
Tubuh Marco menegang saat dipeluk oleh Rafa, dadanya berdebar keras saat tangan lelaki itu menepuk bahunya.
"Aku dan Ibu akan selalu hidup dalam kebahagiaan, jadi Ayah tidak perlu mengkhawatirkan apapun!"
Rafa melerai pelukannya dan memandang Marco dengan sendu, sementara lelaki paruh baya itu juga terpaku sambil menatapnya.
Sita mendekati Rafa dan menggenggam tangan lelaki itu membuat Rafa melihat ke arahnya, dia tersenyum ke arah sang suami untuk memberinya semangat.
Cup, Rafa mengecup kening Sita dengan sayang. Sekuat tenaga dia menahan air mata yang sudah menggantung dipelupuk matanya.
Marco yang masih terdiam kini menundukkan kepalanya, bahunya tampak bergetar menandakan kalau saat ini dia sedang menangis.
"Aku laki-laki brengs*ek dan tidak bertanggung jawab, tetapi Tuhan sangat menyayangiku dengan memberikan istri dan anak yang baik untukku!"
Suara Marco lirih terdengar membuat dada semua orang berdebar, terutama Ibu Lena yang sedang berjalan mendekatinya.
"Terima kasih karna telah menjadi istriku, Lena! Terima kasih karna telah memberi anak yang baik untukku, walau aku yg brengs*ek ini tidak bisa memperlakukan kalian dengan baik!"
Ibu Lena terisak sembari menggenggam lengan suaminya, dulu Marco sangat mencintainya dan memperlakukannya dengan baik dan penuh cinta. Namun, entah kenapa semua berubah menjadi buruk, apalagi sejak hadirnya Rafa di antara mereka.
Marco mengusap kepala istrinya dengan lembut, kemudian dia mengecup kening sang istri yang sudah sangat lama dia abaikan.
"hiduplah dengan bahagia, Lena! Lupakan lelaki brengs*ek sepertiku, dan carilah lelaki yang-"
"Berhenti, aku tidak ingin mendengar apapun dari mulutmu!"
Marco tersenyum, dia lalu melihat ke arah Rafa dan Sita yang sedang terisak dalam dekapan suaminya.
"Sofia, Ayah titip Rafa padamu! Dia lelaki yang baik walau sifatnya dingin seperti itu, tapi percayalah, dia pasti sangat mencintaimu!"
Sita menganggukkan kepalanya sambil mencoba untuk menahan kesedihan, andai semua ini tidak terjadi, keluarga suaminya pasti akan berkumpul dengan bahagia.
__ADS_1
Kemudian Marco melerai pelukan Ibu Lena dan berjalan mendekati Rafa, kemudian dia mengeluarkan sesuatu dalam sakunya yang telah dia persiapkan jauh sebelum masuk dalam penjara.
"Ambillah, ini pertama dan terakhir kalinya aku memberikan sesuatu sebagai ayahmu!"
Rafa mengambil kotak kecil yang Ayahnya berikan, dia lalu menyalim tangan Marco dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya.
Kemudian dua orang polisi masuk ke dalam ruangan itu dan memerintahkan Rafa dan yang lainnya untuk keluar, sudah dua jam mereka berada di tempat itu dan sudah saatnya Marco untuk diadili.
Rafa membawa Ibu dan istrinya keluar dari tempat itu dan duduk di ruang tunggu, sebelumnya mereka sudah mengucapkan salam perpisahan untuk yang terakhir kalinya pada Marco.
Lonceng pertama dibunyikan pertanda bahwa Marco sudah dibawa masuk ke ruang hukuman, dan tidak berselang lama terdengar lonceng kedua pertanda bahwa proses hukuman sudah dimulai.
Ibu Lena terus terisak dalam pelukan Rafa, dan Sita sendiri juga ikut memeluk tubuh suaminya agar lelaki itu tabah dalam menghadapi semua ini.
Teng, teng, teng. Suara lonceng terus berbunyi menandakan bahwa proses hukuman sudah selesai dilaksanakan. Para polisi langsung membawa jenazah Marco ke keluarganya.
Tangisan semua orang pecah di tempat itu saat melihat tubuh Marco sudah tidak bernyawa lagi, terutama Ibu Lena yang langsung memeluk tubuh suaminya.
Ternyata bukan hanya mereka saja yang ada di tempat itu, tetapi Sean serta keluarga Ammar juga datang untuk memberi dukungan dan semangat bagi keluarga Rafa.
Mereka lalu membawa jenazah Marco ke rumah Rafa yang selama ini ditempati sang Ibu, terlihat para sanak keluarga sudah berkumpul di rumah itu.
Suasana duka terus menyelimuti hati semua orang, apalagi saat melihat Rafa. Semua orang tau betul bagaimana perilaku Marco pada putra semata wayangnya itu.
Ammar mendekati Rafa dan menepuk bahunya, terlihat lelaki itu tersenyum dan menyuruhnya untuk duduk.
"Paman sudah tenang di sisi Allah, Kak! Aku yakin Paman pasti merasa bahagia di saat-saat terakhirnya!"
Rafa tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. "Itu pasti, Mar! Ayah pasti bahagia!"
Rafa lalu beralih melihat ke arah jenazah sang Ayah, dia beranjak mendekatinya dan menggenggam kedua tangan Marco yang berada di atas perut.
__ADS_1
"Ayah, aku tidak bisa mengingat kenangan indah tentang kita! Tapi aku ingat saat di mana tangan kekar ayah berhasil menangkap tubuh kecilku yang akan terjatuh, dan tangan Ayah pula lah yang menghalangi orang jahat saat ingin menyerangku! Terima kasih, Ayah!"
Rafa mengusap air mata yang menetes diwajahnya, dia lalu berbalik dan kembali duduk di samping Ammar.
Kemudian mereka semua memandikan dan mengkafani jenazah Marco, mereka juga menshalatkannya dan mengantar almarhum ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Setelah semua selesai, mereka berkumpul di ruang keluarga. Para sanak keluarga Marco mulai berpamitan pulang, tinggallah keluarga Ammar, Sean dan keluarga Ibu Lena saja yang masih berada di rumah itu.
Rafa mengajak Sean dan Atha keruang kerjanya karna ada sesuatu yang ingin dia bicarakan, tak lupa Ammar juga mengikuti mereka karna ingin tau apa yang lelaki itu katakan.
"aku ingin mengucapkan terima kasih atas kedatangan dan dukungan kalian semua untuk keluargaku, aku berdo'a agar Allah membalas semua kebaikan kalian!" ucap Rafa saat sudah berkumpul di ruang kerja.
"kau ini bicara apa, Rafa! Kami ini keluargamu, sudah sepantasnya kami ada di sini dan bersama denganmu!" balas Sean dengan tajam, dia tidak suka dengan apa yang Rafa katakan.
"Benar, Kak! Kita ini keluarga, jadi tidak ada ucapan terima kasih untuk semua ini!"
Rafa tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan meletakkan sebuah kotak ke atas meja.
"Ini adalah pemberian terakhir dari Ayah, aku ingin kalian semua melihatnya!"
Rafa segera membuka kotak itu untuk menunjukkan apa yang ada di dalamnya, begitu kotak itu terbuka. Mata semua orang membulat sempurna saat melihat isi dari kotak tersebut.
"I-itukan ...!"
•
•
•
Terima kasih yang udah baca 😘
__ADS_1