
"Sstt! Kau tidak perlu takut, Sayang! Aku akan mengajakmu menuju kenikmatan, bukan mau mengajakmu ke rumah hantu!"
"Atha!"
Atha terkikik geli melihat kekesalan Syifa, tapi dia juga merasa senang karna setidaknya istrinya itu bisa melupakan sedikit ketakutannya.
"Sudahlah, kau- aah!"
Syifa menjerit kuat saat tiba-tiba Atha menhangkat tubuhnya dan membawanya naik ke lantai 2 di mana kamar mereka berada.
"A-Atha, turunkan aku! Aku takut jatuh!"
Atha tidak menggubris ucapan Syifa walaupun wanita itu mulai memberontak, apalagi tubuh istrinya mungil jadi dia tidak kesusahan untuk menggendongnya.
"Atha! Aku bilang turunkan-"
"sekali lagi kau minta turunkan, akan kuturunkan kau dari atas tangga ini!"
"apa? Kau akan melemparku dari sini?"
"Tentu saja, makanya diam!"
Syifa langsung menutup mulutnya rapat-rapat, apalagi saat ini mereka sedang berada di tangga, dia takut kalau tiba-tiba suaminya menjadi gila dan melemparnya dari atas sana.
"Gitukan cantik!"
Cup, Atha kembali mendaratkan kecupan di wajah Syifa membuat wanita itu kembali merasa geram.
"lihat jalanmu, Atha! Kalau sampai kau menjatuhkanku, maka aku akan-"
"Tidak akan!" ucap Atha dengan yakin sembari membusungkan dada.
Akan tetapi, sepertinya Tuhan tidak berpihak padanya. Pada saat mereka baru masuk ke dalam kamar, kaki Atha tersandung sesuatu hingga tubuhnya oleng dan terjatuh dengan gaya tengkurap, sementara Syifa terhempas di depannya.
Bruk! "Ya Tuhan, istriku!"
Atha buru-buru bangun dan membantu Syifa untuk bangkit, tetapi tangannya langsung ditepis oleh wanita itu sampai akhirnya dia bangun sendiri.
"Sayang, maaf! Aku tidak-"
"Keluar!"
Atha langsung memeluk tubuh Syifa saat wanita itu mengusirnya keluar dari kamar, mulutnya terus mengucapkan kata maaf agar Syifa tidak lagi marah padanya.
"lagaknya sudah seperti Superhero, gak taunya cuma hello kitty!"
"apa? Jangan sembarangan ya, mau rupanya kalau kubuktikan kekuatanku sekarang juga!"
__ADS_1
"enggak perlu! Sekarang kau keluar!"
"Enggak-enggak, aku enggak mau! Lagipula ini kamarku, kenapa aku harus keluar!"
Atha tetap keukeh tidak ingin keluar, dia tidak mau lagi gagal melakukan ritual sakral malam ini.
"Ooh, gitu! Oke, kalau gitu biar aku yang keluar!"
Syifa berjalan ke arah pintu membuat Atha mengusap wajahnya dengan kasar, dia lalu menarik tangan Syifa sebelum wanita itu berhasil keluar.
"Yodah-yodah! Biar aku yang keluar!"
Atha berjalan gontai keluar dari kamar itu, sementara Syifa tersenyum lebar karna merasa berhasil menggagalkan apa yang ingin Atha lakukan.
Brak! Syifa menutup pintu kamar itu dengan kasar membuat Atha berdecak kesal karnanya.
"Sial*an! Gara-gara jatuh aku gak jadi belah duren, dasar bod*oh!"
Atha menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar, tetapi sesaat kemudian dia kembali tersenyum karna menyadari sesuatu.
"Dia kan cuma memintaku untuk keluar, bukan untuk menggagalkan kegiatan kami!"
Atha akan menunggu sampai keadaan menjadi tenang, dia lalu mencari kunci cadangan kamarnya yang dia simpan entah di mana.
Sementara itu, di tempat lain sepasang suami istri sedang sama-sama gugup di atas ranjang. Entah apa yang terjadi sampai mereka seperti itu, padahal sebelumnya mereka sudah pernah tidur seranjang.
