Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 30. Rafa dan Pawangnya.


__ADS_3

Syifa menggeliatkan tubuhnya saat mendengar adzan berkumandang, dia mencoba untuk membuka kedua matanya walaupun tubuhnya terasa sangat pegal.


"Hoam! aku capek sekali!"


Syifa yang ingin beranjak bangun tidak bisa bergerak saat menyadari kalau ada sebuah tangan yang melingkar diperutnya, dia menelan salive dengan kasar saat melihat ke arah samping.


"Di-dia tidak melakukan apapun padaku kan?"


Syifa mulai dilanda khawatir, dia mencoba meraba tubuhnya kemudian bernapas lega karna pakaiannya masih melekat seperti mana saat dia sebelum tidur.


Syifa berusaha untuk mengangkat tangan Atha, tetapi lelaki itu malah semakin merapatkan tubuhnya dan meletakkan bibirnya tepat dipipi Syifa.


Deg, deg, deg. Jantung Syifa berdetak sangat kencang, dia lalu menekan dadanya agar suara jantungnya tidak terdengar ke telinga Atha.


Atha tersenyum tipis, rupanya dia sudah bangun saat Syifa menggeliatkan tubuhnya tetapi dia enggan untuk melepaskan pelukannya itu.


"A-Atha, aku ingin bangun!"


Syifa menggoyang lengan Atha, tetapi lelaki itu tidak bergerak sedikitpun. Sepertinya Atha sangat pandai bersandiwara.


Syifa lalu melihat kewajah lelaki itu, betapa teduh dan tenangnya saat melihat dia tidur. Entah setan apa yang merasuki Syifa saat ini, hingga tangannya terulur menyentuh wajah Atha membuat lelaki itu sedikit tersentak.


Syifa yang sadar dengan pergerakan Atha langsung menarik tangannya, tetapi Atha bergerak cepat dan menahan tangan wanita itu.


"Tetaplah seperti ini, 5 menit saja!


Syifa membeku, dia membiarkan tangannya menempel diwajah Atha walaupun jantungnya terus bergemuruh.


"Ya Allah, saat ini dia sudah menjadi suamiku! Di hadapanMU kami telah bersumpah untuk menjalankan ibadah pernikahan, maka ridhoilah pernikahan kami. Jika dia benar-benar mencintaiku, maka bukakan hatiku agar bisa menerima dan membalas cintanya."


Syifa yang sedang serius menatap wajah Atha tidak sadar kalau kini lelaki itu sudah membuka kedua matanya, hingga mereka kembali bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.


Atha semakin memajukan wajahnya hingga hidungnya dan hidung Syifa saling bersentuhan.


"Jangan bergerak! Atau aku akan melakukan yang lebih jauh dari ini!"


Syifa kembali diam, dia yang terkejut dan hendak mendorong tubuh Atha mendadak kembali kaku.


"Aku mencintaimu, Syifa! Tolong terimalah cintaku!"


Tubuh Syifa menegang saat bibir Atha mengecup kening dan juga pipinya, keringat dingin mengalir ditubuhnya saat lelaki itu semakin mendekatkan diri padanya.


"Resapilah cintaku ini, karna aku akan melimpahimu dengan cinta yang membuatmu tidak kuasa untuk menolak!"


Syifa menutup kedua matanya saat bibir Atha mulai mengecup bibirnya, sekilas lelaki itu melepaskannya untuk melihat bagaimana reaksi Syifa.


Atha mengusap kening Syifa yang dibanjiri keringat membuat Syifa membuka kedua matanya, pipinya bersemu merah karna tiba-tiba rasa malu menjalar diseluruh tubuh.

__ADS_1


"A-aku mau-"


Syifa tidak dapat melanjutkan ucapannya saat bibir Atha kembali mendarat dibibirnya, kali ini bukan hanya sekedar kecupan tetapi lummatan membuat tubuhnya tersentak.


Atha menahan tengkuk Syifa untuk memperdalam ciumannya, sementara wanita itu menutup kedua matanya dengan tangan di depan dada Atha.


Atha menikmati setiap ciuman yang dia berikan, untuk pertama kalinya dadanya berdebar-debar saat berciuman dengan seorang wanita.


Walaupun Syifa sama sekali tidak membalasnya, tetapi dia merasa sangat bahagia karna bisa sedekat ini dengan wanita yang dia cintai.


Atha melepaskan pagutan bibirnya saat merasa Syifa sudah kehabisan napas, wanita itu menundukkan wajahnya yang sudah memerah seperti tomat.


"Selamat pagi, istriku!"


Cup, Atha kembali mengecup kening Syifa membuat hati wanita itu berdesir hebat.


