
Mobil Danu dan para anak buahnya memasuki halaman rumah yang jauh dari keramaian, dia segera turun diikuti oleh semua anak buahnya.
"Berjagalah, dan sebagian dari kalian ikut aku ke dalam!"
Danu segera melangkahkan kakinya ke dalam rumah tersebut dengan diikuti oleh sebagian anak buahnya, sementara yang lain sudah menyebar untuk mengamankan tempat itu.
Sean dan yang lainnya masih memperhatikan Danu dari kejauhan, mereka merasa kesal karna saat ini Danish tidak berada di sana.
"Selamat datang, Tuan Danu!"
Seorang lelaki menyambut kedatangan Danu dan mempersilahkannya untuk masuk, terlihat ada sekitar 8 orang yang berada di ruangan itu.
"Tunjukkan Ruby itu padaku!"
Lelaki itu segera mengeluarkan kotak kecil berisi Ruby ke atas meja, dengan cepat Danu mengambilnya dan membuka kotak tersebut.
Mata Danu terpana melihat keindahan Ruby yang ada di hadapannya, begitu mewah dan berhasil membuatnya jatuh cinta.
"kenapa cuma satu? Di mana yang dua lagi?" tanyanya setelah kembali memasukkan Ruby itu ke dalam kotak.
Lelaki itu menyeringai. "Sesuai perjanjian, Tuan! Saya akan memberikannya setelah anda memberikan uangnya padaku!"
Danu segera memerintahkan anak buahnya untuk meletakkan tas-tas yang dia bawa ke atas meja, dia lalu membukanya dan menunjukkan isi dari tas tersebut.
Tanpa Danu sadari, saat ini Sean dan yang lainnya bisa mendengar ucapannya karna sudah tersambung dengan ponsel mereka.
Sean segera memerintahkan anak buahnya untuk mendekati mereka, sementara dia menyuruh Atha dan Soni menunggu sampai dia berhasil masuk ke dalam rumah.
"apa jumlah uangnya sesuai?" tanya lelaki itu sembari memeriksa semua uang yang Danu bawa.
"Tentu saja, tapi sebelumnya ...!"
Danu melirik ke arah anak buahnya dan menganggukkan kepalanya, semua anak buah Danu langsung menodongkan senjata mereka ke arah lelaki tersebut dan yang lainnya.
Lelaki itu terkejut, sementara Danu tertawa keras sembari kembali menutup uangnya.
"Kau kira aku akan menyerahkan uangku padamu? Hah!"
Danu segera menarik tasnya dan kembali menyerahkannya pada anak buahnya, dia juga mengambil Ruby itu dan memasukkannya ke dalam saku.
"Anda sangat licik, Tuan Danu! Bagaimana mungkin anda bisa menipu saya?"
Lelaki itu mulai mengulur waktu agar Sean bisa masuk ke dalam rumah, dia harus membuat Danu merasa menang hingga dia tidak fokus dengan keadaan anak buahnya.
__ADS_1
"Licik? Hahahaha, ini bukan licik namanya, tapi strategi! Sekarang serahkan semua Ruby itu sebelum kau ku bunuh!"
Semua yang ada diruangan itu saling menodongkan senjata, kecuali lelaki yang membawa Ruby karna memang sudah disengaja seperti itu.
"Tuan, saya mendapatkan Ruby ini dengan susah payah. Jadi anda harus membayar-"
"Aku tidak perduli! Serahkan sekarang atau mati?"
Danu meletakkan pistolnya tepat ke kepala lelaki itu membuatnya pucat, lelaki itu segera mengambil dua Ruby lagi yang ada di saku jasnya.
Dor! Dor! Dor!
Belum sempat Danu mendapatkan Ruby itu, terdengar suara-suara tembakan dari luar membuat Danu berbalik untuk melihat apa yang terjadi.
Dengan cepat, lelaki yang sedang menunduk melayangkan kakinya untuk menendang pistol yang berada ditangan Danu, sampai pistol itu terlampar ke depan.
"Bajing*an!"
Danu berteriak marah, dan segera mengambil pistolnya yang lain dan menembakkannya tepat keperut lelaki itu.
"Kalian pikir kalian bisa membodohiku!"
Danu segera menghubungi Danish untuk segera datang, dia juga sudah menyiapkan semua ini dengan baik.
Dor! Dor! Dor!
Brak! Sean dan Rafa membuka pintu rumah itu dan segera menyerang Danu, lelaki itu sudah tidak kaget melihat kedatangan mereka karna dia sudah tau.
Sean dan Rafa melompat ke balik dinding untuk menghindari tembakan anak buah Danu, sementara Danu sendiri sedang bersembunyi ditangga.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa Danu seolah-olah tau kalau kita sedang menjebaknya?"
Sean merasa bingung, begitu juga dengan Rafa yang melihat banyak anak buah mereka tergeletak di atas lantai.
"Pengkhianat, aku yakin di antara kita ada pengkhianat!"
Dor! Dor! Dor!
Baku tembak terus terjadi, Sean dan Rafa harus memikirkan cara agar bisa mengalahkan Danu karna semua rencana mereka berakhir tragis.
Sementara itu, Atha dan Soni yang baru menginjakkan kaki di halaman rumah bergegas turun. Namun, Atha berbalik membuat Soni merasa bingung.
"Tuan, aku takut sekali!"
__ADS_1
Soni mengernyitkan keningnya. "Takut? Bukannya kita baru saja sampai?" Dia merasa heran.
"Be-benar, Tuan! Sebenarnya saya belum pernah perang seperti ini, biasanya saya hanya melawan preman-preman jalanan!"
Soni benar-benar tidak habis pikir melihat Atha, bisa-bisanya dalam situasi seperti ini, lelaki itu malah ketakutan.
"Bi-biarkan saya di belakang, Tuan!"
Soni menghembuskan napas kasar, dia lalu segera menyuruh semua anak buahnya untuk masuk ke dalam dengan dia yang memimpin dibarisan depan.
Atha tersenyum puas, dia lalu mengikuti langkah Soni sembari menodongkan pistolnya.
Dor!"
"aaakkh!"
"Kak!"
Rafa segera mendekati Sean yang tertembak dibagian pahanya, lelaki itu berlutut dilantai karna kakinya terasa sangat sakit.
"Bertahanlah kak, aku mohon!"
Dor! Dor!"
Rafa segera melihat ke arah pintu dan merasa senang saat melihat kedatangan Atha dan Soni, dia segera membantu Sean untuk bersandar ditiang penyanggah bangunan.
"tunggulah di sini, Kak! Aku akan-"
"Pergilah jika kalian tidak bisa lagi bertahan, tinggalkan aku di sini!"
Rafa terkejut mendengar ucapan Sean. "Tidak, aku tidak akan pergi! Aku bersumpah akan mengalahkan mereka!"
Rafa segera berdiri dan kembali menodongkan pistolnya ke arah lawan, keringat mengucur deras membasahi tubuhnya saat ini.
Pada saat yang sama, Danish sedang berdiri tepat di depan rumah Sean. Dia tidak langsung pergi sesuai perintah Ayahnya, karna dia harus membawa Sita bersamanya.
Danish segera memerintahkan anak buahnya untuk masuk ke rumah mewah itu, sebelumnya dia sudah menyabotase cctv yang ada di sana.
"Aku harus membawamu, Sofia! Jika tidak, aku pasti tidak akan bisa mendapatkanmu!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.