"apa tidak mau shalat dulu?" tiba-tiba Rafa bersuara menghentikan keheningan yang terjadi.
"Bukan shalat itu! Tapi shalat sunah sebelum kita melakukan hubungan suami istri."
Blush, wajah Sita kembali memerah sementara Rafa perlahan turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu.
"Ya Allah, apa malam ini aku dan suamiku akan menyatu?"
Sita merasa gusar, rasa gugup terus menyerangnya hingga dia tidak sadar kalau Rafa sudah selesai mengambil wudhu.
"Enggak mau wudhu?"
Suara Rafa berhasil menyadarkan lamunan Sita, dengan cepat dia mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai shalat, Rafa memanjatkan do'a pada sang pencipta untuk keberkahan dan kebahagiaan rumah tangganya. Dia juga meminta keturunan yang baik lagi berakhlakul karimah, sama seperti istrinya.
Begitu juga dengan Sita, dia berdo'a agar rumah tangganya dijauhkan dari segala mara bahaya dan orang-orang jahat.
Sita kemudian menyalim tangan Rafa, dan lelaki itu mengecup kening Sita dengan lembut seraya menyalurkan segala kasih sayang yang ada dihati mereka masing-masing.
"Apa aku boleh memintanya sekarang?"
__ADS_1
Sita menundukkan kepalanya, tetapi dia terlihat mengangguk kecil untuk menjawab apa yang suaminya katakan.
Rafa lalu membantu Sita untuk berdiri dan mendudukkan tubuhnya ke ranjang, rasa gugup menyerang hatinya tetapi dia mencoba untuk tetap tenang.
"Aku mencintaimu, Sofia!"
Deg, Sita langsung mendongakkan kepalanya yang tertunduk untuk melihat ke arah Rafa. Begitu dia mendongak, Rafa langsung melummat bibirnya.
Sita memejamkan kedua matanya saat lidah Rafa menari-nari dibibirnya, dia lalu mengerrang hingga mulutnya terbuka saat lelaki itu menggigit bibir bawahnya.
Mereka saling memagut bibir satu sama lain, walaupun Sita masih kaku untuk melakukannya. Akan tetapi, dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melayani suaminya.
Rafa merebahkan tubuh Sita tanpa melepaskan ciumannya, dan ciuman itu perlahan turun keleher Sita hingga wanita itu kembali mengerrang.
"Mas, eemh!"
"Tahan yah, Sayang!"
Sita sedikit kaget saat mendengar panggilan Rafa, tetapi sesaat kemudian dia kembali mendessah akibat gigitan-gigitan yang lelaki itu lakukan.
Rafa terus mengecup semua tubuh Sita hingga satu persatu pakaian wanita itu berhasil dia lepaskan, kemudian Rafa melepaskan pakaian yang masih melekat ditubuhnya sendiri dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
"M-Mas-"
"Aku akan pelan, tahan yah!"
Rafa kemudian menyesap puncak bukit kembar milik Sita hingga wanita itu menggelinjang geli dan nikmat, dia terus melakukannya bak seorang bayi yang sedang kehausan sampai Sita menggerrang kuat akibat mencapai pelepasan pertamanya.
"M-mas, aku-"
Rafa kembali mengecup bibir Sita dan bersiap untuk memasukkan asetnya ke dalam lembah istrinya, dia dapat merasakan kalau tubuh Sita bergetar karna penyatuan tubuh mereka.
"M-Mas, aaarggh!"
Sita mengerrang kuat saat Rafa berhasil memasukinya, tangannya meremmas sprei putih itu hingga menjadi kusut tak terbentuk.
Rafa menghentikan kegiatannya saat merasakan cairan hangat yang mengalir di pahanya, dia kemudian tersenyum dan mengecup seluruh wajah Sita penuh cinta.
"terima kasih karna telah menerimaku menjadi suamimu, Sayang!"
"Sa-sama-sama, Mas! Terima kasih karna sudah memilihku untuk menjadi istrimu, sssh!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