
"Sofia, ini aku, Danish! tunanganmu!"
Bagai disambar petir saat mendengar kata-kata yang terucap dari bibir lelaki itu, wajah Sita langsung pucat pasi bagai tidak teraliri darah.
"Ka-kau Danish?"
Lelaki itu mengangguk dengan semangat, dia bahkan hampir kembali memeluk Sita kalau saja tidak dihalangi oleh Sean.
Sita terdiam, dia mulai mengingat kenangan-kenangan lama yang terlintas. Semua bagai berlarian di depan matanya saat berhasil mengingat sosok lelaki bernama Danish.
"a-aku mau ke kamar dulu!"
"Tunggu-"
Sita berlari ke kamarnya tanpa menghiraukan panggilan Sean dan juga Danish, wajahnya tampak sangat syok dan tidak bisa mengendalikan diri.
"Danish!"
Sean yang juga merasa kaget karna kedatangan lelaki itu menjadi murka, dia mendekati Danish dan mencengkram kerah kemejanya.
"a-apa ini, Tuan Sean? ke-kenapa anda melakukan ini?"
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Cengkraman tangannya kian menguat, dengan tatapan tajam serasa mengoyak jantung lawannya.
"Aku ingin melihat Sofia!"
Sean melepaskan cengkraman tangannya, rahangnya tetap mengeras walaupun sudah mendengar jawaban dari laki-laki itu.
Dada Danish kembang-kempis, napasnya tersengal-sengal akibat cengkraman itu. Bukan berarti dia lemah, hanya saja tangan Sean benar-benar kuat.
"dari mana kau tau kalau Sofia sudah kembali?"
rasa curiga memenuhi pikiran Sean, seharusnya hanya orang-orang yang ada di rumahnya saja yang tau tentang keberadaan sang adik.
Danish terdiam, wajahnya tampak sangat gugup dengan keringat yang mulai muncul dikeningnya.
"aku, aku mendengarnya dari Papa!"
Satu kalimat yang Danish ucapkan menimbulkan berbagai pertanyaan dibenak Sean, apalagi saat melihat kegelisahan dan kegugupan Danish saat menjawab pertanyaannya.
"Kalau begitu aku permisi dulu, tolong titipkan salamku pada Sofia!"
Tanpa ingin berlama-lama lagi, Danish keluar dari rumah Sean membawa penyesalannya. Rasa bahagia karna mendengar Sofia sudah kembali membuat Danish langsung berangkat ke rumah Sean tanpa berpikir terlebih dahulu.
Sean yang masih menatap tajam ke arah Danish pergi mulai memikirkan sesuatu, dia lalu memutuskan untuk menelpon Soni dan menyuruh lelaki itu untuk datang ke rumahnya.
Sementara itu, Sita yang sedang berada di kamarnya tampak sedang termenung.
Kedatangan lelaki bernama Danish berhasil membangkitkan kenangan lama antara dia dan mendiang Papanya saat memberitahukan kalau dia sudah dijodohkan oleh seseorang.
"Ya Allah, aku tidak ingin menikah dengan Danish!"
Sita sudah mengenal Danish sejak mereka duduk dibangku SMP, perjanjian yang keluarga mereka lakukan menyalah artikan pertemanan mereka dan mengubahnya menjadi ikatan perjodohan.
__ADS_1
"Sofia! apa Kakak boleh masuk?"
Suara dari seseorang membuyarkan lamunan Sita, dia merangkak turun dari ranjang untuk membuka pintu.
"Kakak? masuklah!"
Sean dan Sita berjalan seiringan, tangan Sean merangkul bahu Sita hingga mereka sampai di ranjang.
"apa kau baik-baik saja?"
sejak siang, Sean merasa khawatir dengan keadaan Sita. Dia takut adiknya kembali sakit seperti waktu itu.
"Aku baik, Kak! kenapa Kakak khawatir?"
Sean tersenyum, dia lalu duduk di ranjang karna tubuhnya terasa sangat lelah. "Kakak hanya bertanya saja, kakak takut kalau kau kembali sakit!"
Sita tersenyum, bibir tipisnya melengkung indah seperti bulan sabit di malam hari.
"aku baik-baik saja, Kak! walaupun tadi sempat terkejut karna Danish!"
yah, bukan hanya dia saja yang terkejut. Bahkan Sean juga tidak mengetahui kedatangan lelaki itu.
"tidak perlu kau pikirkan! dia juga bukan tunanganmu, perjodohan antara kau dengannya tidak akan pernah Kakak setujui!"
Sean menolak keras perjodohan itu, karna dia tidak ingin menjual kebahagiaan sang adik pada orang lain.
Sita merasa lega, dia memang sejak tadi terus memikirkan perjodohan yang didasari oleh hubungan bisnis.
