
Sementara itu, Sita dan Rafa saat ini sedang sibuk membuka hadiah pernikahan mereka. Terlihat hadiah itu memenuhi kamar, dan anehnya, dari semalam Sita tidak sadar akan hal itu.
"Apa tadi pagi hadiah-hadiah ini memang sudah ada di sini?"
Sita menatap bingung, perasaan dia tidak melihat tumpukan hadiah di kamar mereka.
"Padahal kita tidak melakukan malam pertama, tapi bisa-bisanya kau tidak sadar!"
"A-apa?"
Blush, wajah Sita memerah akibat ucapan Rafa sementara lelaki itu hanya menatapnya dengan datar.
"tunggu, apa Mas Rafa marah karna tidak melakukan malam pertama?"
"a-apa Mas marah, karna kita enggak kayak gitu?" tanya Sita dengan malu-malu, dia bahkan menundukkan kepalanya karna tidak sanggup menatap mata lelaki itu.
Rafa mengernyitkan keningnya, tetapi sedetik kemudian, dia baru sadar dengan apa yang dia katakan.
"Ma-maksudku bukan seperti itu! Aku tidak ingin melakukan malam pertama kok!"
Rafa merutuki kalimat terakhir yang baru saja dia ucapkan, sementara Sita langsung mendongakkan kepalanya menatap lelaki itu penuh kecewa.
"aku, aku mengerti, Mas! Kalau gitu aku keluar sebentar-"
"Tunggu, Sita! Aku tidak bermaksud seperti itu!"
Rafa menahan tangan Sita yang akan pergi dari sana, dia lalu menariknya hingga wanita itu jatuh ke atas pangkuannya.
"M-Mas, ini-"
Cup, Sita membulatkan matanya saat sekilas Rafa mengecup bibirnya. Tubuhnya seperti sedang tersengat listrik hingga menimbulkan getaran dalam dadanya.
"Maaf, aku tidak pandai untuk berkata-kata! Aku harap kau mengerti dengan penjelasan yang baru saja aku lakukan!"
Rafa memilih untuk langsung mengecup bibir istrinya, karna dia memang tidak pintar untuk menjelaskan apa yang dia maksud.
Sita hanya menatapnya dengan mata yang terbuka lebar, sepertinya dia masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
"Sweetu, besok kau dan Rafa berangkat jam berapa?"
Tiba-tiba, Sean masuk tanpa mengetuk pintu kamar mereka membuat Rafa dan Sita langsung panik dan sama-sama duduk menjauh.
"Astaga! Sepertinya aku masuk di saat yang tidak tepat yah."
Sean baru sadar kalau adiknya sudah menikah dan sedang berduaan dengan suaminya, dia merutuki kebod*ohannya yang sudah asal masuk ke dalam kamar mereka.
"ti-tidak, Kak! Kami cuma sedang membuka hadiah saja kok!" jawab Sita dengan gugup.
Sean tersenyum lebar saat melihat wajah Sita yang sudah merah seperti kepiting rebus, dia yakin kalau tadi mereka sedang melakukan sesuatu.
__ADS_1
"baiklah-baiklah, kakak tidak akan mengganggu kalian lagi! Kalian bisa melanjutkan kegiatan kalian, hanya saja ...," Sean menggantung ucapannya membuat Sita dan Rafa menatapnya dengan bingung.
"hanya saja, jangan sampai suara dessahan kalian sampai terdengar keluar!"
"Kakak!"
Sean lalu berbalik dan berlalu keluar dari tempat itu dengan diiringi suara tawanya yang kencang hingga sampai ke luar kamar.
"i-itu, anu-"
"Kamar inikan, kedap suara! Tidak mungkin suara dessahan kita terdengar keluar!"
Sita semakin menundukkan wajahnya karna ucapan Rafa, dia tidak habis pikir kenapa Rafa bisa sesantai itu mengulangi ucapan Kakaknya.
"ya Allah, ampunilah aku! Apa yang sudah terjadi pada Kakak dan suamiku? Kenapa mereka gampang sekali mengucapkan kata-kata seperti itu?"
