
Rafa dan Sita segera berangkat ke bandara karna memang setengah jam lagi pesawat mereka akan segera berangkat, untung saja jalanan tidak terlalu ramai jadi mereka bisa melaju dengan lancar.
"gimana Mas? Apa Mas sudah membicarakan tentang penjaga itu pada Kakak?" tanya Sita sembari melihat ke arah Rafa yang fokus mengemudikan mobil.
"sudah, dan Kakak bilang akan menyelidikinya!" jawab Rafa.
Sita bernapas lega kalau Kakaknya sudah tau dengan kecurigaannya, jadi mereka bisa lebih waspada dan berhati-hati dengan orang-orang yang ada disekitar mereka.
Tiba-tiba, Sita teringat satu hal. Dia ingat kalau mertua perempuannya tadi malam sempat menitip pesan untuk mengatakan perihal Marco pada suaminya.
"em ... Mas! Aku, aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Sita dengan ragu-ragu, dia merasa tidak nyaman dan takut menyinggung perasaan Rafa jika membahas tentang Marco.
"Katakan saja! Apa kau ingin sesuatu?"
Sita menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas! Aku, aku ingin membicarakan tentang Marco.
Sudut mata Rafa sedikit berkedut saat mendengar satu nama disebut oleh Sita, tetapi dia tidak bereaksi apa-apa dan menunggu Sita melanjutkan apa yang ingin wanita itu sampaikan.
"Ibu bilang kalau Marco akan dijatuhi hukuman mati minggu depan!" lirih Sita, dia menundukkan kepalanya karna tidak ingin bertatapan mata dengan suaminya.
"Aku tau! Aku akan datang melihatnya sebelum dia dihukum!"
Sita langsung melihat ke arah Rafa, dia menggenggam tangan suaminya karna merasa bangga atas keputusan yang lelaki itu berikan.
Tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai diparkiran bandara. Mereka segera turun dan berlalu masuk ke dalam bandara itu.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terus memperhatikan kedatangan mereka berdua. Dia sudah tidak lebih dulu di bandara itu sengaja agar Rafa dan Sita tidak merasa curiga.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu dengan cara baik-baik, maka jangan salahkan aku kalau aku bermain kasar, Sofia!"
Yah, ternyata Danish lah yang ada di tempat itu. Dia memakai topi dan masker supaya tidak ada yang mengenalinya, dia juga akan menaiki pesawat yang sama dengan Rafa dan Sita.
15 menit kemudian, Rafa dan Sita sudah berada di dalam pesawat. Mereka sudah duduk dengan nyaman menunggu pesawat itu membawa mereka ke tempat tujuan, para penumpang lain juga sudah berada di pesawat itu termasuk Danish.
"Mas, aku mau ke toilet sebentar yah!" ucap Sita sembari membuka sealtbelt nya.
__ADS_1
"Apa mau ku temani?"
Sita menggelengkan kepalanya. "Cuma sebentar kok, Mas! Lagipula cuma ketoilet."
Sita lalu bangun dan berjalan menuju toilet, mendadak perutnya terasa sakit dan ingin buang air besar.
Danish menurunkan topinya sampai menutupi matanya saat melihat Sita melewatinya, dia takut kalau wanita itu mengenalinya karna dia tau Sita adalah wanita yang memiliki insting kuat dan daya peka yang tinggi.
Dia bernapas lega saat Sita tidak mengenalinya, dia tersenyum tipis saat membayangkan kalau sebentar lagi dia akan memiliki wanita itu.
"Maaf, Nona! Apa saya boleh minta tolong?"
Sita yang akan masuk ke dalam toilet menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang, terlihat seorang gadis sedang berdiri di sampingnya sembari memegangi ponsel.
"yah? Ada apa Mbak?" tanya Sita dengan ramah.
"i-itu, Nona! Apa saya boleh menjual ponsel saya pada Nona, so-soalnya saya sama sekali tidak punya uang," lirih gadis itu.
Sita terdiam, dia memperhatikan gadis yang sepertinya masih berusia 20 tahun di hadapannya saat ini.
Gadis itu menganggukkan kepalanya, dia lalu menunjukkan ponselnya pada Sita berharap kalau wanita itu mau membelinya.
"kalau ponsel Mbak ku beli, terus nanti Mbak pakai apa?" tanya Sita dengan lembut, dia menggenggam kedua tangan gadis itu membuatnya sedikit tersentak.
"sa-saya tidak butuh ponsel, Nona! Saya hanya butuh uang untuk mencari pekerjaan nanti,"
Sita merasa iba, dia lalu menyuruh gadis itu kembali kekursinya dan dia nanti akan menemuinya setelah selesai dari toilet.
Gadis itu mengangguk, dia lalu berbalik dan kembali duduk dikursinya yang bertepatan ada di samping Danish.
Setelah keluar dari toilet, Sita berjalan sembari celingukan ke sana kemari mencari gadis yang menemuinya tadi.
"No-Nona!"
Sita melihat ke arah kanan saat mendengar suara seseorang, dia lalu tersenyum ke arah orang tersebut dan mendekatinya.
__ADS_1
Jantung Danish berdebar kencang saat melihat Sita mendekatinya, dia sampai menahan napas sembari menarik topinya penuh gelisah.
"Ambillah, ku harap ini cukup untuk membeli makanan!"
Sita memberikan segepok uang pada gadis itu yang langsung membuat matanya membulat sempurna.
"i-ini terlalu banyak, po-ponsel saya tidak semahal itu!"
"tidak papa, ambil saja! Anggap saja itu uang jajan dari seorang Kakak!"
Deg, hati gadis itu berdebar saat mendengar ucapan Sita. Dia lalu mengucapkan banyak terima kasih atas apa yang telah wanita itu lakukan.
Sita lalu kembali duduk di samping Rafa yang sejak tadi memperhatikannya, lelaki itu lalu bertanya apa yang sedang dia lakukan tadi.
Sita langsung menceritakan semuanya, dia merasa iba pada gadis itu yang sepertinya sedang kebingungan seorang diri.
"Ya sudah, tapi lain kali kau harus hati-hati! Jangan sampai bersentuhan dengen lelaki lain!"
Sita mengernyitkan keningnya, dia tidak mengerti dengan apa yang suaminya katakan. "Bersentuhan dengan seorang lelaki?" Dia merasa bingung.
"Sudahlah, lupakan saja!"
Rafa menarik kepala Sita agar bersandar dibahunya, dia merasa sedikit emosi saat lelaki yang duduk di samping gadis yang istrinya tolong tadi sempat menyentuh bahu Sita.
"Apa yang terjadi pada Mas Rafa? Perasaan aku tidak bersentuhan dengan lelaki lain selain dia?"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
__ADS_1