
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Dokter menyarankan agar Ammar segera membawa Zulaikha ke Dokter kandungan agar bisa lebih jelas dalam memeriksa keadaan janin yang ada dalam rahim wanita itu.
Ammar dan Zulaikha segera menjalankan apa yang Dokter itu sarankan sementara Sean juga sudah kembali kerumah sakit tempat Sita dirawat.
Tinggallah Atha yang ada diruangan itu, dia tetap setia menemani Syifa walaupun keberadaannya mungkin tidak akan berpengaruh apapun terhadap gadis itu.
"Ammar dan istrinya sudah pergi!"
Syifa membuka matanya saat mendengar suara Atha, lelaki itu seolah-olah tau kalau sejak tadi dia sudah sadar.
"Apa kau ingin minum?"
Atha tidak beranjak dari duduknya dan hanya melihat Syifa dari kejauhan, dia takut Syifa akan kembali murka kalau didekati.
Syifa terdiam, matanya menatap kosong kearah Atha. Tiba-tiba air mata kembali menetes dari matanya membuat Syifa langsung meringkuk di tengah ranjang sembari membenamkan wajahnya kebantal.
Isak tangis terdengar lirih, Atha yang sudah berdiri tidak jadi melangkahkan kakinya karna tidak tau harus melakukan apa. Dia hanya bisa menatap Syifa dengan sendu berharap gadis itu bisa keluar dari kesedihannya.
"apa yang harus aku lakukan, Syifa? aku ingin melihatmu marah seperti yang selalu kau lakukan, hatiku sangat sakit melihatmu seperti ini!"
Atha berjalan keluar dan menutup pintu ruangan itu, dia merasa kalau Syifa masih butuh waktu sendirian saja saat ini.
Semua pemikiran Atha ternyata benar, begitu lelaki itu keluar. Tangisan yang tadi terdengar lirih dan tertahan, kini semakin keras terdengar. Atha tetap setia berdiri dibalik pintu mendengar segala kesedihan yang sedang Syifa rasakan.
"Huhuhu, ya Allah, hiks! Ampuni aku, huhuhu!"
Syifa perlahan turun dari ranjang dan tertatih-tatih menuju kamar mandi, dia mengunci kamar mandi itu dan terduduk di balik pintu.
"Ya Allah, aku mencoba menerima segala Takir yang telah Engkau gariskan. Tapi kenapa? kenapa rasanya sangat sakit dan hina seperti ini, ya Allah!"
Syifa menangis tersedu-sedu di bawah guyuran air seolah-olah sedang membersihkan diri dari segala kotoran yang melekat ditubuhnya, dia membenamkan kepalanya di antara kedua kaki dan terus seperti itu hingga hawa dingin mulai menusuk tulang-tulangnya.
"Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar!"
Syifa terus mengucap nama Allah berharap dia dapat bertahan dan melupakan segala sakit yang dia rasakan, agar orang-orang yang dia sayangi tidak lagi khawatir dengan keadaannya.
Atha yang mendengar suara gemercik air mulai merasa tidak tenang, dia berjalan ke sana kemari karna bingung harus melakukan apa saat ini.
"Selamat malam, Pak!"
Atha terjingkat kaget saat mendengar suara seseorang, ternyata ada tiga orang polisi yang saat ini ada dihadapannya. Dia lalu menganggukkan kepala untuk menjawab sapaan mereka.
"kami mendapat laporan dari Tuan Ammar, kalau telah terjadi insiden pelecehan terjadap adik iparnya. Apa benar ini ruangan korban yang dimaksud?" tanya salah satu polisi tersebut.
__ADS_1
Atha kembali menganggukkan kepalanya. "benar! dia berada diruangan ini, tapi ... kondisinya saat ini belum bisa untuk menemui siapapun!"
Ketiga polisi itu mengangguk paham bagaimana keadaan korban saat ini, karna kasus pelecehan dapat merusak mental dan semangat dalam hidup seseorang.
"kami tidak akan memaksa untuk bertemu dengan korban, tapi kami harus meminta keterangan dari saksi atas kejadian ini,"
Ammar dan Zulaikha yang baru tiba di depan ruangan Syifa mendengarkan semua perkataan dari polisi tersebut.
"Anda bisa meminta keterangan dari Atha, karna dialah yang telah menyelamatkan dan membawa adik ipar saya ke rumah sakit," ucap Ammar, dia tersenyum kearah para polisi yang dibalas oleh mereka.
"Baiklah, untuk sekarang tolong ikut kami ke kantor polisi!"
Dua orang polisi berlalu pergi bersama dengan Atha, sementara yang satunya lagi beralih meminta barang-barang atau apapun yang bisa menjadi bukti atas kasus pelecehan ini.