Sita ingin tenggelam saja ke dasar laut karna merasa malu dengan apa yang sudah terjadi.
***
Siang telah berganti malam, hawa dingin mulai menusuk kulit karna memang cuaca sedang gerimis mengundang.
Setelah selesai menyiapkan makan malam, Syifa beranjak dari dapur menuju kamar untuk memanggil Atha.
"Makan malamnya sudah siap, ayo-"
Syifa tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat apa yang sedang Atha lakukan, dia lalu mengucek kedua matanya untuk memastikan benarkah lelaki itu suaminya atau tidak.
Syifa merasa sangat terkejut, pasalnya sejak mereka menikah, dia belum pernah sekalipun melihat Atha shalat. Itu sebabnya dia merasa sangat tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Udah puas, liatinnya?"
Syifa terlonjak kaget saat Atha berdiri di hadapannya, sangking terkejutnya dia sampai tidak sadar kalau suaminya sudah selesai shalat.
"ka-kau shalat?"
"Astaghfirullahal'adzim, suamimu ini islam, Syifa! Bisa-bisanya kau bertanya seperti itu!"
Atha menggeleng-gelengkan kepalanya, dia lalu membuka peci yang ada dikepalanya dan diletakkan di atas ranjang.
"bu-bukan seperti itu, hanya saja-"
"Sudahlah, ayo kita makan!"
Atha menggandeng tangan Syifa dan membawanya turun ke lantai satu, mereka berjalan terus sampai memasuki dapur.
Syifa terus melihat ke arah Atha yang sangat berbeda saat ini, entah kenapa Atha berubah menjadi 100 kali lebih tampan dari yang dia lihat sebelumnya.
"Perut enggak akan kenyang hanya karna melihatku, Syifa!"
__ADS_1
Syifa langsung gelagapan dan mengambil makanan dengan cepat, sangking buru-burunya, dia tidak sadar kalau saat ini dia sedang meminum gelas yang baru saja Atha minum.
"yah, anggap saja ciuman secara tidak langsung!"
"A-apa?"
Syifa menatap bingung dan tidak mengerti, tetapi Atha mengatakan tidak ada apa-apa dan memintanya untuk lanjut makan.
Selama makan, Syifa terus curi-curi pandang ke arah Atha. Dia berusaha untuk tidak melihat lelaki itu tetapi matanya tidak bisa untuk di ajak kerja sama.
Selesai makan, Syifa mencuci semua piring dan gelas bekas makan mereka. Terlihat Atha sedang membersihkan meja membuat Syifa tersenyum karnanya.
Perut sudah kenyang, peralatan juga sudah bersih. Kini Syifa bingung ingin melakukan apa, dia lalu melihat Atha sedang memanggilnya melalui tangan.
"a-ada apa?"
"Duduklah, temani aku di sini!"
Syifa menelan salivenya dengan kasar, dia merasa sangat gugup seperti akan terjadi sesuatu pada mereka.
"kenapa setegang itu? Aku bahkan belum memulai apapun!"
"A-apa-"
Cup, Atha kembali membungkam mulut Syifa dengan mulutnya sendiri. Kali ini dia menikmati bibir Syifa dengan penuh hasrat, melummat, menghisap, bahkan menggigitnya sampai Syifa mengeluarkan dessahan.
"A-atha, aku-"
"Aku menginginkannya, Syifa! Aku menginginkannya sekarang, istriku!"
Atha kembali melancarkan serangannya, dia melummat bibir Syifa dan menahan tengkuknya agar ciuman mereka semakin dalam.
Syifa yang masih merasa tidak nyaman mencoba untuk menekan segala rasa itu, sepertinya dia sudah siap menyerahkan tubuhnya untuk Atha.
Atha melepaskan hijab Syifa, dia lalu kembali mencium seluruh wajah istrinya sampai ciuman itu turun ke leher dan membuat Syifa mengerrang karna dia meninggalkan tanda kemerahan di sana.
"A-atha, aku, aku takut!"
"Sstt! Kau tidak perlu takut, Sayang! Aku akan mengajakmu menuju kenikmatan, bukan mau mengajakmu ke rumah hantu!"
"Atha!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