Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 15. Kecerdasan Sita.


__ADS_3

Seseorang yang ditelpon oleh lelaki itu terdengar sangat terkejut dengan apa yang dia laporkan, dia sendiri pun juga terkejut saat mendengar kabar yang beredar di kalangan para pelayan.


"Tetap awasi mereka!" Tut, panggilan terputus begitu saja setelah seseorang yang ditelpon memberi perintah.


Sementara itu, Sean dan yang lainnya sudah sampai di tempat tujuan. Mereka lalu mengikuti langkah Soni untuk menemui penjahat yang berniat untuk membunuh mereka.


"Buka penutup kepalanya!" perintah Soni pada anak buahnya yang menjaga penjahat itu, mereka lalu melakukan sesuai dengan apa yang Soni perintahkan.


Pandangan yang tadinya gelap kini berubah menjadi terang, itulah kenapa sebabnya penjahat itu kesusahan untuk membuka kedua matanya.


Setelah pandangannya jelas, dia membulatkankan matanya saat melihat lelaki yang dia kenali sedang berdiri tegak dihadapannya.


"Kenapa? kau terkejut melihatku?"


Sean menarik sebuah kursi dan duduk dihadapan lelaki itu, sementara Sita dan Soni masih berdiri di samping kanan dan kiri Sean.


"Tidak, aku sudah menduganya kalau anda pasti akan menangkapku!"


Sean tersenyum sinis, dia tidak menyangka lelaki itu berani mengatakan hal demikian.


"kau juga pasti sudah bisa mendugakan, kalau aku akan membunuhmu?"


Lelaki itu terdiam, yah dia juga tau bagaimana kejamnya Sean saat berhadapan dengan lawannya, apalagi dengan orang yang berusaha untuk membunuhnya.


"Kenapa diam? apa kau tidak tau?"


Sean kembali bangkit, dia lalu berjalan ke arah sebuah rak yang ada di belakangnya.


"Sofi, apa kau bisa menunggu Kakak diluar?"


Sita membalikkan tubuhnya, dia melihat ke arah Sean yang sedang membelakanginya.


"kenapa, Kak? aku masih ingin di sini!" tolak Sita.


Sean terdiam, tangannya sudah menggenggam sebuah pisau tetapi dia tidak mau kalau Sita sampai melihat apa yang akan dia lakukan.


"tidak apa-apa, Kak! aku tidak akan melarang apapun yang akan Kakak lakukan, aku hanya akan melihat tanpa bersuara!"


Sita tau apa yang akan dilakukan oleh sang Kakak, itulah sebabnya dia disuruh untuk keluar dari ruangan itu.


Mendengar ucapan Sita, Sean lalu berbalik dan kembali mendekati lelaki itu dengan pisau ditangannya.


Lelaki itu bergidik ngeri saat melihat pisau yang Sean pegang, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang agar keluarganya yang berada ditangan seseorang tetap aman.


"Kenapa? kau takut dengan ini?"


Sean menunjukkan pisau yang dia bawa, terlihat jelas kalau pisau itu bisa mencincang daging manusia.

__ADS_1


"Dengan pisau ini, aku bisa langsung mengirimmu ke akhirat!"


Jleb, lelaki itu memejamkan matanya saat Sean mengarahkan pisau itu ke tubuhnya. Akan tetapi, dia kembali membuka matanya saat tidak merasakan sakit di area tubuhnya.


"wah, hebat sekali! dengan pisau ini saja kau takut, bagaimana kalau aku melakukan apa yang telah kau lakukan pada adikku?"


Lelaki itu terdiam, sesungguhnya dia sama sekali tidak berniat untuk menabrak Sita, tapi Sean lah target utamanya.


"Katakan! siapa yang sudah menyuruhmu?"


Sean mencabut pisau yang tertancap dikursi yang diduduki oleh lelaki itu.


"tidak ada yang menyuruhku, aku melakukannya atas kehendakku sendiri,"


"apa kau pikir aku bodoh? hah!" teriak Sean, suaranya memenuhi seluruh ruangan itu. Dia sudah sangat bersabar sekarang, dia masih menahan diri karna ada Sita di ruangan itu.


"aku mengatakan yang-"


"tutup mulutmu! aku bahkan tidak pernah mengenalmu, bagaimana mungkin kau ingin membunuhku?"


Lelaki itu terdiam, dia bingung harus mengatakan apa pada Sean.


"Sekarang cepat katakan sebelum kesabaranku habis!"


