Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 52. Kembali Sadar.


__ADS_3

"Dengan senang hati saya akan menolong anda, Tuan!"


Sean dan Atha berjabat tangan untuk saling membantu satu sama lain, saling melindungi dan menjaga untuk melawan musuh mereka.


"Jadi, apa benar kalau Danu yang melakukan semua ini?"


Sean menganggukkan kepalanya. "Lebih tepatnya Danish, saat ini dia sedang berada di Kota ini juga!"


Atha mengangguk-anggukkan kepalanya walaupun dia tidak mengenal seseorang yang disebut oleh Sean tadi.


"setelah kondisi Sita dan Rafa pulih, aku akan segera kembali pulang dan mengumpulkan semua anggotaku! Tapi aku harap, kau juga bisa ikut bersamaku!"


"Tentu saja, Tuan! Aku juga akan menghubungi semua anak buahku, aku harap kita bisa mengalahkan mereka!"


Sean menganggukkan kepalanya, dia juga mengatakan perihal keberadaan Marco yang harus mereka manfaatkan sebaik mungkin.


"Tapi, Ammar tidak akan menyetujui rencana ini!"


Yah, Sean juga tau kalau keluarga Ammar tidak akan setuju dengan apa yang akan mereka lakukan. Akan tetapi, semua ini berkaitan dengan keselamatan adiknya. Jika dia tidak melakukan serangan, maka dia sendiri yang nantinya yang akan diserang.


"Aku tetap harus melakukannya, Atha! Kau tau sendiri bagaimana permainan dalam dunia gelap, jika tidak ingin dibunuh, maka kita duluan yang harus membunuh!"


Atha sendiri juga sudah tau bagaimana kejamnya dunia mafia, bahkan polisi saja tidak berkutik jika berhadapan dengan mereka.


Setelah obrolan mereka selesai, Atha dan Sean lalu keluar dari tempat itu dan kembali ke rumah sakit. Terlihat Syifa dan Soni masih setia berada di depan ruang ICU.


"lebih baik kau bawa saja Syifa ke hotel yang ada disekitar sini, dia pasti lelah dengan perjalanan panjang kalian!" saran Sean sembari tetap melangkahkan kakinya.


Atha menghela napas kasar. "Dia pasti akan menolaknya mentah-mentah!" Yah, dia sangat yakin dengan itu.


"Kau kan selalu punya jurus jitu untuk menjinakkannya!"


Atha memalingkan wajahnya ke arah Sean yang tampak sedang menahan tawa, sementara dia sendiri juga tersenyum lucu dengan apa yang lelaki itu katakan.


"Kau dari mana saja, Atha?"


Atha yang baru sampai di hadapan Syifa langsung disembur oleh istrinya itu. "Kenapa? Apa kau merindukankanku?"


"Cih!"


Syifa berdecih mendengar ucapan Atha, tetapi sepertinya apa yang dikatakan suaminya itu adalah benar. Pasalnya, saat ini dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Atha yang sedang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"lebih baik kalian istirahat di hotel saja, Syifa! Biar aku dan Paman Soni yang menjaga mereka!"


"Tidak, Mas! Aku masih ingin di sini!"


Benar dugaan mereka kalau Syifa pasti akan menolak tawaran dari Sean, wanita itu memang selalu keras kepala dalam hal apapun juga.


"kita memang harus istirahat, Sayang! Aku merasa sangat lemah dan tidak enak badan sekarang!" lirih Atha, kali ini dia mulai memainkan trik agar istrinya mau di ajak untuk istirahat di hotel.


"Apa perlu ku panggilkan Dokter?"


Sean hampir saja tertawa lepas karna melihat wajah kesal Atha, sementara Soni hanya diam menperhatikan Tuannya yang sedang menahan tawa.


"Aku lelah karna kurang istirahat, bukan karna sakit dan butuh pemeriksaan Dokter!"


