
Sita dan Sean kini sudah sampai di halaman rumah mewah keluarga Pranata, terlihat ada beberapa orang yang menyambut kedatangan mereka.
Mata Sita berkaca-kaca saat baru menginjakkan kakinya di tempat itu, kenangan-kenangan di masa lalu terus berkeliaran dikepalanya hingga membuat tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang.
"Ada apa, Sweetu? apa kau baik-baik saja?"
Sean menahan tubuh Sita yang akan jatuh karna merasa kepalanya sedikit pusing, Sita lalu tersenyum ke arah sang Kakak agar lelaki itu tidak khawatir.
"Aku baik-baik saja, Kak! aku hanya merasa sangat senang dan terharu."
Mereka berdua lalu berjalan ke arah para pekerja yang sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi.
"ya Tuhan, Nona muda!"
"Nona!"
"Nona muda, anda baik-baik saja?"
Suasan haru dan bahagia menyelimuti kediaman Pranata atas kembalinya Nona muda rumah itu, semua pekerja meneteskan air mata karna merasa bahagia melihat Nona muda mereka ternyata masih hidup.
"Aku baik-baik saja, sangat baik! terima kasih karna telah menyambutku!"
Sita berpelukan dengan para pelayannya terkhusus orang-orang yang sudah puluhan tahun bekerja untuk keluarganya, merekalah yang dulu sering menemaninya saat dia berada di rumah.
Setelah temu kangen selesai, Sean membawa Sita masuk ke dalam rumah mereka, Sita semakin terisak dalam pelukan Sean saat melihat tidak ada perubahan sedikitpun dengan rumah itu.
Semua masih tetap sama seperti dulu, Sean tidak mengizinkan siapapun untuk mengubahnya atau hanya sekedar menggeser barang-barang yang ada di rumah itu karna semua itu adalah maha karya dari sang Adik tercinta.
"Sudah bertahun-tahun berlalu, tapi rumah ini masih tetap sama. Lihat! bahkan lukisan jelekku masih tergantung di sana."
Sita menunjuk ke arah sebuah lukisan yang dia buat saat masih berumur 10 tahun, dia dulu tidak mengizinkan siapapun untuk menurunkan lukisan itu karna itu adalah lukisan pertamanya.
"Tentu saja tidak ada yang berbeda, Sweetu! semua masih tetap sama, dan semua inikan hasil kerja kerasmu?"
Sita menganggukkan kepalanya, dia ingat dulu saat dia sedang bosan, dia akan mengajak seluruh pekerja untuk merenovasi rumah itu.
Dia akan mengganti segala hiasan ataupun barang-barang yang ada di rumah, bahkan terkadang dia juga mengubah bangunan ataupun kamar-kamar yang ada di rumah itu sampai membuat semua orang jadi bingung.
Bahkan Sean saja pernah salah masuk kamar akibat perbuatan Sita yang seenaknya saja mengganti-ganti kamarnya, tapi ada satu kamar yang tidak pernah dia ganggu gugat, yaitu kamar mendiang kedua orangtuanya.
Sean dan Sita tertawa saat mengingat masa-masa itu, di mana mereka hanya akan bertemu saat pagi dan petang saja dikarenakan kesibukan Sean yang tidak ada habisnya.
Bahkan dihari libur saja, Sita harus menangis meraung-raung agar Sean membagi waktu untuk liburan bersamanya. Itu sebabnya, Sita banyak menghabiskan waktu bersama dengan para pekerja.
"Selamat siang, Tuan, Nona!"
Sean dan Sita membalikkan tubuh mereka saat mendengar suara seseorang, tampaklah sekretaris pribadi Sean sedang berdiri di hadapan mereka.
__ADS_1
"Paman Soni!"
Sita sangat bahagia saat melihat sekretaris pribadi Sean, begitu juga dengan lelaki paruh baya itu yang memandang Sita dengan mata berkaca-kaca.
"Anda baik-baik saja-"
Soni tidak dapat melanjutkan ucapannya saat tubuhnya di peluk oleh Sita, gadis itu menangis dengan haru karna bisa bertemu dengannya yang sudah seperti Ayah bagi Sita.
Soni mengusap kepala Sita seperti yang dulu biasa dia lakukan. Sejak Sita kecil, dialah yang selalu mendengarkan segala keluh kesah gadis itu.
Sita lalu melepaskan pelukan mereka saat mengingat kalau dia dan Soni bukanlah muhrim, walaupun dia sudah seperti Ayah baginya.