Sean mencengkram kuat pisaunya, jika dalam hitungan detik lelaki itu tidak bicara, maka dia akan menusukkan pisau itu tepat kejantungnya.


Lelaki itu terlihat bingung, keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Tangannya bergetar karna merasa takut, dia lalu memejamkan mata untuk menerima segalanya.


Sean yang sudah merasa tidak sabar langsung mengarahkan pisaunya tepat ke dada lelaki itu, tetapi saat dia ingin menusuknya, Sita menahan tangan Sean membuatnya langsung melihat Sita dengan tajam.


"apa-apaan ini, Sofia!" Sean murka.


"maaf, Kak! aku tidak bermaksud menghalangi Kakak, tapi kalau Kakak membunuhnya, maka kita tidak akan tau siapa yang sudah menyuruhnya untuk membunuh Kakak!"


"Aku tidak peduli, aku akan mencarinya sendiri sampai ke ujung dunia sekalipun!"


Sita tersenyum, dia lalu menarik tangan Sean agar menurunkan pisau yang sedang lelaki itu pegang.


"Aku percaya kalau Kakak pasti bisa menemukannya, tapi, kalau Kakak membunuhnya, bukan hanya dia yang akan mati, tapi juga keluarganya!"


Lelaki yang ada dihadapan Sean langsung melihat ke arah Sita dengan bingung, begitu juga dengan Sean dan juga Soni.


"ayolah, Kak! pasti orang yang menyuruhnya sudah menyandra keluarga lelaki itu, itu sebabnya dia tidak berani membuka suara!"


sejak tadi Sita terus memperhatikan raut wajah lelaki itu, terlihat jelas kalau dia ingin mengatakan sesuatu, tapi rasa takut dalam dirinya membuatnya terpaksa bungkam.


"Apa yang ku katakan benar?"

__ADS_1


Lelaki itu menganggukkan kepalanya. "Aku hanya diperintah untuk membuntuti anda, dan melaporkan apapun yang anda lakukan. Tetapi, tiba-tiba mereka menyuruhku untuk menabrak anda. Awalnya aku tidak mau, tapi mereka mengancam akan membunuh anak dan juga istriku!"


Sean dan Soni melihat Sita dengan kagum, kecerdasan dan ketelitiannya tidak berubah sama sekali.


"mereka? siapa mereka?" tanya Sita kembali.


"Aku tidak tau, aku hanya mendengar suara mereka saja dan tidak pernah bertemu dengan mereka!"


Sita melihat ke arah Sean dan juga Soni, seolah-olah bertanya apa yang harus dilakukan saat ini.


Sean tersenyum, dia mengusap kepala Sita dengan bangga. "kenapa bingung? kau lebih hebat dari Kakak, maka biar kau saja yang mengambil keputusan untuk menghukumnya!"


Sita tersenyum, dia lalu kembali melihat ke arah lelaki itu.


"berapa umurmu?"


"29 tahun!" walaupun merasa bingung, lelaki itu tetap menjawab pertanyaan Sita.


"Bekerjalah denganku, maka aku akan melindungi keluargamu!"


Lelaki itu sangat terkejut dengan apa yang Sita katakan, begitu pula dengan Sean dan juga Soni. Bukannya menghukum lelaki itu, tapi Sita malah mempekerjakannya.


"Tugasmu hanya satu, cari siapa yang sudah menyuruhmu. Kau masih ingat suara mereka kan?"


Lelaki itu mengangguk, dia masih ingat jelas suara dari orang-orang yang menyuruhnya.


"cari dia disekeliling Kakak, aku sangat yakin kalau pelakunya adalah orang yang berada sangat dekat dengan Kakak. Paman!"


"ya, Nona!"


"apa Paman bisa membuatkan identitas baru untuknya? aku ingin tidak ada lagi yang mengenalinya!"


"tentu, Nona!"


Setelah memutuskan semuanya, mereka akhirnya keluar dari ruangan itu.


Tanpa mereka sadari, ternyata ada seorang lelaki yang sedang memperhatikan mereka.


Rafa yang akan menemui seseorang tidak sengaja melihat Sita dan juga Kakaknya, dia merasa penasaran kenapa orang-orang seperti mereka berada ditempat seperti itu dan memutuskan untuk mencari tau. Dia melihat semua yang terjadi di dalam ruangan yang mereka tempati tadi.


"aku tidak menyangka kalau kau bisa seperti itu, Sita! tapi itu tidak cukup untuk menemukan siapa yang berniat untuk membunuh kalian!"




__ADS_1


Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2