Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 26. Pernikahan, atau bisnis?


__ADS_3

"maafkan aku, tolong jangan takut padaku, Syifa! Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu!"


Syifa yang semula memberontak kini tampak diam, sekuat tenaga dia mencoba untuk menahan segala kecemasan dan ketakutan yang melanda hati dan tubuhnya.


"aku tidak akan menyakitimu, tapi aku mohon jangan takut padaku!" lirih Atha, dia begitu terpukul melihat ketakutan dimata Syifa.


Sekilas Syifa memejamkan mata, menghirup udara dalam hingga memenuhi rongga dadanya.


"Baiklah, tapi lepaskan aku dulu!"


Atha melerai pelukannya, tetapi tangannya masih menggantung dipinggang Syifa.


"aku, aku butuh waktu!" ucap Syifa, dia belum siap jika harus melakukan semua ini.


Atha tersenyum senang, setidaknya saat ini Syifa sudah berani bicara dari jarak dekat seperti ini walaupun dia masih merasakan kalau tubuh Syifa bergetar.


"baiklah, saat ini aku tidak akan melakukan apapun!"


"Te-terima-"


Cup, mata Syifa membulat sempurna saat Atha mendaratkan kecupan singkat dibibirnya, sementara Atha sendiri langsung berbalik dan berjalan cepat menjauhinya.


"Da-da-dasar kurang ajar! beraninya dia menipuku."


Atha tertawa lebar mendengar suara teriakan Syifa hingga tidak sadar kalau saat ini ada beberapa orang di dalam kamar itu.


"Udah gak sabar yah, pengantin baru!"


Atha terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang, rupanya sudah ada Zulaikha dan beberapa orang wanita yang akan membantu Syifa bersiap.


"Hehe, Mbak Zulaikha!" Atha hanya cengengesan saja, sementara yang lainnya menggelengkan kepala mereka melihat lelaki itu.


Acara resepsi digelar mulai dari pukul 2 siang sampai pukul 10 malam, para tamu undangan sudah mulai memadati pesta. Para kolega bisnis Ammar dan orangtua Atha berbaur jadi satu membuat pesta itu sangat ramai dan meriah.


Atha dan Syifa segera dibawa keluar oleh Sita dan juga Rafa sebagai penggiring pengantin kepelaminan, terlihat orang-orang bersorak senang saat melihat kedatangan mereka.


Decak kagum terus terdengar, suasana pesta benar-benar seperti dalam negeri dongeng dengan segala keindahannya. Apalagi melihat sepasang pengantin yang tampan dan juga cantik bak seorang raja dan ratu.


Sita yang sudah selesai mengantar pengantin langsung turun dari pelaminan, dia berjalan ke arah Sean yang saat itu sedang berbincang dengan kolega bisnisnya.


"Sofia!"


Sita menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara panggilan seseorang, lalu dia mengerutkan keningnya saat melihat Danish berjalan ke arahnya.


"hay! bagaimana kabarmu?" sapa Danish dengan ramah.


"hay juga, Danish! alhamdulillah aku baik," jawab Sita dengan senyum tipis.


Danish lalu mengajak Sita untuk mencari tempat duduk karna dia ingin mengobrol dengan wanita itu dan diiyakan oleh Sita.


Dari kejauhan, ada seorang lelaki yang terus menatap tajam ke arah mereka berdua. Ujung matanya tampak berkedut dengan guratan dikening saat melihat Sita dan lelaki itu tertawa bahagia.

__ADS_1


"Sial!"


Rafa yang merasa tidak tahan berjalan mendekati mereka, tetapi semenit kemudian dia mengutuki apa yang sedang dia lakukan saat ini.


"Loh, Mas mau ke mana?"


Rafa yang sudah berbalik tidak jadi pergi dari tempat itu, tetapi dia tetap diam dan tidak membalikkan tubuhnya


"bukannya anda sekretarisnya Tuan Ammar?" tanya Danish tiba-tiba, dia mengingat wajah itu karna sudah beberapa kali melihatnya.


"Pantas saja Papa cari ke mana-mana kau tidak ada, rupanya kau sedang bersama Sofia!"


Rafa yang belum sempat menjawab pertanyaan lelaki itu merasa terkejut dengan kedatangan seseorang, begitu juga dengan Sita yang langsung bangun dari duduknya.


"bagaimana kabarmu, Sofia? Om senang bisa melihatmu kembali!" seru Danu, Ayah dari Danish.


"saya baik, Om! terima kasih atas perhatiannya," jawab Sita dengan tersenyum manis.


Lelaki paruh baya itu lalu duduk dikursi yang tadi diduduki oleh Danish dan meminta Sita untuk bergabung dengannya.


"Wah-wah, siapa ini?"


Sean yang sedang berbicara dengan temannya tidak sengaja melihat Danu sedang mendekati adiknya, dia lalu bergegas untuk mendekati mereka.


