
"Sofia!"
"Sita!"
Sean, Rafa dan juga Atha berteriak saat Sita berlari ke arah mereka bersamaan dengan suara tembakan yang Danu lakukan.
Akan tetapi, siapa sangka kalau peluru Danu tidak mengenai tubuh Sita, melainkan menembus tepat ke jantung Danish.
"Tidak, Danish!"
Bruk!
Tubuh Danish langsung ambruk begitu saja ke atas lantai membuat semua orang sangat terkejut, dengan cepat Danu berlari menghampiri anaknya tersebut.
"Danish, buka matamu!"
Danu terus berteriak sembari mengguncang tubuh Danish, dia menekan tangannya tepat ke dada laki-laki itu seakan-akan menahan darah putranya agar tidak mengalir deras.
Sean yang melihat semua itu langsung menarik tubuh Sita ke dalam pelukannya, begitu juga dengan Rafa dan Atha yang berdiri di depannya membentuk barisan, seolah-olah melindungi tubuhnya dan Sita dari serangan.
"Kau tidak apa-apa kan, Sweetu?"
Sita menganggukkan kepalanya sambil memeluk tubuh Sean dengan erat, dia bersyukur tidak terjadi sesuatu pada keluarganya.
"Tidak, Danish! Jangan tinggalkan Papa! Buka matamu!"
Danu menggila, dia terus mengguncang-guncang tubuh Danish yang sudah tidak bernyawa. Peluru yang dia tembakkan bersarang tepat dijantung Danish, membuat jantung itu langsung rusak dan berhenti berdetak.
Seketika napas Danish tercekat ditenggorokan, dan sesaat kemudian tubuhnya ambruk dengan nyawa yang sudah meninggalkan raga.
Semua orang hanya bisa diam melihat apa yang terjadi pada Danish, begitu juga dengan semua anak buah lelaki itu yang tidak tau harus melakukan apa saat ini.
"Bajing*an, brengs*ek! Ku bunuh kalian, ku bunuh kalian semua!"
Teriakan Danu menggema diseisi rumah, rahangnya mengeras dengan urat-urat yang menonjol diseluruh tubuh. Darahnya mendidih melihat semua orang yang ada di tempat itu, terutama Sean dan anggotanya. Padahal dia sendirilah yang telah membunuh putranya.
"bunuh mereka semua!" perintahnya dengan napas memburu, dia tidak bisa lagi membiarkan mereka hidup.
__ADS_1
Sean langsung memeluk tubuh Sita dengan erat, begitu juga Rafa yang mencoba untuk melindungi tubuh Sita agar tidak tertembak.
"aku mencintaimu, Sayang! Aku sangat mencintaimu!"
"Mas!"
Sita ikut memeluk tubuh Sean dan juga Rafa, tangisan tidak berhenti dari kedua matanya sejak tadi. Dia sudah ikhlas jika memang takdir Tuhan mengambil nyawanya dan keluarganya saat ini juga.
Atha sendiri hanya memejamkan kedua matanya, senyum tipis terbit dibibirnya saat ini karna mengingat senyuman sang istri.
"Maafkan aku istriku, maafkan aku! Aku terpaksa meninggalkanmu sebelum bisa memberikan kebahagiaan untukmu, sungguh, aku sangat menyesal! Tapi, aku berdo'a pada Tuhan agar kau selalu diberikan kebahagiaan! Selamat tinggal istriku, aku sangat mencintaimu!"
Semua anak buah Danish langsung mengangkat senjata mereka dan menodongkannya tepat ke arah Sean dan yang lainnya, mereka menarik pelatuk pistol itu dan bersiap melancarkan tembakan.
Brak!
"Angkat tangan kalian semua!"
Tiba-tiba sekumpulan polisi dan tentara masuk ke dalam rumah itu dengan menodongkan senjata ke arah mereka semua, dan betapa terkejutnya Danu saat melihat itu.
Bukan hanya dia saja, bahkan Sean dan yang lainnya membulatkan mata mereka melihat keberadaan para polisi dan tentara.
"Ammar?"
Sean tersenyum lebar saat melihat seorang lelaki masuk ke dalam rumah itu, ya, dialah Ammar yang ternyata sudah melaporkan semuanya pada pihak berwajib.
"Kalian semua tidak apa-apa kan?"
Sean, Rafa, Atha dan juga Sita menganggukkan kepala membuat Ammar bernapas lega, sungguh dia sangat khawatir saat melihat pemandangan yang ada di tempat itu.
"Kami tidak apa-apa, tapi telat sedetik saja kami pasti sudah menghadap Tuhan!"
Semua orang terkekeh mendengar ucapan Atha, lalu Ammar merangkul tubuh lelaki itu dan membawa mereka keluar dari sana.
"Kami sudah memanggil ambulance ke sini, Tuan! Jadi silahkan ikut bersama mereka ke rumah sakit!"
Sean menganggukkan kepalanya pada polisi yang memberitahunya. "Baik, terima kasih atas bantuan dari anda semuanya!"
__ADS_1
Polisi itu tersenyum. "Ini memang tugas kami, Tuan! Tapi, kami juga harus memeriksa anda semua yang terlibat dalam kasus ini! Karna ini adalah kasus besar, banyak korban jiwa dalam kasus ini!"
Sean menganggukkan kepalanya, dia tau kalau mereka semua memang harus melakukan pemeriksaan. Bisa jadi mereka juga akan masuk penjara, karna tentu saja mereka juga membunuh lawan mereka.
Danu yang saat ini sudah diborgol oleh polisi melirik ke arah Sean, dadanya terasa panas saat melihat lelaki itu masih hidup, dan malah Danish yang mati ditangannya sendiri.
Tidak mau kehilangan kesempatan, Danu langsung menarik pistol yang ada dipinggang salah satu polisi dan langsung mengarahkannya ke tubuh Sean.
Dor!
"Aaargh!"
Danu mengerrang kuat saat sebuah peluru bersarang dilengannya, belum sempat dia melancarkan tembakan, ternyata ada salah satu tentara yang melihat. Tentara itu langsung menembak lengan Danu sebelum lelaki itu menembak orang lain.
"Dasar bajing*an! Masih saja kau!"
Sean berjalan mendekati Danu yang tersungkur di atas tanah, secepat kilat dia langsung memijak luka yang ada dilengan laki-laki itu.
"aaargh!"
"Rasakan, brengs*ek!"
Para polisi itu lalu menghentikan apa yang Sean lakukan, mereka lalu membawa Danu ke rumah sakit sebelum ke kantor polisi.
Sean dan yang lainnya juga segera pergi dari sana, mereka naik di dua mobil ambulance dengan ditemani Ammar juga yang sedang bersama Atha.
"bagaimana keadaan istriku, Mar?" tanya Atha.
Ammar tersenyum sembari menepuk bahu laki-laki itu. "Dia baik-baik saja, walaupun matanya sudah sebesar biji kenari, karna terus menangis mengkhawatirkanmu!"
Atha tertawa lebar, dia benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Syifa saat ini juga.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Halo semua pembaca setia aku, kisah ini tinggal 1 part lagi yah 🥰 semoga kalian semua senang dengan akhir dari kisah mereka semua 😍