
"Tunggu, kenapa jadi aku yang merasa malu?"
Syifa menarik napas dalam dan mencoba untuk menenangkan diri sementara Sita tersenyum geli melihat apa yang sahabatnya itu lakukan.
Setelah semua pemeriksaan selesai, Sita segera menelpon Sean untuk memberitahu kabar kesehatannya dan Rafa.
Tentu saja Sean merasa sangat senang mendengar kabar dari sang Adik, dia akan berbicara pada Dokter agar mengizinkan Rafa dan Sita untuk keluar dari rumah sakit.
"kak Sean akan mengurus semuanya, supaya besok kita sudah bisa keluar dari rumah sakit!"
"Hah!"
Syifa bernapas lega saat mendengarnya, dia merasa senang karna akhirnya mereka bisa keluar dari tempat itu.
Rafa dan Sita saling pandang, mereka tersenyum simpul saat melihat raut bahagia diwajah Syifa.
"sebentar lagi kau akan bertemu dengan Atha, Syifa! Jadi tidak perlu menahan rindu lagi!"
"a-apa? Apa maksudnya? A-aku tidak merindukannya!" bantah Syifa dengan gelagapan, dia lalu beranjak dari sana untuk menyusun pakaian-pakaian mereka.
"Apa salahnya kalau rindu? Dia kan suamimu!"
Sita kembali menggoda Syifa yang dibalas dengan decakan kesal wanita itu, Syifa lalu melempar pakaian yang ada ditangannya tepat ke wajah Sita.
Perang pakaian pun dimulai, sesuatu yang dulu sering mereka lakukan saat masih sama-sama menyandang status single.
Rafa tidak tinggal diam saat melihat momen langka itu, dia segera mengambil ponselnya untuk mengabadikan aksi mereka berdua.
"Hah, hah, hah! Tenagamu masih tetap kuat yah, Sita!"
Syifa merasa kewalahan, padahal sahabatnya itu sedang sakit tapi tenaganya tetap sama kuat seperti biasanya.
"Semua sangat cepat berlalu yah, Syifa! Dulu kita melakukannya saat masih sama-sama gadis, tapi sekarang, kita melakukannya saat sudah sama-sama menikah! Dan sebentar lagi, kita juga akan sama-sama mempunyai anak!"
Syifa sedikit terlonjak saat mendengar kata anak keluar dari mulut Sita, dia sendiri belum pernah sekalipun memikirkan tentang semua itu.
__ADS_1
Sita yang mengerti akan kegundahan hati Syifa mencoba untuk mendekatinya, dia lalu menggenggam kedua tangan wanita itu dan meletakkannya tepat diperut.
"Semoga Allah memberikan kepercayaan pada kita untuk menjadi seorang ibu, Syifa! Sebuah anugrah besar yang Allah berikan untuk keluarga kecil kita!"
Syifa menenundukkan kepalanya, entah kenapa dia merasa sesak saat mendengar ucapan Sita.
"Ada apa, Syifa? Apa kau tidak menginginkan seorang anak?"
Syifa menggelengkan kepalanya. "Bukan, bukan seperti itu! Hanya saja ... aku, aku-"
Sita semakin mengeratkan genggaman tangannya hingga membuat Syifa mengangkat kepalanya dan menatapnya sendu.
"Apa kau ada masalah dengan Atha? Apa, apa kau tidak mencintainya?"
Sita tau kalau pertanyaannya ini sudah sangat lancang, seharusnya dia tidak boleh ikut campur dengan rumah tangga orang lain. Akan tetapi, dia melihat kebingungan dimata Syifa yang sudah seperti adik kandung untuknya.
"aku, aku tidak tau, Sita! Aku merasa kalau semua terjadi begitu cepat, baik pernikahanku dan juga perasaanku! Sampai aku sendiri tidak bisa mengerti,"
"Itulah yang dinamakan Takdir Allah, Syifa! Dia sudah memberikan jodoh untuk kita, juga memberikan perasaan cinta di dalam hati kita untuk pasangan kita! Lalu, dibagian mananya lagi yang kita bingungkan?"
"Yakinlah kalau semua ini adalah yang terbaik untukmu, Syifa! Apalagi kau mendapatkan suami seperti Atha yang sangat mencintaimu!"
Yah, Syifa tau kalau dia sangat beruntung karna menikah dengan Atha yang sangat-sangat mencintainya. Walaupun sifatnya sungguh sangat naudzubillah.
Syifa menarik napas sepenuh dada, mencoba untuk meresapi rasa cinta yang mulai tumbuh dihatinya.
"Terima lah dia, dan ungkapkan rasa cintamu untuknya! Sayangi dia saat ada bersamamu, karna kita tidak tau kapan maut akan menjemput kita!"
Ucapan Sita kali ini berhasil menggetarkan hati Syifa, bahkan bukan dia saja yang merasa seperti itu. Rafa yang sedang memperhatikan mereka juga ikut berdebar mendengar ucapan sang istri.
"Benar, selama ini aku tidak bersyukur telah mendapatkan laki-laki seperti Atha! Maafkan aku suamiku, maafkan aku!"
Atha yang saat itu sedang menyuapi neneknya tiba-tiba bersin, dan mengotori makanan sang nenek yang ada ditangannya.
"kau mau membuat nenekmu semakin sakit?" sembur Papa Aldo.
__ADS_1
"aku kan, enggak sengaja, Pa!" balas Atha sembari mengusap-usap hidungnya yang terasa gatal.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dia beralih mengambil benda pipih itu dan meletakkan makanan yang sedang dia pegang.
"Astaga!"
Atha membelalakkan kedua matanya saat melihat video yang dikirim oleh Rafa, dia tidak menyangka kalau Syifa dan Sita akan membuat ruangan itu penuh dengan pakaian.
Papa Aldo dan neneknya merasa penasaran dengan apa yang sedang Atha lihat, mereka lalu merapatkan tubuh mereka untuk melihat video itu.
Tit, tiba-tiba Atha mematikan video yang sedang dia tonton membuat Papa Aldo dan Neneknya melihat dengan bingung.
"orangtua tidak boleh tau!"
"Apa?"
Atha lalu bangun dan berlalu keluar dari kamar sang Nenek, gara-gara melihat video Syifa, dia jadi merindukan istrinya itu.
"Tapi teringatnya, kapan dia akan pulang? Apa dia tidak tau kalau aku sudah hampir mati di sini?"
Atha segera menelpon istrinya dengan kesal, awas saja kalau tidak diangkat, maka dia akan berangkat ke Dubai saat itu juga.
Sementara itu, Sean yang sedang berkutat dengan laptopnya merasa sangat senang karna apa yang dia rencanakan berjalan dengan lancar.
Sedikit demi sedikit harga saham perusahaan Danu mulai turun bersamaan dengan beberapa proyeknya yang mengalami kegagalan, semua itu tentu akan membuat para partner bisnis Danu merasa dirugikan.
"Kau tunggu saja, Danu! Selama ini aku sudah diam melihat sepak terjangmu, tapi sekarang tidak lagi! Aku akan memghancurkanmu sampai keakar-akarnya!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