
Setelah tanggal pernikahan ditentukan, semua orang mendapat tugas masing-masing, hanya kedua mempelai saja yang tidak sibuk menyiapkan segalanya. Kecuali pakaian yang akan digunakan sekaligus preewedding untuk mereka berdua.
"Apa Sita udah ngasi undangan sama kakak?"
Ammar mendongakkan kepalanya saat mendengar langkah kaki Rafa, tangannya tidak berhenti membuka lembaran laporan yang sedang dia baca.
"Aku sudah memintanya, tapi dia bilang belum siap!"
Rafa mengambil beberapa laporan yang sudah Ammar periksa, dia lalu kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tiba-tiba, ada sebuah pesan yang masuk keponselnya. Dia lalu membuka pesan itu, kemudian dia mencari satu nomor dan menelpon nomor tersebut.
"ya, Pak?"
"Tunggu dilokasi, aku akan segera ke sana!"
Tut, Rafa mematikan panggilan telponnya dan kembali berjalan ke ruangan Ammar.
"Loh, apa ada yang ketinggalan?"
Ammar melihat Rafa dengan bingung, sementara Rafa terus berjalan sampai ke hadapannya.
"Mar, aku akan memakai uangnya sekarang!"
Ammar terdiam untuk sesaat, dia lalu bangkit dan berjalan kesofa.
"apa Kakak benar-benar akan melakukannya?" Ammar berusaha untuk kembali bertanya pada Rafa yang langsung di jawab dengan anggukkan kepalanya.
"sampai kapan, Kak? sampai kapan Paman seperti itu?"
"Aku tidak peduli dengannya, Mar! aku hanya memikirkan Ibu!"
Terlihat jelas kekhawatiran diwajah Rafa saat ini, wajah yang selalu terlihat kuat dan tegas kini tampak mendung.
"aku akan menemani Kakak!"
"tidak perlu! aku bisa menyelesaikannya sendiri!" tolak Rafa, dia tidak mau membahayakan nyawa orang lain.
"Tapi itu sangat bahaya, Kak! kau bisa saja kehilangan nyawamu!"
Ammar menatapnya tajam, untuk pertama kalinya dia merasa sangat emosi melihat kekeras-kepalaan Rafa.
"Do'akan saja!"
Rafa menepuk bahu Ammar, dia lalu kembali meminta uang yang dia inginkan.
Dengan berat hati, Ammar membuka brangkas penyimpanan uang yang memang sudah dia sediakan sesuai keinginan Rafa. Dia merasa berat hati bukan karna uang itu, tapi karna khawatir dengan keselamatan Rafa.
Tanpa mereka berdua sadari, saat ini Sita sedang berdiri di depan ruangan Ammar, dia yang berniat untuk menemui Rafa memutuskan untuk bertanya pada Ammar karna Rafa sedang tidak ada di ruangannya.
__ADS_1
Namun, siapa sangka dia akan mendengar percakapan antara mereka berdua.
Hatinya mulai bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi pada Rafa, karna memang selama ini dia tidak tau tentang keluarga lelaki itu.
"Totalnya 2 milyar!"
Rafa menerima uang pemberian Ammar yang sudah diletakkan ke dalam tas hitam, totalnya ada 2 tas besar yang berisi uang tersebut.
Sita semakin membulatkan matanya saat mendengar jumlah uang yang Rafa inginkan, dengan uang sebesar itu pasti ada hal besar yang sedang Rafa lakukan.
"terima kasih, Mar! Aku berjanji akan segera mengembalikannya!"
"Tidak, Kak! aku tidak masalah dengan uang itu, tapi berjanjilah kalau Kakak akan kembali dalam keadaan baik-baik saja!"
Ammar menatap sendu, hanya Rafalah yang selama ini selalu membantu dan membimbingnya dalam segala hal.
"Aku tidak bisa janji, Mar! tapi aku akan berusaha untuk menjaga diri!"
Rafa mengulas senyum tipis, lalu tubuhnya dipeluk erat oleh Ammar membuatnya merasa sedikit terharu.
"Jaga diri Kakak!"
Ammar melerai pelukan mereka, Rafa menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapannya.