Setelah kepergian mereka, Zulaikha dan Ammar kembali masuk ke dalam ruangan. Mereka tidak melihat keberadaan Syifa dan langsung membuat mereka panik.
"Syifa! apa kau ada di dalam?"
Zulaikha yang mendengar suara air langsung mengetuk pintu kamar mandi dengan diiringi suara panggilannya.
"Syifa, buka pintunya, Dek! Ini Mbak."
Zulaikha dan Ammar berusaha untuk membuka pintu kamar mandi itu, dan tidak berselang lama Syifa keluar dengan keadaan basah kuyup.
Zulaikha langsung memeluk tubuh Syifa dengan erat, tidak peduli walaupun seluruh tubuh Syifa basah kuyup.
"Mbak mengerti, Sayang! sabarlah, Mbak yakin Allah sedang mengangkat derajatmu melalui kejadian ini! Allah sangat menyayangimu, Dek! sangat menyayangimu!"
Tangisan kedua wanita itu terus menggema dengan pelukan yang kian mengerat meluapkan segala rasa sakit yang sedang diderita.
Ammar yang berada diruangan itu langsung menghubungi Dokter untuk memeriksa keadaan Syifa karna saat ini gadis itu tampak sangat pucat.
Setelah kedatangan Dokter, Syifa segera diperiksa dan diberi pakaian lain untuk mengganti pakaiannya yang basah.
"Tetap kuat dan semangat, banyak orang yang menyayangi dan mencintaimu! Allah pasti akan memberi balasan yang sangat indah untukmu di kemudian hari."
Dokter cantik itu memberi semangat pada Syifa agar tetap semangat dan melupakan kejadian kelam itu, Syifa hanya tersenyum tipis untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.
"luka ditubuhnya akan segera menghilang, tapi luka yang ada dihatinya tidak pernah hilang untuk selamanya! tetap beri semangat dan kasih sayang yang berlimpah untuknya, karna semua itu sangat dia butuhkan saat ini,"
Ammar dan Zulaikha menganggukkan kepala mereka karna mengerti dengan apa yang Dokter itu sampaikan.
Sementara itu, Atha yang sedang berada dikantor polisi mengatakan semua yang terjadi pada mereka. Dia juga menyebutkan siapa-siapa saja yang berada dilokasi kejadian.
__ADS_1
"saya harap kalian bisa segera menangkap mereka dan menghukum mereka dengan seberat-beratnya, karna apa yang mereka lakukan sudah menghancurkan hidup orang lain!" ucap Atha dengan penuh penekanan.
Pihak kepolisian mengerti dengan apa yang Atha katakan, mereka berjanji akan segera mengusut kasus ini dan akan menghukum para pelaku dengan seberat-beratnya.
Dilain tempat, terlihat Sean sedang memeluk tubuh Sita dengan erat. Dia yang baru sampai dirumah sakit langsung mendapat kabar baik dari Dokter kalau Sita sudah sadar, karna luapan kebahagiaan itu, dia langsung saja memeluk tubuh Sita membuat gadis itu terkejut.
"Ma-maaf! aku tidak sengaja!"
Sean melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh karna dia takut kalau Sita akan marah kepadanya.
Sita terdiam, dia mencoba untuk menangkan diri karna saat ini dia ingin sekali menangis dan berada dalam pelukan sang Kakak.
"di mana Mbak Zulaikha dan Mas Ammar? aku dengar dari suster mereka tadi ada di sini!" tanya Sita, sejak dia sadar, dia sudah bertanya banyak hal pada Dokter dan perawat yang menjaganya.
Sean terdiam, dia tidak ingin mengatakan perihal musibah yang terjadi pada Syifa. Dia takut kalau keadaan Sita akan kembali memburuk jika mendengar kabar mengerikan itu.
"mereka sedang ada urusan penting, sebentar lagi pasti akan kembali ke sini!
Sean terpaksa berbohong demi kebaikan sang Adik.
"baiklah, Kak!"
Sean membulatkan matanya dan terkejut saat mendengar panggilan Sita, sementara Sita sendiri kesal karna kelepasan bicara.
"Kau, kau panggil apa?"
Sita memalingkan wajahnya karna enggan bersitatap mata dengan sang Kakak, entah kenapa dia merasa malu saat ini.
"Jawab Kakak, Sofia!"
Sean memegang kedua bahu Sita dan memaksa wanita itu untuk melihat ke arahnya dan menjawab pertanyaannya.
Sita memandang Sean dengan mata berkaca-kaca, dia mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah lelaki itu.
"aku merindukanmu, Kak! aku sangat merindukanmu!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