"a-aku mau ke kamar mandi!" ucap Syifa dengan tergagap.


Atha tersenyum simpul, dia lalu melepaskan tubuh Syifa membuat wanita itu langsung bangun dan berlalu ke kamar mandi.


"Apa mau aku temani?"


Brak! Pintu kamar mandi ditutup dengan kasar oleh Syifa, tubuhnya lalu merosot ke lantai karna merasa lemas.


"Ya Allah, kalau terus seperti ini. Aku tidak akan sanggup menahannya!"


Sementara itu, Sita yang sudah selesai mengerjakan Shalat beranjak keluar kamar menuju dapur.


Terlihat sudah banyak para wanita yang berada di sana, termasuk Zulaikha dan juga Aisyah.


"Ya Allah, selamat untukmu ya, Sita!"


Aisyah yang merupakan istri Ridwan memeluk tubuh Sita saat wanita itu baru masuk dapur membuat Sita terpaku bingung.


"Mbak gak nyangka kalau jodohmu dan Syifa akan datang secara bersamaan!"


Akhirnya Sita mengerti kenapa Aisyah memeluknya, pasti wanita itu sudah tau kalau dia dan Rafa akan menikah.


"Alhamdulillah, Mbak!" hanya itulah yang dapat Sita ucapkan, dia berharap kalau semuanya akan baik-baik saja.


Tidak berselang lama, tampaklah Rafa yang sedang berjalan ke arah kulkas. Lelaki itu mengambil air dingin lalu kembali menutup kulkas dan berjalan ke luar dapur.


"calon suamimu bekerja keras, Sita! Sepertinya dia tidak tidur semalaman karna menyiapkan pernikahan kalian," ucap Zulaikha.


"benar, Mbak bangun jam 3 untuk membuat susu. Mbak masih melihatnya terjaga diruangan itu! Tau gitu kalian kemaren bareng aja nikahnya dengan Syifa," sambung Aisyah.


Sita terdiam, dia lalu pamit pada Zulaikha dan Aisyah untuk berbicara sebentar dengan Rafa.

__ADS_1


Rafa yang sedang sibuk dengan pekerjaannya mendongakkan kepala, dia sedikit terkejut saat melihat Sita berdiri tepat di hadapannya.


"Mas semalam tidak tidur?" tanya Sita, sebenarnya tanpa ditanya pun lingkaran hitam di bawah mata Rafa sudah menjawabnya.


"Tidur!"


Rafa kembali melihat ke arah laptop, masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum mengambil cuti pernikahan.


"Bohong! Jelas-jelas Mas tidak tidur!"


Tanpa Rafa duga, Sita menutup dan mengambil laptopnya membuatnya langsung bangun dan menatapnya tajam.


"Maaf, tapi Mas harus istirahat!"


Syifa membawa laptop itu dan berjalan ke arah kamarnya, tetapi tangannya dipegang oleh Rafa membuatnya terdiam


"masih ada yang harus aku kerjakan, Sita! Jadi-"


"Mas harus istirahat, aku mohon!"


Rafa melepaskan tangan Sita, hatinya luluh melihat tatapan wanita itu. Dia lalu berjalan ke kamar yang biasa dia tempati tanpa mengucapkan apa-apa.


Dari kejauhan, Ammar menyaksikan semuanya. Dia tersenyum tipis karna sepertinya Sita dan Rafa sama-sama saling menyukai, jadi dia tidak perlu khawatir sama sekali.


"Akhirnya Kak Rafa bertemu juga dengan pawangnya!"


Sita yang sudah berada di dalam kamar kembali menyalakan laptop Rafa, dia ingin melihat apa yang sedang lelaki itu kerjakan.


Ternyata Rafa sedang menyelesaikan pekerjaan di perusahaan, Sita lalu lanjut membuka file yang bertuliskan wedding.


Sudah 40% Rafa menyiapkan pernikahan mereka hanya dalam waktu satu malaman saja, Sita merasa kagum dengan kerja keras yang lelaki itu lakukan.


"Sekarang giliranku, Mas! Aku harap kau tidak keberatan kalau aku membantumu, karna aku tidak mau kalau sampai kau pingsan pada saat pernikahan kita nanti!"


Sita langsung menghubungi sang Kakak, dia juga menghubungi semua para pekerjanya untuk menyiapkan pesta pernikahannya yang akan dilaksanakan besok hari.


Dia juga menjelaskan semua yang sudah Rafa siapkan, supaya mereka semua bisa melanjutkannya karna dia akan menikah di rumah keluarga Pranata. Padahal tanpa dia beritahu pun, Sean sudah menyiapkan segalanya.


"Semoga semuanya berjalan lancar!"





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2