
Sita langsung melompat dari atas pohon saat mendengar suara tembakan, membuat Sean dan Soni merasa sangat terkejut.
"Sofia, tunggu!"
Sean dan Soni cepat-cepat menyusul kepergian Sita yang sudah berlari ke arah gerbang tersebut.
"jaga Nona kalian!" teriak Sean untuk memberitahukan pada semua anak buahnya yang ada di tempat itu.
Sita terus berlari ke arah gerbang tanpa memperdulikan teriakan Kakaknya karna sempat melihat Rafa tersungkur di atas tanah.
"Ya Allah, aku mohon selamatkan Mas Rafa!"
Sita berusaha untuk membuka gerbang besar itu walaupun tenaganya tidak berpengaruh apa-apa.
Sementara keadaan di dalam gerbang tidak berbeda jauh dari di luar, terlihat Rafa dan beberapa pria yang ada di hadapannya saling menodongkan senjata.
"Aku sudah menyerahkan uang yang kau minta, sekarang lepaskan Ibuku!"
Rahang Rafa mengeras, dia terlihat sangat emosi karna mereka ternyata mengingkari kesepakatan.
"Rafa, Rafa! Kau masih saja polos, apa kau pikir aku akan melepaskan kalian begitu saja? Hah!"
Lelaki paruh baya itu tertawa keras, dia tidak habis pikir dengan kepolosan Rafa walaupun selama ini dia sudah banyak membohonginya.
"Lepaskan Rafa, Marco! Aku mohon!"
Wanita paruh baya yang ada di sampingnya bersimpuh mengharapkan kebebasan putranya.
"Tentu saja, Lena! Aku akan melepaskannya, tapi dia harus membawaku keluar dari negara ini!"
"Kau jangan gila, Marco! dia anakmu, dia darah dagingmu!"
Ibu Lena tidak kuasa menahan tangisannya melihat putranya seperti itu, dia menyesal telah menjadikan Marco sebagai suaminya yang bahkan tega untuk menyakiti anaknya sendiri.
Marco, adalah seorang bandar narkoba terbesar yang ada di Negara itu. Selama ini dia menjadi buronan polisi, tapi dengan segala kehebatannya, dia tetap saja bisa menyembunyikan diri.
Meskipun begitu, saat ini dia sedang tercekik. Semua anak buahnya sudah ditangkap polisi dan hanya menyisakan beberapa orang saja termasuk dirinya. Dia harus segera keluar dari negara ini sebelum polisi menangkapnya.
"aku akan melakukannya, tapi kau harus melepaskan Ibu dulu!"
"Tidak, Nak! Jangan lakukan itu, Ibu mohon pergilah dari sini!"
Ibu Lena semakin terisak, dia yang ingin memeluk putranya dihalangi oleh anak buah Marco.
"Kau benar-benar hebat, Rafa! Ayah bangga padamu!"
Rafa menatap benci pada sosok laki-laki yang statusnya adalah ayah kandungnya sendiri, dia bersumpah akan membalas apa yang sudah laki-laki itu lakukan.
Marco segera menyuruh anak buahnya untuk bersiap, karna dia akan pergi saat ini juga sebelum semua rencananya berantakan.
Di tengah kesibukan lelaki itu, Rafa melihat ada celah untuk membebaskan sang Ibu. Dengan perlahan dia berjalan mendekati Ibunya yang sedang terikat sementara sang Ibu yang tau tujuan Rafa menggelengkan kepalanya. Dia takut kalau Marco mengetahuinya maka Rafa akan berada dalam bahaya.
__ADS_1
Rafa terus mendekat sampai menyentuh tali yang mengikat sang Ibu, dia segera melepaskan tali itu sebelum ada yang melihat mereka.
"Bos!"
Salah satu anak buah Marco berteriak saat melihat Rafa membuka ikatan tali Ibunya dan itu membuat Marco naik darah, dia segera melepaskan tembakan ke arah Ibu Lena.
Dor! tembakan itu berhasil melesat, tetapi bukan Ibu Lena yang terkena tembakan tetapi tangan Marco sendiri.
Rupanya Sita dan yang lainnya sudah berhasil masuk ke dalam gerbang itu, Sean yang melihat Marco akan menembak Rafa langsung melesatkan tembakannya.
Dor! Dor! Dor!
Baku tembak pun terjadi, sita segera berlari mendekati Rafa yang mematung saat melihatnya.
"Ayo, kita harus segera pergi dari tempat ini!"
Rafa tersentak kaget, dia segera menarik tali itu dan membebaskan sang Ibu.
"Sita! Apa yang kau lakukan di sini?"