"Senang bertemu denganmu di sini, Sean!"


Sean hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Danu, dia lalu melirik ke arah Sita seolah-olah menyuruh adiknya untuk mendekat ke sampingnya.


"maaf, Tuan Danu! saya bukannya menolak, tapi masih ada pekerjaan yang harus saya dan adik saya lakukan!" tolak Sean secara halus, dia tidak ingin berurusan dengan pria licik sepertinya.


"Benarkah? bukannya sekarang kita harus membahas hubungan Danish dan Sofia?"


Rafa yang masih ada ditempat itu tersentak kaget, begitu juga dengan Sean dan Sita yang merasa tidak suka dengan ucapan lelaki paruh baya itu.


"itu benar, Sofia! kita harus segera mempersiapkan acara pertuna-"


"Hentikan!"


Sean yang tau arah pembicaraan mereka memilih angkat bicara, dia lalu mengajak mereka semua untuk pergi ke suatu tempat karna dia harus menyelesaikan semuanya dengan keluarga Danu.


Mereka lalu pergi ke taman yang ada di belakang rumah Ammar, meninggalkan resepsi pernikahan yang mewah itu.


"Apa yang ingin kau katakan, Sean? Sampai-sampai membawa kami ke sini."


Sean diam sejenak, dia sedang menyusun kata-kata untuk membatalkan apa yang telah dilakukan mendiang ayahnya dengan mereka.


"Saya rasa perjanjian antara Tuan Danu dan mendiang Ayah saya itu tidak ada hubungannya dengan kami, jadi kami tidak akan melakukan apapun yang anda inginkan!"


Danu terlihat tidak senang saat mendengarnya, begitu juga dengan Danish yang langsung melihat ke arah Ayahnya.


"Apa maksudmu, Sean? apa kau berniat untuk mengkhianatiku?" sarkas Danu, pancaran kekecewaan terlihat jelas dimatanya.

__ADS_1


"tidak, Tuan! Saya sama sekali tidak berniat untuk mengkhianati anda, tapi perjanjian yang anda dan ayah saya lakukan itu sangat tidak masuk akal!" ucap Sean dengan tegas, karna sebuah pernikahan tidak sama dengan bisnis.


"jadi maksudmu, kau menolak untuk menikahkan adikmu dengan anakku?"


"Benar! Aku menolaknya, dan semua itu tidak ada hubungannya dengan bisnis. Pernikahan yah pernikahan, bisnis yah bisnis, tidak bisa dicampurkan seperti itu!"


Sean tegas menolak, sampai kapanpun dia tidak akan menukar kebahagiaan adiknya hanya karna sebuah bisnis.


"Ayahmu sudah berjanji tentang ini, Sean! Dan kau jangan lupa, walaupun kau dijuluki sebagai pengusaha nomor 1 di Negara ini, tapi semua itu berkat bantuanku!"


Setiap kata yang diucapkan Danu penuh dengan ancaman, seolah-olah berkata kalau dia bisa saja menghancurkan mereka.


"Yang anda katakan memang benar, tapi anda membuat perjanjian dengan ayah saya, dan kami tidak ada urusan dengan itu!"


Danu mengepalkan kedua tangannya, harga dirinya terasa sedang diinjak-injak oleh Sean saat ini.


"kau jangan menguji kesabaranku lagi, Sean! Aku bisa saja menghancurkanmu dalam hitungan detik!" ancam Danu, semua rencananya bisa gagal total jika lelaki itu menolak menikahkan Sofia dengan Danish.


"Lakukan saja, karna sampai kapanpun, aku tidak akan menukar kebahagiaan adikku dengan bisnis!"


Suasana berubah penuh kemarahan dan ketegangan, baik Danu dan Sean tetap pada pendirian mereka masing-masing dan tidak ingin mengalah.


"Tuan Sean, aku mencintai Sofia! Aku ingin menikah dengannya, kenapa anda tidak mengerti?"


Danish yang sejak tadi ada ditempat itu angkat bicara, dia benar-benar ingin menikah dengan gadis itu.


"maaf, Danish! Tapi aku tidak mencintaimu, dan aku tidak ingin menikah denganmu!" Ucap Sita.


Danu tambah emosi mendengar ucapan Sita, cukup sudah selama ini dia menahan diri untuk tidak menghancurkan keluarga itu.


"apa kalian tidak akan menyesal, dengan apa yang kalian lakukan ini?" ucapan Danu penuh dengan penekanan.


Sean tersenyum sinis. "Aku tidak akan menyesal!"


Danu memandang penuh kebencian, baiklah, jika itu memang mau mereka maka dia akan menghancurkan segalanya.


"kenapa, Sofia? kenapa kau tidak mau menikah denganku?"


"Karna dia adalah calon istriku, dan dia akan menikah denganku!"


Tiba-tiba seorang lelaki berjalan ke arah mereka membuat semua orang terlonjak kaget atas apa yang dia ucapkan.





Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2