
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga, seluruh pekarangan rumah Ammar sudah dipadati oleh para tamu yang hadir untuk menyaksikan pernikahan Athala Madava dengan Asyifa El-Rina.
Halaman rumah Ammar sudah disulap bak negeri dongeng, dengan mengusung konsep kebun bunga dengan segala keindahannya.
Para tamu berdecak kagum dengan dekorasi pernikahan itu, banyak dari mereka yang berpose ria sembari menunggu sepasang pengantin menuju singgah sana mereka.
"Kau sudah siap, Syifa?"
Syifa yang sedang memperhatikan para tamu dari balik jendela membalikkan tubuh, dia menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Sita.
"Masyaallah, Mbak yakin Atha pasti akan pingsan saat melihatmu, Dek!" ucap Zulaikha, matanya berkaca-kaca melihat sang adik dalam balutan gaun pernikahan.
Syifa mendekati Zulaikha, dia menggenggam kedua tangan sang Kakak dengan erat.
"terima kasih untuk semuanya, Mbak! terima kasih karna selama ini sudah merawat dan menjagaku,"
"Kau ini ngomong apa! aku Mbakmu, sudah seharusnya aku melakukan itu!"
Zulaikha yang sudah tidak tahan langsung memeluk tubuh Syifa, tangis haru dan kebahagiaan menggema di kamar itu.
Sita juga meneteskan air matanya, dia merasa sedih sekaligus bahagai karna sebentar lagi sahabatnya akan menikah.
"Hiduplah dengan bahagia, Dek! Mbak selalu berdo'a agar rumah tanggamu dan Atha selalu diberikan kebahagiaan dan kedamaian!"
Zulaikha melerai pelukan mereka, dia mengusap air mata yang juga menetes diwajah adiknya itu.
Tidak berselang lama, Ridwan juga masuk ke dalam kamar. Sudah sejak semalam dia dan keluarga kecilnya sampai di rumah Ammar. Dia dan juga Sita mendo'akan agar Syifa selalu bahagia, baik dalam rumah tangganya maupun disemua kehidupan.
Zulaikha dan Sita segera membawa Syifa untuk turun ke lantai satu, karna memang acara akad sudah akan dilaksanakan.
Syifa menggenggam erat tangan Zulaikha dan Sita yang ada dikanan dan kirinya, dia merasa gugup dengan debaran jantung yang kian menguat.
Zulaikha yang sadar akan kegugupan Syifa berusaha untuk menenangkannya, dia berkata kalau semuanya pasti akan baik-baik saja.
Atha yang sudah duduk di depan penghulu tampak sangat tampan dan juga gagah, apalagi dalam balutan pakaian tradisional dan peci yang bertengger dikepalanya menjadikannya semakin bersinar di antara yang lainnya.
Atha yang merasa gugup terus menunduk, tetapi semenit kemudian dia mendongakkan kepalanya saat mendengar suara-suara yang memuji pengantin wanita.
Deg, Atha langsung berdiri saat melihat Syifa. Matanya tidak bisa berkedip karna kecantikan Syifa yang bertambah 10 kali lipat dari biasanya.
Syifa yang sadar akan tatapan Atha juga menatapnya, pandangan mereka saling bertemu dengan debaran jantung yang saling berkejaran.
Zulaikha dan Sita mendudukkan Syifa di samping Atha dengan jarak beberapa senti, karna saat ini mereka belum resmi sebagai suami istri.
"Lap air liurmu, Atha!"
Atha langsung mengelap mulutnya saat mendengar ucapan ayahnya membuat semua orang terkikik geli, sementara Atha yang baru sadar kalau sedang dikerjai langsung bermuka masam pada sang Ayah.
Setelah semua orang berkumpul di tempat itu, maka penghulu langsung memulai acara akad saat ini juga.
Ridwan selaku wali Syifa bersiap untuk menikahkannya dengan arahan dari penghulu dan disaksikan oleh semua orang.
"saudara Athala Madava!"
__ADS_1
"saya, Pak!"
"saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik saya yang bernama Asyifa El-Rina binti Hendrawan dengan mahar satu set berlian dibayar tunai!"
"saya terima nikah dan kawinnya Asyifa El-Rina binti Hendrawan dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"
"bagaimana saksi? Sah?"
"SAH!"
"Alhamdulillah!"
Kata Sah menggema di ruangan itu sebagai bukti bahwa saat ini Atha dan Syifa sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
Semua orang tampak sangat bahagia, baik kekuarga Syifa dan juga keluarga Atha. Mereka mendo'akan agar pernikahan mereka berjalan dengan baik dan bahagia, serta dijauhkan dari segala masalah dan kesusahan.
Mata Atha berkaca-kaca saat sudah selesai mengucap akad, dia terus melihat ketangannya yang tadi berjabat tangan dengan Ridwan.
"Ya Allah, apa aku benar-benar sudah menjadi seorang suami? Apa aku dan syifa benar-benar sudah menikah?"