Rafa benar-benar sangat terkejut melihat keberadaan Sita dan yang lainnya di tempatnya saat ini.
"Tidak ada waktu untuk bertanya, Mas! Kita harus segera pergi!"
Sita segera menuntun Ibu Lena dan membawanya pergi, sementara Rafa bergegas untuk menelpon polisi sembari mengeluarkan senjatanya.
Dor! Dor! Dor!
Napas Sita tersengal-sengal karna terus berlari sembari memapah tubuh wanita paruh baya itu, bahkan pakaian dan jibabnya sudah basah terkena keringat.
"Terima kasih, Nak! Terima kasih karna sudah menolong kami!"
Sita tersentak saat tangannya digenggam oleh Ibu Lena, dia lalu membalas genggaman wanita itu dengan senyum manisnya.
"Sama-sama, Bu! Aku senang Ibu baik-baik saja, semoga mereka yang masih ada di dalam juga baik-baik saja!"
Sita kembali melihat ke arah gerbang dengan sendu, dia berharap semuanya akan keluar tanpa ada luka ditubuh mereka.
Ibu Lena mengaminkan ucapan gadis yang ada di hadapannya, saat ini dia juga merasa sangat khawatir.
Tidak berselang lama, datanglah beberapa mobil polisi ke tempat itu membuat Sita dan Ibu Lena langsung bangkit. Mereka bisa sedikit lega karna polisi sudah tiba untuk membantu Rafa dan juga yang lainnya.
Satu jam telah berlalu sejak baku tembak itu, para polisi sudah berhasil menangkap semua anak buah Marco beserta Marconya sendiri.
Ibu Lena yang melihat Marco dipegangi oleh polisi beranjak mendekatinya.
Plak! Sebuah tamparan melayang kewajah Marco membuat semua orang melihat ke arah mereka.
"Kau pantas mati, Marco!"
Ibu Lena merasa senang karna akhirnya lelaki itu berhasil ditangkap oleh polisi, dia lalu beralih ke arah Rafa yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa kan, Nak!"
Ibu Lena memeluk tubuh Rafa dengan erat, tangisan bahagia tak kuasa dia tahan karna kini tidak akan ada lagi yang menyakiti putranya.
"Aku baik-baik saja, Bu!"
Mata Rafa melihat tajam ke arah Sita yang sedang bersandar didinding, wajah wanita itu terlihat sangat pucat saat ini.
Setelah para penjahat itu ditangkap polisi, mereka semua juga berlalu pergi dari sana. Tidak ada satupun orang yang terkena tembakan, walaupun ada beberapa yang terluka akibat adu jotos.
"Saya tidak tau kenapa anda semua bisa ada ditempat ini, tapi saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang telah kalian berikan. Saya berhutang banyak pada anda!"
Rafa mengulurkan tangannya pada Sean sebagai ucapan terima kasih, yang langsung disambut dengan tangan Sean.
Rafa lalu beralih melihat ke arah Sita yang juga sedang menatapnya. "Apa kau baik-baik saja?"
Sita menganggukkan kepalanya walaupun saat ini kepalanya itu terasa sangat pusing. "Mas tidak terluka kan?"
Rafa tersenyum mendengar pertanyaan wanita itu, ada desiran aneh yang sedang menjalar dihatinya saat ini.
"Aku ba-"
Rafa langsung menangkap tubuh sita yang akan terjatuh mencium tanah, sementara yang lainnya langsung panik melihat Sita pingsan seperti itu.
"Ya Tuhan, Sofia!"
Sean beralih menepuk-nepuk pipi Sita untuk membangunkannya, beberapa kali dia memanggil nama adiknya itu tetapi Sita tetap tidak bergeming.
"Sepertinya Nona kelelahan, kita harus segera membawanya ke rumah sakit, Tuan!"
Sean menyetujui ucapan Soni, dia lalu menyuruh Rafa untuk membawa adiknya ke dalam mobil.
Sean menyandarkan kepala Sita dibahunya dengan tangan yang sejak tadi dia genggam, dia terus berdo'a semoga tidak terjadi sesuatu dengan gadis itu.
"maaf, Tuan! Gara-gara saya, Sita jadi seperti itu!" sesal Rafa, dia juga merasa khawatir dengan keadaan Sita.
"kau harus membayarnya, Rafa! Kau harus membayarnya dengan mahal," ucap Sean dengan lirikan tajamnya.
"Saya akan melakukannya, Tuan! Saya akan melakukan apapun untuk membayar kebaikan kalian,"
"Tentu saja! Kau harus membayarnya dengan menjaga Sofia seumur hidupmu!"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
__ADS_1