Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 39. Sepiring Omlete.


__ADS_3

Sementara itu, di tempat lain terlihat Sita dan Rafa sedang berjalan turun dari kamar mereka menuju dapur.


"apa masih sakit?" tanya Rafa, dia menahan senyum saat melihat bagaimana Sita berjalan.


"E-enggak kok, Mas! cuma sedikit perih saja."


Sita mencoba untuk menahan kakinya yang sedikit bergetar, dia tidak menyangka kalau stamina dan aset Rafa bisa sampai membuatnya lemas tak berdaya.


"Wah-wah, kalian baru bangun?"


Sean tersenyum lebar seraya mengejek mereka, pasalnya selama ini Sita tidak pernah turun dari kamar di atas jam 7 pagi. Akan tetapi, saat ini mereka baru turun tepat pukul 9 pagi.


"maaf, Kak! Kami kesiangan," ucap Rafa, dia lalu menarik kursi untuk Sita dan mendudukkannya dengan hati-hati.


Sean menundukkan kepalanya sembari menahan tawa, ingin sekali dia mengejek adiknya lagi tetapi melihat raut wajah Sita dia sudah tidak tega.


"seberapa kuat Rafa menggempurmu, Sofia? Sampai untuk jalan saja kau sampai tidak sanggup!"


"Kak?"


Sean kembali mendapatkan kesadarannya saat mendengar suara panggilan Sita dan beralih melihat ke arahnya.


"pagi-pagi jangan melamun, Kak! Nanti rezekinya di ambil orang loh,"


"heleh, itu cuma mitos!" bantah Sean.


"Tapi, apa kalian tidak ingat kalau hari ini kalian pergi ke Dubai?"


Sita dan Rafa saling pandang, sedetik kemudian mereka baru ingat kalau pagi ini seharusnya mereka sudah pergi ke bandara.


"maaf, Kak! Kami lupa," ucap Rafa, dia heran kenapa bisa lupa tentang hal sepenting itu padahal dia punya ingatan yang sangat kuat tentang apapun.


"Lalu, bagaimana?"


Sita merasa bingung, apakah mereka masih bisa pergi ke Dubai atau tidak saat ini.


"Kenapa wajahmu seperti itu, Sweetu? Kau tidak perlu khawatir, Kakak sudah mengatur semuanya. Kakak tau kalau kalian pasti akan bangun kesiangan hari ini,"


Sita menundukkan kepala dengan wajah merah padam, begitu juga Rafa yang menutupi kegugupannya dengan menikmati makanan dan minuman yang ada di hadapannya.


Sean telah mengatur kepergian mereka tepat pukul 2 siang, mereka masih punya waktu untuk bersiap dan kembali istirahat.


Setelah selesai sarapan, Sean segera berangkat ke kantor bersama dengan Soni yang baru tiba di rumah itu. Sementara Rafa dan Sita kembali ke kamar untuk menyiapkan barang-barang mereka.


"Em ... Mas! Apa aku boleh mengatakan sesuatu?"


Rafa yang sedang sibuk dengan ponselnya mendongakkan kepala, dia lalu meletakkan ponselnya ke atas meja dan berjalan mendekati Sita yang sedang duduk bersilah di atas lantai.


"M-mas! Apa yang kau lakukan?"

__ADS_1


Sita merasa terkejut saat tubuhnya di angkat oleh Rafa, lelaki itu lalu memindahkannya ke atas ranjang.


"ma-mau ngapain Mas?" tanya Sita dengan gugup.


"dilantai dingin, nanti kamu masuk angin!"


Sita tersenyum malu karna sudah berpikir yang tidak-tidak, dia kira suaminya ingin melakukan ehem lagi dengannya.


"Oh iya, kamu tadi mau bilang apa?"


Rafa mendudukkan pantatnya di samping Sita sembari menyandarkan kepalanya ke bahu wanita itu.


"tunggu, ini enggak salahkan? Kenapa Mas Rafa jadi sedikit manja begini?"


"Sofia?"


"Y-ya, ah itu Mas! Aku merasa ada yang mencurigakan di rumah ini!"


Rafa mendongakkan kepalanya, dia menatap Sita dengan penuh tanda tanya akan apa yang tadi wanita itu katakan.


Sita lalu menceritakan kalau dia pernah memergoki salah satu penjaga sedang berbicara dengan seseorang ditelpon membicarakan antara dia dan Kakaknya, dia juga sering memergoki penjaga itu asik berlalu-lalang di depan ruang kerja Sean saat Kakaknya dan Soni berada di dalam ruangan itu.


"Yah, mungkin bisa jadi dia mata-mata dari seseorang. Tapi, kita jangan bertindak gegabah. Aku akan membicarakan hal ini pada Kakak dulu!"


Sita menganggukkan kepalanya, dia merasa khawatir kalau ada seseorang yang berniat jahat pada keluarganya.


Dia yang masih berada di dalam kamar cepat-cepat keluar walau tertatih-tatih, dia takut kalau Atha sampai meledakkan apartemen itu.


"huh, dasar tikus siala*n! Bisa-bisanya dia masuk ke dalam apartemen kesayanganku!"


"Atha! Apa yang sedang kau lakukan?"


Atha terjingkat kaget saat mendengar suara Sita, refleks spatula yang sedang dia pegang terjatuh membentur lantai.


Prang! Syifa menutup kedua telinganya karna suara nyaring itu, begitu juga dengan Atha yang langsung mengambil barang terkutuk itu.


"Sebenarnya kau sedang apa? Perang?"


Syifa memperhatikan seisi dapur yang memang terlihat seperti habis perang, di mana semua barang-barang tergeletak di atas lantai.


"tadi ada ti*kus, jadi aku-"


"Ti-ti*kus?"


Syifa langsung naik ke atas kursi saat mendengar ucapan Atha, betapa gelinya dia saat melihat binatang kecil berbulu itu.


"kau takut ti*kus?"


"Ti-tidak!"

__ADS_1


Syifa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku cuma geli saja!"


Atha tersenyum lebar, saat ini dia sudah tau kelemahan wanita itu hingga suatu saat nanti dia bisa memanfaatkannya.


"sekarang sudah tidak ada!"


"Be-beneran?"


Atha menganggukkan kepalanya, dia lalu membantu Syifa untuk turun dari singgah sananya.


"Ssshh!"


Syifa kembali meringis saat rasa perih kembali datang membuat Atha gemas dan langsung mengecup pipinya.


"Atha!"


"Sayang, aku mau lagi!"


Syifa membulatkan matanya saat Atha sudah memeluk tubuhnya dengan erat, dia tidak akan sanggup lagi untuk bangun kalau sampai Atha kembali menggempurnya.


"a-aku lapar!"


"Astaga, aku lupa kalau kita belum sarapan, Sayang!"


Atha lalu melepaskan pelukannya dan mengambil makanan yang baru saja dia buat, sajian omlete sudah terhidang dipiring yang dia letakkan di atas meja.


"Makanlah, aku tau kalau kau pasti sangat lapar!"


Syifa mendengus sebal, dia lalu mengambil sendok dan mencoba makanan yang suaminya buat.


Sendokan pertama sudah masuk dalam mulutnya, dan seketika wajah Syifa berubah masam dan mencoba untuk menelan makanan itu.


"enggak enak yah?"


"H-hah? E-enak, kok!"


Syifa kembali memakan omlete yang sudah susah payah Atha buatkan, walaupun rasanya sangat naudzubillah.


"Rasa omlete ini benar-benar mencerminkan orang yang membuatnya, asin sekali! Pantas dia maunya kawi*n terus!"





Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2