Atha berdiri dan berlalu pergi dari tempat itu dengan wajah cemberut, sementara Syifa melihat kepergiannya dengan bingung.


"apa yang terjadi padanya? Apa dia sedang kesambet?"


"kenapa kau tidak menyusulnya, Syifa? Nanti Atha hilang loh!" seru Sean sembari tersenyum tipis.


Syifa sebenarnya malas sekali untuk meladeni apa yang Atha lakukan, tetapi apa yang Sean katakan ada benarnya juga. Jangan sampai suaminya membuat keributan di tempat itu.


Syifa bangun dan menyusul langkah suaminya saat sudah mendapat anggukan dari Sean, awas saja kalau dia menemukan Atha, dia akan membuat perhitungan dengan lelaki itu.


Setelah kepergian Syifa, Soni melihat pergerakan dari Rafa dan juga Sita. Dia segera memanggil Dokter untuk memeriksa kondisi mereka saat ini.


"bagaimana Dokter?" tanya Sean.


"Tuan Rafa dan istrinya sudah sama-sama sadar, Tuan! Dan kondisi mereka saat ini baik-baik saja."


Sean dan Soni bernapas lega saat mendengar apa yang Dokter itu katakan. "Apa aku bisa menemui mereka?"


"Tentu saja, Tuan! Tapi, kami akan memindahkan kedua pasien dulu ke ruang perawatan."


Sean menganggukkan kepalanya, kemudian dia dan Soni menunggu sampai Rafa dan Sita dipindahkan ke ruang perawatan.


"Mas!" panggil Sita lemah, tangannya ingin sekali menggenggam tangan sang suami yang sedang melihatnya dengan mata berkaca-kaca.


"Iya Sayang ... Aku di sini!"


Rafa berusaha untuk bangun tetapi Dokter langsung melarangnya karna kondisinya saat ini belum benar-benar stabil.

__ADS_1


"tapi aku ingin berada di samping istriku!" pinta Rafa membuat Dokter itu mengerti dengan apa yang pasiennya itu rasakan.


"Saya mengerti, Tuan! Kami akan segera memindahkan anda dan istri anda ke ruang perawatan, kami juga akan meletakkan ranjang anda berdekatan dengan istri anda!"


Rafa mengangguk lemah, dia lalu kembali melihat ke arah Sita yang memandangnya dengan sendu. Ingin sekali dia memeluk tubuh istrinya dan menghujaninya dengan seribu ciuman, dia bersyukur kalau saat ini kondisinya dan Sita sudah baik-baik saja.


Para petugas medis segera memindahkan mereka ke ruang perawatan dan meletakkan ranjang Rafa tepat di samping ranjang Sita, memudahkan mereka untuk saling berkomunikasi.


Sean sendiri langsung masuk ke dalam ruangan untuk menemui Rafa dan juga Sita, tangisannya pecah saat melihat sang adik tersenyum padanya.


"Sofia!"


"Kakak!"


Sean memeluk tubuh Sita dengan erat seraya menangis haru, dia merasa bersyukur karna saat ini adiknya sudah sadar.


"Maafkan Kakak, Sweetu! Kakak tidak bisa menyelamatkanmu-"


"Kak, kakak tidak perlu minta maaf! Aku sangat senang saat ini melihat kakak di tempat ini!"


Sita membalas pelukan sang Kakak walaupun masih sangat lemah, dia terus menenangkan kakaknya yang pasti merasa khawatir dengan apa yang terjadi padanya.


Sean lalu beralih memeluk Rafa, dia juga tidak kuasa menahan tangisannya saat melihat banyaknya luka ditubuh Rafa.


"maafkan aku, Kak! Aku tidak bisa menjaga istriku!'


"Tidak, Rafa! Kau adalah suami yang sangat hebat, terima kasih karna sudah menepati janjimu untuk menjaga adikku!"


Rafa menganggukkan kepalanya dengan tangannya yang menggenggam tangan sang istri.


"Sebenarnya bulan madu macam apa ini?"





Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2