"bagaimana kabar Paman? Paman sehat-sehat saja kan?" tanya Sita kemudian.
"Saya sehat, Nona! apalagi sejak Nona kembali, saya merasa sangat-sangat sehat!"
Sita dan Sean tersenyum mendengar ucapan Soni, lalu mereka semua pergi ke ruang makan untuk menikmati makan bersama.
Setelah selesai makan, Sita memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Sudah bertahun-tahun dia tidak melihat kamarnya dan itu membuatnya sangat rindu.
"Baiklah, kau bisa istirahat di kamar! Kakak akan ke ruang kerja bersama Paman Soni!"
Sita menganggukkan kepalanya, dia lalu pergi ke kamarnya yang berada tepat di samping kamar Sean.
Sita memeriksa semua barang-barangnya yang sama seperti dulu, bahkan buku-buku yang sering dia baca tertata rapi tanpa debu dirak bukunya.
Sita lalu memutuskan untuk mengeluarkan dan menyimpan pakaian-pakaian itu, karna dia tidak ingin lagi memakainya.
Sementara itu, Sean dan Soni yang sedang berada di ruang kerja tengah membahas seseorang yang menabrak Sita, lebih tepatnya Sean.
"Saya sudah menangkapnya, Tuan! dan ini identitas lelaki itu!"
Soni menyerahkan selembar kertas pada Sean yang berisi identitas dari orang yang telah menabrak Sita.
Sean meremmas kertas itu saat sudah selesai membacanya, darahnya mendidih karna emosi yang sedang membara saat ini.
"Ayo, kita pergi!"
Sean bangun dan hendak keluar dari ruangan itu, dia harus menemui lelaki yang sudah berani menabrak Adiknya.
Namun, saat Sean baru membuka pintu. Dia dikejutkan dengan keberadaan Sita yang sedang berdiri tepat di depan pintu ruangannya.
"Sofi? apa, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sean, dia bertanya-tanya apakah adiknya itu mendengar obrolannya dengan Soni atau tidak.
"Aku ingin mengantar kopi untuk Kakak dan Paman!"
Sita menunjukkan dua cangkir kopi yang sedang dia pegang menggunakan nampan.
__ADS_1
Sean langsung mengambil kopi itu dan meminumnya, begitu juga dengan Soni yang merasa senang dengan perhatian gadis itu.
"pelan-pelan saja, kopinya masih panas!" seru Sita.
Sean dan Soni semakin menghabiskan kopi yang Sita buat saat mendengar ucapannya membuat Sita tertawa geli.
"Kopinya enak sekali, makasih yah, Sayang!"
Sean mengusap kepala Sita sembari meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong.
"Oh iya, Kakak mau pergi sebentar! kau baik-baik di rumah yah, kalau bosan panggil saja para pelayan!" pamit Sean, dia lalu mengajak Soni untuk segera pergi saat ini juga.
"Aku ikut, Kak!"
Sean dan Soni yang sudah sampai ditangga kembali membalikkan tubuh mereka, sementara Sita berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
"Aku tau Kakak mau pergi ke mana, dan aku ingin tau siapa yang sudah berniat mencelakai Kakak!"
Dugaan Sean benar kalau adiknya mendengar obrolannya dan Soni.
"Kau di rumah saja, yah Sweetu! Kakak cuma sebentar kok," ucap Sean, dia tidak akan bisa menghajar lelaki itu jika Sita ikut bersamanya.
Akan tetapi, Sita tidak mau mendengarkan ucapan sang Kakak. Dia tetap ingin ikut pergi bersama mereka berdua.
Karna tidak bisa lagi menghalangi Sita, akhirnya Sean mengajak gadis itu untuk pergi bersamanya.
Dari kejauhan, ada seorang lelaki yang sedang mengintai mereka. Dia langsung mengeluarkan ponselnya saat melihat Sean dan yang lainnya sudah pergi dari rumah itu.
"selamat siang, Bos! saya ingin melaporkan hal penting pada Bos!" ucap lelaki itu dengan pelan, agar tidak ada orang lain yang mendengarnya.
"katakan!"
"Hari ini, Tuan Sean membawa adiknya pulang ke rumah!"
"adik? adik siapa maksudmu?" tanya seseorang disebrang telpon.
"Nona Sofia Pranata, Tuan! dia masih hidup!"
"Apa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