
"Karna aku sudah tidak tahan untuk memakanmu!"
Syifa langsung mencubit lengan Atha membuat lelaki itu berteriak kesakitan, dia lalu berjalan cepat ke arah mobil lelaki itu dengan perasaan kesal bercampur dengan malu.
Mereka lalu pergi dari bandara menuju rumah Papa Aldo karna Syifa ingin menemui mereka, apalagi dia tau kalau kesehatan Nenek Maya sedang menurun saat ini.
"kenapa kau gak bilang kalau pulang, Sayang?" tanya Atha tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
"Untuk apa bilang, toh kau juga sudah tau kan!"
Syifa mendengus sebal, niat hati ingin membuat kejutan tetapi suaminya malah sudah tau kalau dia pulang hari ini.
Atha tersenyum lebar melihat wajah cemberut istrinya, dia lalu menggenggam tangan Syifa membuat wanita itu sedikit kaget.
"Aku juga enggak tau kok, tapi untungnya aku tidak sengaja mendengar obrolan Tuan Sean dan sekretarisnya. Selamat Sayang, kau berhasil membuatku terkejut!"
Syifa langsung tertawa mendengar kalimat terakhir yang Atha ucapkan, bagaimana mungkin suaminya itu bisa mengatakan kalau dia terkejut sedangkan wajahnya tidak terkejut sama sekali.
Tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai di halaman rumah Papa Aldo. Mereka bergegas untuk turun dan masuk ke dalam rumah itu.
"assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam!"
Syifa langsung menyalim tangan Papa Aldo dan juga Nenek diikuti oleh Atha juga, terlihat keluarga Atha sengaja menunggu kedatangan mereka.
"bagaimana kabar Papa dan Nenek?" tanya Syifa, dia duduk di samping Nenek Atha sembari menggenggam tangannya.
"Alhamdulillah kabar Nenek baik, Nak! Kalau Papamu, jangan ditanya! Dia selalu baik dan tahan banting!"
Semua orang tertawa mendengar kelakar Nenek Maya, wanita tua itu juga ikut tertawa melihat semua keluarganya berkumpul.
__ADS_1
"Jadi, apa kau sudah membawa kabar bahagia untuk kami, Nak?"
Nenek Maya menyentuh perut Syifa membuat wanita itu tersipu malu, sementara Atha sudah harap-harap cemas, dia takut kalau Syifa merasa tertekan dengan pertanyaan yang Neneknya lontarkan.
"Nek, kami masih ingin menikmati waktu berdua, dan belum memikirkan soal anak!"
Syifa yang ingin menjawab pertanyaan Nenek Maya langsung terdiam saat mendengar ucapan Atha, hatinya tiba-tiba berdenyut sakit dengan sesak yang mulai menyelimuti dadanya.
"Yah Nenek mengerti, hanya saja umur Nenek sepertinya tidak bisa menunggu lebih lama lagi!"
Syifa langsung memeluk tubuh Nenek Maya saat mendengar ucapan wanita tua itu, begitu juga dengan Atha yang langsung berpindah tempat duduk di sampingnya.
"Nenek ngomong apa sih? malaikat maut belum mau menjemput Nenek!"
Atha terlihat marah, dia paling tidak senang kalau Neneknya mulai membahas soal kematian.
"umur siapa yang tau, Atha! Nenek hanya-"
Atha bangun dan beranjak ke dapur membuat Neneknya mendessah kasar, sementara Syifa terus melihat ke arah suaminya yang mulai menjauh darinya.
"Mama ini ngomong apa sih? Mama itu masih sehat dan berumur panjang, jadi jangan mengatakan hal seperti itu lagi!"
Papa Aldo bangkit dan mengecup pipi Nenek Maya, setelah itu dia beranjak pergi ke lantai dua meninggalkan Nenek Maya dan Syifa diruangan itu.
"begitulah Ayah dan anak itu, selalu saja menahanku untuk menghadap Tuhan! Bagaimana aku bisa pergi dengan tenang, kalau mereka seperti itu?"
"Nek ...!"
Syifa mengusap air mata yang berhasil lolos disudut mata Nenek Maya, terlihat wanita tua itu tersenyum sembari melihatnya.
"Nenek senang karna Atha menikah denganmu, Nak! Dia sangat pintar memilih istri yang baik, sholehah dan pengertian pada seluruh keluarga! Terima kasih karna telah menerima cucu Nenek!"
__ADS_1
Syifa memeluk tubuh Nenek Maya dengan erat, tangisannya pecah begitu saja saat menyadari bahwa dia sebenarnya jauh dari kata baik ataupun sholehah seperti yang Nenek Maya katakan.
"jangan menangis, Nak! Karna air matamu adalah air mata kami, dan kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami! Kau adalah sebuah mutiara yang Allah berikan untuk keluarga Nenek!"
"Nek!"
Syifa mulai merenggangkan pelukannya dan menatap wajah tua itu dengan sendu.
"aku masih jauh dari kata baik dan sholehah, Nek! Aku juga masih harus banyak belajar untuk memperlakukan suamiku dengan baik," lirih Syifa.
Nenek Maya mengusap wajah Syifa yang saat ini tertunduk di hadapannya, dia merasa bersyukur karna disisa akhir hidupnya, dia bisa melihat kebahagiaan dan ketentraman dalam rumah tangga cucunya.
"Berbahagialah, Nak! Nenek selalu mendo'akan yang terbaik untuk rumah tangga kalian, dan jangan lupa, hajar saja suamimu kalau dia berani macam-macam!"
Syifa menganggukkan kepalanya sembari mengusap air mata yang masih membekas diwajahnya, dia bersyukur mendapatkan keluarga yang sangat baik seperti mereka.
"Aku berjanji akan memperbaiki semua sifat dan perbuatanku, Nek! Aku akan memperlakukan suamiku dengan baik, aku juga akan mencurahkan seluruh perhatian dan cinta untuknya!"
Syifa berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menolak kehadiran Atha, apalagi lelaki itu sudah banyak berkorban untuknya. Sudah sepantasnya dia membalas dan memperlakukan Atha dengan baik.
Tanpa Syifa dan Nenek Maya sadari, sejak tadi Atha terus menguping pembicaraan mereka. Dia senang karna Syifa tidak tersinggung dengan apa yang Neneknya tanyakan.
"Keputusan terbesar dalam hidupku yaitu saat memutuskan untuk menikahimu, Syifa! Dan sampai saat ini, aku tidak pernah menyesal akan keputusan itu! Bahkan, aku pasti akan sangat menyesal jika melepaskanmu!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