Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 16. Keputusan Untuk Menikah.


__ADS_3

Setelah melihat mobil Sean pergi, Rafa juga beranjak mendekati mobilnya. Dia harus segera kembali ke kantor sebelum pekerjaannya semakin menumpuk.


"Tunggu!"


Rafa yang akan masuk ke dalam mobil mengurungkan niatnya saat mendengat suara seseorang, dia mengerutkan keningnya karna merasa kenal dengan suara tersebut.


"Kau!"


Rafa menatap tajam ke arah Sita yang sedang berjalan mendekatinya, dia tidak menyangka kalau Sita masih berada di tempat itu.


"apa sudah puas Mas, melihatnya?" tanya Sita, ternyata dia tau kalau sejak tadi Rafa memperhatikan mereka.


Rafa tersenyum tipis, ternyata dia telah meremehkan kepintaran Sita yang tidak pernah dia sangka-sangka sebelumnya.


"apa yang Mas lakukan di sini? bukan cuma untuk melihat kami, kan?" tanya Sita kembali.


"Aku ada urusan disekitar sini, dan tidak sengaja melihat kalian!"


Rafa mencoba untuk menjelaskan bahwa dia tidak dengan sengaja mengikuti mereka, walaupun pada akhirnya dia mengintip ke dalam ruangan itu.


"Yah, aku juga melihat mobil Mas! itu sebabnya aku tau kalau Mas ada disekitar sini,"


Mereka berdua seolah saling menjelaskan tentang keberadaan mereka di tempat itu.


"Kalau gitu, apa aku boleh menumpang mobil Mas?"


Rafa menganggukkan kepalanya dan berlalu masuk ke dalam mobil diikuti oleh Sita yang harus menumpang dengannya karna Sean sudah pergi dari tempat itu.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Atha sedang berbincang dengan keluargnya. Dia mengatakan kalau ingin menikah dengan seorang gadis dalam waktu dekat.


"Kau mau langsung menikah?"


Papa Aldo melihat Atha dengan heran, biasanya orang lain akan meminta izin untuk melamar seseorang, tetapi Atha malah minta izin untuk langsung menikah dengan gadis pilihannya.


"iya, Pa! aku ingin langsung menikah dengannya,"


"dia tidak sedang hamilkan?"


"apa?"


Atha merasa terkejut dengan ucapan Papanya, dia lalu mengibas-ngibaskan tangannya untuk membantah apa yang Papanya itu katakan.


"aku bahkan belum pernah menyentuhnya, bagaimana mungkin dia bisa hamil?"


Atha merasa kesal, andai yang dikatakan Papanya adalah benar, sudah pasti dia akan lebih mudah menikah dengan Syifa.


"Papakan cuma nanya, habisnya kau terlalu terburu-buru untuk nikah! apa kau sudah tidak tahan?"


Atha ingin sekali meremmas mulut Papanya, giliran dia berkata serius, Papanya masih saja mengatakan yang tidak-tidak.


"Papa, aku serius kalau aku ingin menikah!" ucap Atha dengan penuh penekanan, seperti berkata jika Papanya tidak setuju maka dia akan kawin lari.

__ADS_1


"Ya ya, terserah kau sajalah! lagiankan kau yang mau nikah, bukan Papa!"


Papa Aldo bangkit dan berlalu ke kamarnya meninggalkan Arthur dan Neneknya yang sedang merajut pakaian.


"Cih, dasar Papa!"


Arthur lalu beralih duduk di samping sang Nenek, dia menarik rajutan Neneknya sampai wanita tua itu berteriak.


"Kembalikan, Arthur! Nenek mau buat pakaian untukmu!"


Bukannya mengambalikan, Arthur malah meletakkan rajutan itu di atas lemari membuat Neneknya kesal.


"Nek, aku mau nikah loh! masak Nenek gak ada tanggapan apa-apa sih?"


Arthur merasa kesal dengan keluarganya, dia merasa kalau kehadirannya tidak pernah dianggap oleh mereka.


"Nenek senang kalau memang kau ingin menikah, tapi Nenek tidak yakin kalau kau akan setia dengan istrimu!"


Semua keluarga Arthur sudah tau kalau dia sering bergonta-ganti wanita, membuat mereka tidak percaya kalau dia akan menikah.


"Tapi kali ini aku akan setia, Nek! karna aku mencintainya!"


