
Sean dan yang lainnya kini sudah sampai di rumah sakit, begitu mereka turun dari ambulance, mereka langsung di sambut oleh Zulaikha dan juga Syifa.
"Ya Allah, kau tidak apa-apa kan, Sita?"
Zulaikha memeluk tubuh Sita dengan tangis haru, dia sangat bersyukur karna tidak terjadi sesuatu dengan adiknya itu.
"Aku baik-baik saja, Mbak!"
Sita juga ikut menangis, dia lalu memeluk Syifa saat pelukannya dan Zulaikha terpelas.
"Syukurlah kau tidak apa-apa, Sita! Kami sangat mengkhawatirkanmu!"
Sita menganggukkan kepalanya, dia tau kalau mereka pasti sangat khawatir dengan apa yang sedang terjadi beberapa waktu lalu.
Mereka lalu menanyakan bagaimana keadaan Sean dan juga Rafa, sampai beberapa Dokter dan juga perawat menghampiri mereka.
"Tapi, tapi di mana suamiku?"
Syifa langsung panik saat tidak melihat keberadaan Atha di dalam ambulance, dia lalu menghampiri Rafa yang sudah duduk di atas banker.
"Di mana suamiku, Mas? Kenapa dia tidak bersama kalian?"
Syifa menarik-narik tangan Rafa dengan terisak, dia mulai diselimuti ketakutan jika Atha pergi meninggalkannya.
"tenanglah, Syifa! Atha sedang-"
"Sayang!"
Syifa langsung berbalik saat mendengar suara Atha, tubuhnya terpaku melihat suaminya yang saat ini sedang tersenyum ke arahnya.
Tanpa menunggu lelaki itu mendekat, Syifa langsung saja berlari dan menubruk tubuh Atha sampai lelaki itu mundur beberapa langkah ke belakang. Untung saja Atha masih kuat, jika tidak mungkin mereka sudah mencium lantai.
"Kau, kau baik saja? Hiks, huhuhu!"
Syif menangis dengan tersedu-sedu, sungguh dia merasa sangat takut dan senang secara bersamaan saat ini. Tangannya memeluk tubuh Atha dengan erat, bahkan tubuhnya kini sampai gemetaran.
"Aku baik-baik saja, jangan menangis!"
Atha membalas pelukan istrinya itu, beberapa kali dia mengecup kening Syifa karna merasa bahagia dengan sambutan hangat yang istrinya berikan.
"Kenapa kau terus menangis? Aku kan masih hidup! Bagaimana jadinya nanti kalau aku mati?"
Syifa langsung melepaskan pelukannya, dia lalu mendongakkan kepalanya dan menatap Atha dengan tajam.
__ADS_1
"Jangan pernah mengatakan itu!"
Plak!
"Aaw!"
Atha berteriak kesakitan saat tangan Syifa memukul tepat dilengannya yang terluka, membuat wanita itu terkejut.
"Ma-maaf, aku, aku tidak sengaja!"
Syifa lalu memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan suaminya, setelah itu mereka semua dibawa ke ruang perawatan.
Ammar sengaja menyiapkan 1 ruang VVIP untuk mereka semua, agar mereka bisa berkumpul di satu ruangan tersebut.
Para Dokter dan perawat langsung memeriksa dan mengobati semua luka yang ada di tubuh Sean, Rafa dan juga Atha. Bahkan Sean harus menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru yang ada di paha sebelah kirinya.
Operasi itu berjalan hanya 1 jam saja, karna peluru yang ada dikaki Sean tidak sampai menembus tulang. Setelah itu, dia kembali bergabung dengan yang lainnya.
"Oh iya Kak, di mana Paman Soni?"
Sita baru sadar kalau sejak tadi dia tidak melihat Soni, sangking tegangnya suasana. Dia tidak sempat memikirkan yang lain, dan hanya melihat Sean dan mereka saja.
Sean menghembuskan napas kasar. "Dia sudah mati!"
Sita, Syifa, Ammar dan juga Zulaikha sangat terkejut saat mendengar ucapan Sean sementara Atha dan Rafa hanya tersenyum sinis saja saat mendengarnya.
"Ba-bagaimana bisa, Kak?"
Rafa langsung memeluk tubuh Sita yang sangat syok mendengar semua itu, tapi mungkin wanita itu akan lebih syok lagi dengan kenyataan yang sesungguhnya.
"Dia pantas mati, Sweetu! Karna dialah sebagian anak buah kita meninggal, bahkan selama ini dialah yang berniat untuk melenyapkanku!"
Semua orang tampan syok saat mendengarnya, terutama Sita yang langsung terdiam dengan tatapan kosong ke arah sang Kakak.
"Bagaimana mungkin, Tuan? Tuan Soni itu sangat setia dengan anda!" Ammar benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Sean langsung saja menceritakan semua yang terjadi pada mereka, termasuk pengkhianatan yang Soni lakukan, hingga mereka mengalami kekalahan.
Semua orang hanya bisa terdiam mendengar semua cerita Sean, sungguh mereka tidak menyangka kalau lelaki paruh baya itu akan mengkhianati Sean.
"Sayang!"
Rafa langsung terkejut saat tubuh Sita jatuh dalam pelukannya, dia segera menggeser duduknya dan membaringkan tubuh sang istri ke atas ranjang.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Sofia?"
Sean langsung panik, begitu juga dengan yang lainnya. Syifa langsung keluar dari ruangan itu untuk memanggil Dokter, sangking cepatnya berlari, dia merasa perutnya sedikit nyeri.
"Dokter, tolong teman saya!"
Syifa berusaha melupakan rasa sakit diperutnya dan bergegas kembali ke ruang perawatan, dengan diikuti oleh Dokter dan beberapa perawat.
Dokter lalu memeriksa kondisi Sita, sementara para perawat menarik kain pembatas yang ada di samping ranjang agar Dokter bisa lebih fokus memeriksa pasien.
"Sayang, kenapa wajahmu pucat sekali?"
Atha menyuruh Syifa untuk duduk di sampingnya, dia lalu menggeser tubuhnya agar istrinya bisa naik ke atas ranjang.
"aku tidak apa-apa, mungkin cuma kelelelahan!" jawab Syifa sambil menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami.
"Kelelahan menangis maksudnya?"
Syifa membuang muka sebal membuat Atha tertawa, dia lalu mengganggam tangan wanita itu dan mengecupnya sekilas.
"Setelah ini, kau harus diperiksa juga oleh Dokter!"
Syifa hanya diam dan tidak menanggapi apa yang Atha katakan, entah kenapa saat ini tubuhnya terasa sangat lemas.
"Bagaimana dengan keadaan adik saya, Dokter?"
Sean langsung bertanya pada Dokter saat kain pembatas itu terbuka, terlihat Dokter sudah memasang infus untuk Sita.
"Pasien hanya terlalu lelah dan sedikit mengalami syok, setelah cukup istirahat, keadaan pasien akan kembali normal!"
Semua orang merasa lega saat mendengarnya, mereka mengerti pasti Sita sangat kaget mendengar pengkhianatan Soni. Apalagi lelaki itu sangat dekat dengannya, dan sejak kecil selalu bersama.
"Tapi, setelah pasien sadar. Tolang untuk membawa pasien ke Dokter kandungan, karna saya merasa kalau saat ini pasien sedang mengandung!"
Deg, semua sangat terkejut saat mendengarnya. Terutama Rafa dan Sean yang langsung mendekati Dokter tersebut.
•
•
•
Tamat.
__ADS_1
Masih ada satu ekstra part lagi yah readers, silahkan ditunggu 🥰