Bukannya merasa lega, kini Atha malah semakin gelisah, jantungnya semakin cepat berdetak seakan-akan ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
"Hey, Atha! selamat yah!"
Ammar merangkul bahu Atha, dia tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya seperti mengatakan kalau semuanya pasti akan baik-baik saja.
Semua orang mengucapkan selamat untuk Atha dan juga Syifa, pancaran kebahagiaan terpancar diwajah semua orang saat ini.
Atha bangkit dan berjalan ke arah Syifa yang sedang menundukkan kepala dengan air mata yang mengalir deras, dia lalu duduk di hadapan gadis itu sembari terus melihatnya.
Mata Atha dan Syifa kembali bertemu, Atha segera mengulurkan tangan kanannya agar disalim oleh Syifa, dan tangan kirinya memegang kepala gadis itu.
Syifa menggenggam tangan Atha dan menciumnya, untuk sesaat mereka diam dalam posisi seperti itu.
"Ya Allah, kini aku sudah berstatus sebagai seorang istri. Berikanlah kekuatan untuk menjalani biduk rumah tangga ini, berikanlah keikhlasan untuk menerima kehadiran orang lain dalam hidupku!"
Air mata Syifa berhasil menetes sebagai bukti kalau saat ini dia sudah menerima pernikahan itu dengan ikhlas.
"Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, Syifa! Aku berjanji akan selalu menghiasi hari-harimu dengan tawa! Aku berjanji, Syifa!"
Setelah acara akad selesai, Atha dan Syifa duduk berdampingan di pelaminan yang ada di dalam rumah Ammar. Para sanak saudara silih berganti untuk mengucapkan selamat sekaligus memberi hadiah pada mereka.
Dua jam telah berlalu, kini saatnya Atha dan Syifa kembali ke kamar untuk berganti pakaian karna acara resepsi akan segera dimulai.
Kecanggungan pun terjadi saat mereka berada di dalam kamar, apalagi saat ini mereka akan berganti pakaian dalam ruangan yang sama.
"A-aku ganti duluan!"
Syifa berjalan ke arah kamar mandi untuk mengganti gaunnya, sementara Atha hanya tersenyum tipis melihat istrinya itu.
Tidak berselang lama, terdengar suara Syifa dari balik kamar mandi. Atha segera bangkit untuk melihat apa yang sedang terjadi dengannya.
"ada apa, Syifa? Kenapa kau memanggilku?" tanya Atha.
__ADS_1
"itu, apa kau bisa memanggilkan Mbak Zulaikha? atau Sita?"
"kenapa? Apa terjadi sesuatu padamu?"
"Tidak! Aku hanya tidak bisa membuka gaunku karna resnya tersangkut!"
Atha yang merasa khawatir bernapas lega, dia mengira kalau telah terjadi sesuatu pada wanita yang baru saja sah menjadi istrinya.
"kalau gitu buka saja pintunya, biar aku yang benerin!"
"ti-tidak perlu! Aku hanya membutuhkan Sita."
Atha tidak bergeming, dia malas untuk keluar memanggil Zulaikha atau Sita. Dia memilih untuk memaksa Syifa untuk membuka pintu kamar mandi itu.
Syifa yang sudah tidak punya pilihan terpaksa membuka pintunya, dia membelakangi Atha karna merasa malu dengan keadaan ini.
Atha terpaku, darahnya berdesir hebat saat melihat tubuh belakang Syifa yang hanya tertutup dibagian pinggang ke bawah saja.
Beberapa kali Atha menelan salivenya, dia lalu mendekati Syifa dengan perlahan.
"To-tolong bukakan resletingnya!"
Atha tersentak saat mendengar ucapan Syifa, dia lalu mengulurkan tangannya dan menyentuh res yang tersangkut.
Tubuh Syifa bergetar saat permukaan kulitnya bersentuhan dengan tangan Atha, sementara Atha sendiri sedang berusaha untuk mengendalikan hawa napsunya yang mulai naik.
Atha menurunkan resleting itu dengan perlahan, matanya semakin membulat saat melihat kulit putih dan bersihnya Syifa.
Cup, Atha mendaratkan kecupan singkat dipunggung Syifa membuat wanita itu terlonjak kaget.
Syifa lalu membalikkan tubuhnya dan beringsut kesudut kamar mandi, wajahnya pucat pasi dengan tubuh gemetaran menahan takut.
Atha yang baru sadar dengan kebod*ohannya, berniat untuk meminta maaf pada Syifa.
"Syifa, aku-"
"jangan mendekat, dan jangan menyentuhku!" ucap Syifa, bibirnya bergetar dengan tangis yang coba dia tahan.
Atha begitu terluka melihat ketakutan dimata Syifa, dia benar-benar mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa menahan napsunya.
"maafkan aku, Syifa! aku, aku tidak sengaja,"
"Keluar!"
Bukannya mendengarkan ucapan Syifa, Atha malah langsung menubruk tubuh gadis itu dan memeluknya dengan erat walaupun Syifa terus memberontak.
"maafkan aku, tolong jangan takut padaku, Syifa! Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