"Syukurlah, Kak! Aku memang tidak ingin menikah dengannya,"
"tentu saja, Sweetu!"
"Nanti malam Kakak akan mengantarmu!"
Sita mengangguk setuju, dia dan Sean lalu berlalu keluar dari kamar menuju ruang keluarga.
Sementara itu, di kediaman Atha tengah heboh mempersiapkan acara lamaran yang akan Atha lakukan.
Papanya terus menggerutu kesal karna Atha seperti sedang dikejar-kejar oleh anji*ng, semua serba dadakan dan mereka tidak bisa menyiapkan apa-apa.
"Aku tidak butuh semua itu, yang kubutuhkan hanyalah persetujuan dari Syifa!"
Plak! tangan kekar langsung melayang kekepala Atha, membuat lelaki itu menjerit sakit dan mengusap-usap kepalanya.
"kenapa sih, Pa?"
Wajah Atha merah padam, andai yang memukulnya bukan sang Ayah, dia pasti sudah membalas pukulan itu.
"kenapa-kenapa? kau enak cuma tinggal bilang saja, nah yang menyiapkan semuanya adalah Papa! kenapa tidak sekalian saja, Papa yang menikah dengan wanita itu!"
"Apa?"
Kedua mata Atha membulat sempurna seperti ingin melompat keluar, tidak bisa dia bayangkan kalau orang yang dia cintai malah menjadi Mama tirinya.
"Jangan ngomong yang aneh-aneh deh, Pa! aku saja belum tentu dapat, kok Papa malah mau ronde kedua!"
__ADS_1
Arthur melangkahkan kakinya dengan kesal, bibir indah nan seksinya mengerucut sebal dengan apa yang Papanya ucapkan.
Setelah semua persiapan ala kadarnya selesai, Atha segera merias diri. Dia harus berpenampilan terbaik di hadapan Syifa dan keluarganya, padahal belum tentu Syifa akan menerima lamarannya.
"Hah, semoga saja Syifa menerimanya! karna kalau dia menolak, aku akan ... akan ... ah entahlah!"
Atha sebenarnya tidak tau apa yang akan dia lakukan kalau sampai Syifa menolaknya, paling-paling dia akan menangis dipojokan sepanjang malam.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu oleh Atha datang, dia dan seluruh keluarganya berangkat menuju rumah Syifa dengan mengendarai dua mobil.
Ammar yang sudah mendapat kabar dari Atha kalau dia dan keluarganya akan datang bertamu, tidak kalah heboh saat ini.
Bagaimana tidak, lelaki itu memberitahunya pada pukul 6 sore yang artinya hanya 2 jam saja waktu mereka untuk bersiap-siap.
"dasar laki-laki itu! kenapa enggak sekalian saja dia memberi kabar saat sudah berangkat dari rumahnya!"
Ammar merasa sangat kesal, sementara Zulaikha sudah sibuk menelpon di sana sini untuk menyuruh sanak saudara datang.
"Ada apa, Mas?"
Kedatangan Sita dan Sean membuat Ammar dan Zulaikha terlonjak kaget, sangking bingung dan hebohnya, mereka tidak sadar dengan keberadaan mereka berdua.
"Oh, Sita! syukurlah kau datang ke sini!"
Zulaikha langsung menghampiri Sita dan membawanya keluar menuju kamar Syifa sembari menceritakan apa yang sedang terjadi.
Sean melihat ke sana kemari dengan bingung, baru kali ini dia melihat keluarga Ammar tampak kacau, bahkan para pelayan saja sibuk ke sana kemari entah mengerjakan apa.
"malam ini Atha dan keluarganya akan melamar Syifa!"
"hah?"
Ammar berucap seolah tau kebingungan Sean, dan reaksi yang Sean berikan sama persis seperti reaksinya tadi.
"kenapa kami tidak diberitahu?"
"jangankan kalian, bahkan aku saja baru tau petang ini!"
Ammar langsung saja menceritakan pada Sean tentang kabar dari Atha membuat Sean geleng-geleng kepala.
"lalu, bagaimana dengan Syifa? apa dia sudah menyetujuinya?"
Pertanyaan yang Sean lontarkan sama persis dengan pertanyaan yang saat ini berputar-putar dikepala Ammar, dia sendiri tidak tau apakah Syifa akan menerimanya atau tidak.
"Entahlah, aku tidak tau kenapa semua ini bisa terjadi!"
Di tengah kehebohan itu, rombongan Atha dan keluarganya sudah sampai di halaman depan rumah Ammar. Atha melangkahkan kakinya dengan bismillah berharap langkahnya akan membawa keberhasilan.
"Ya Allah, selama ini aku tidak pernah mengingatmu. Aku juga tidak pernah beribadah padamu! tapi malam ini, untuk pertama kalinya aku memohon belas kasihmu, tolong lancarkan segalanya!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