kanan oleng kiri.


"kau enggak salah? Apa kau sedang memelihara bab*i?" seru Atha dengan tidak percaya, begitu banyak belanjaan yang dibeli oleh istrinya.


"yah, aku sedang memelihara bab*i! Dan bab*inya itu kau!"

__ADS_1


"Apa? Dasar kau istri durhaka, hey ....!"


Syifa berjalan meninggalkan Atha yang sedang kesusahan, dia merasa kesal karna lelaki itu mengucapkan kata-kata kasar dengan menyebut nama binatang.


Syifa berjalan cepat untuk keluar dari Supermarket itu, tetapi langkahnya terhenti saat melihat deretan gaun malam.


"Dasar bod*oh! Apa yang sedang aku pikirkan sih?"


Syifa merutuki kakinya yang berhenti tepat di depan gaun malam itu, entah apa yang sedang dia pikirkan hingga ingin membeli pakaian yang sama sekali tidak pernah dia pakai.


"Aku suka warna merah, coklat sama hitam!"


Tiba-tiba Atha sudah berada di sampingnya, bahkan lelaki itu langsung menyebutkan warna gaun malam yang dia sukai.


"kenapa? Kau ingin membelinya?" tanya Syifa, sebenarnya dia sudah merasa sangat malu karna ketahuan menginginkan gaun malam itu.


"tentu saja! Aku akan membeli semua yang istriku inginkan,"


"A-apa, aku tidak menginginkannya!"


Atha tersenyum mengejek, dia lalu menyuruh karyawan yang ada di tempat itu untuk membungkus 10 gaun malam untuk istrinya.


"Atha! Apa kau sudah gila?" teriak Syifa dengan suara tertahan, matanya melotot tajam karna suaminya memesan 10 gaun malam sekaligus.


"kenapa? Aku hanya ingin menyenangkan istriku, dan aku juga senang kalau bisa melihatmu memakainya!"


"Mi-mimpi saja kau!"


Syifa lalu pergi meninggalkan Atha dengan wajah merah padam, betapa malunya dia saat ini dan ingin segera pulang saja.


"kau mulai nakal ya, Syifa! Kau lihat saja aksiku nanti malam, aku akan membuatmu menerimaku seutuhnya!"




__ADS_1


Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2