Sita yang tau kalau Rafa akan keluar segera berlari ke balik tembok, lelaki itu tidak boleh melihat keberadaannya di tempat itu. Dia lalu cepat-cepat mengikuti lelaki itu sebelum kehilangan jejak sembari mengambil ponselnya.
Sita memutuskan untuk menelpon Sean, dia ingin meminta bantuan Kakaknya untuk mengirim anak buah mereka ke tempatnya berada saat ini.
"ada apa? apa yang terjadi padamu?" suara Sean terdengar sangat khawatir.
Sita langsung saja menceritakan semua tentang Rafa sekaligus niatnya untuk mengikuti lelaki itu.
Sita tetap melangkahkan kakinya mengikuti Rafa, dia lalu memanggil taksi dan menyuruh taksi itu mengikuti mobil yang ada di depan mereka.
"itu bukan urusan kita, Syifa! lebih baik kita jangan ikut campur!" Sean terdengar tidak setuju dengan keinginan sang adik.
"tapi kak, aku, aku merasa gelisah! pokoknya aku ingin tau, apa yang akan dia lakukan dengan uang sebanyak itu!"
Syifa terus memaksa, entah kenapa perasaannya mengatakan untuk tetap mengikuti lelaki itu saat ini.
Setelah mendengar persetujuan dari Sean, Sita mematikan panggilan mereka. Dia menatap tajam ke arah mobil Rafa yang melaju kencang dijalanan.
Beberapa saat kemudian, mobil Rafa masuk ke sebuah gerbang besar yang ada di ujung gang. Gerbang itu langsung tertutup saat Rafa sudah masuk ke dalam membuat Sita tidak mengikutinya.
Sita segera membayar biaya taksinya dan berlalu keluar dari sana, dia mengendap-ngendap ke sebuah pohon agar tidak ada yang melihatnya.
Sita segera mengirim lokasinya pada Sean, Kakaknya itu ternyata sedang dalam perjalanan menuju tempatnya saat ini.
Sita berusaha untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam gerbang itu, lalu dia memutuskan untuk naik ke atas pohon agar bisa melihat dengan jelas.
__ADS_1
"Apa, apa yang dia lakukan?"
Sita membulatkan matanya saat melihat Rafa menyerahkan tas yang sedang dipegang pada dua orang lelaki yang ada di hadapannya, dia juga melihat ada seorang wanita paruh baya di tempat itu.
Sita terus menajamkan pandangannya, dia tidak boleh sedetik saja mengalihkan matanya dari Rafa.
"Sita!"
Sita langsung melihat ke arah bawah saat mendengar panggilan seseorang, terlihat Sean dan Soni berada tepat di bawahnya.
Sita meletakkan telunjuknya tepat di depan bibir memberi isyarat agar mereka tidak bersuara, dia lalu menyuruh Sean dan Soni untuk naik ke atas pohon.
"Periksa tempat ini, dan pastikan tidak ada masyarakan disekitar kita!"
Sean beranjak naik ke atas pohon setelah memberi perintah, begitu juga dengan Soni yang baru pertama kali memanjat pohoh seperti ini.
"lihatlah, Kak!" bisik Sita sembari menunjuk ke arah Rafa berada.
Sean dan Soni mematahkan ranting-ranting yang mengahalangi pandangan mereka, lalu memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam gerbang itu.
"Dia, dia bukannya Marco?"
Sita dan Soni beralih melihat ke arah Sean. "Marco? Marco bandar narkoba?"
Sean menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Soni, perasaannya sudah tidak enak saat ini dan dia menyuruh semua anak buahnya untuk berjaga.
"kenapa Rafa bisa bersama pengedar narkoba? dan siapa wanita itu?"
Berbagai pertanyaan berputar-putar dikepala Sita saat ini, sementara Sean dan Soni mengedikkan bahu mereka karna tidak tau ada hubungan apa Rafa dan penjahat itu.
"Sita, kita harus segera pergi dari sini! Marco itu sangat bahaya!"
Sean memberikan peringatan kalau saat ini mereka semua sedang berada salam bahaya, tetapi sepertinya Sita enggan untuk beranjak dari sana.
"Kak, aku ingin-"
Dor! tiba-tiba suara tembakan menggema ditempat itu membuat mereka langsung kembali melihat ke arah gerbang.
"Tidak, Rafa!"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang sudah baca 😘
__ADS_1