Arthur mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Syifa yang dia ambil diam-diam saat pesta resepsi Ammar dan Zulaikha.


"Masyaallah, dia cantik sekali, Arthur! dia pasti sial kalau berjodoh denganmu!"


"Apa? teganya Nenek bilang kayak gitu!"


"sudah-sudah, nanti Nenek kehabisan napas!" seru Neneknya.


"Kalau kau memang serius ingin menikah dengannya, berjanjilah pada dirimu sendiri kalau kau tidak akan pernah menyakiti dan meninggalkan istrimu walau dalam keadaan apapun!"


Arthur menganggukkan kepalanya mendengar ucapan sang Nenek, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu membahagiakan Syifa.


"Ya sudah, besok bawa wanita itu ke sini!"


Nenek itu bangkit dan berlalu ke kamarnya, sementara Arthur juga merasa lelah dan ingin segera istirahat.


****


Keesokan harinya, Arthur bersiap untuk menemui Syifa. Dia ingin mengungkapkan keinginannya dan berharap kalau Syifa akan menerima ungkapan cintanya.


Akan tetapi, Atha merasa sedikit bingung. Jika dia mengungkapkan perasaannya, sudah jelas Syifa tidak akan menerimanya, atau bahkan wanita itu tidak akan memperdulikannya.


"Tidak! aku harus mencari cara agar dia mau menerimaku!"


Atha memutar otak untuk menemukan cara agar Syifa mau menerimanya walaupun dengan terpaksa atau dengan paksaan.


Setelah menemukan setitik cahaya, Atha segera berangkat ke rumah Syifa. Sepanjang perjalanan dia terus berdo'a semoga tidak ada masalah dengan kesehatan wanita itu saat ini.


Tidak berselang lama, Atha sudah sampai di rumah Ammar. Dia segera turun dari mobil dan sedikit merapikan pakaiannya, tangan Atha menyentuh sebuah kotak yang ada di dalam saku kemejanya berharap kalau apa yang dia siapkan akan sesuai dengan ukuran jari manis Syifa.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum!"


Syifa yang saat itu sedang bersama Zulaikha di dapur langsung ke ruang depan untuk melihat siapa yang bertamu ke rumah itu.


"Wa'alaikum salam, kau?"


Atha masuk ke dalam rumah tanpa dipersilahkan dan duduk disofa yang ada di ruangan itu.


"bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Atha dengan senyum manis diwajahnya.


"Aku baik! tapi apa yang kau lakukan di sini?" Syifa menyipitkan matanya menatap curiga pada Atha.


"aku ingin mengajakmu ke suatu tempat!"


"dan aku tidak ingin ikut denganmu!"


Syifa langsung menjawab ucapan Atha tanpa berpikir terlebih dahulu, terlihat jelas kalau wanita itu juga akan langsung menolak pernyataan cinta Atha dengan hitungan detik.


"kau harus mau, karna ini sebagai ucapan terima kasih karna aku sudah menolongmu!"


"Apa?"


Syifa melihat Atha dengan bingung, dia tidak menyangka kalau lelaki itu sangat perhitungan.


"bagaimana kalau aku tetap tidak mau? apa kau akan memaksaku?"


"tentu saja! kalau kau tetap menolak, itu artinya kau bukanlah orang yang tau terima kasih!"


Atha sengaja memancing amarah Syifa agar wanita itu mau menerima ajakannya.


"Baiklah, aku akan pergi bersamamu!"


Atha tersenyum lebar saat mendengar ucapan Syifa, dia bersyukur karna ucapannya berhasil membuat wanita itu murka.


"Tapi harap kau ingat, Atha! ini terakhir kalinya aku membalas pertolonganmu, jika suatu saat nanti kau kembali mengungkitnya, maka aku tidak akan peduli!" ucapnya dengan tajam.


"Tentu saja, aku tidak akan mengungkitnya lagi!"


Syifa bangkit dan berlalu pergi ke kamarnya dengan kesal, dia berharap kalau semua ini bisa cepat berlalu dan Atha tidak lagi mengungkit tentang pertolongannya.


Atha terus melihat ke arah Syifa pergi, jantungnya berdegup kencang karna merasa gugup dengan apa yang akan dia katakan pada wanita itu.


"baiklah Atha, kau pasti bisa!"





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2