
Atha terus menekan kakinya yang berada tepat didada seorang lelaki, dia yang sudah lama memperhatikan gerak-gerik Soni merasa curiga kalau lelaki itu bekerja sama dengan Danu.
Ya, Soni lah yang selama ini menjadi mata-mata Danu. Dia orang yang paling dekat dengan Sean, tetapi dia jugalah yang menikam lelaki itu dengan sangat kejam.
Pantas saja Danu selalu tau apa yang Sean lakukan, lelaki itu bahkan langsung tau mengenai Sofia karna Soni melaporkan semuanya.
"Paman? Apa, apa maksudnya ini?"
Sean berusaha untuk bangun dengan menahan sakit dikakinya, dia menatap tidak percaya ke arah Soni yang sejak kecil sudah bersama dengannya.
Soni terdiam, dia tidak menyangka kalau Atha mengetahui segalanya. Pantas saja lelaki itu mengatakan takut, dan meminta supaya dia berada di depan. Ternyata Atha memang sedang mengawasinya, lelaki itu seperti tau kalau dia akan membunuh Sean.
"Katakan, Paman!"
Sean benar-benar murka, dadanya terasa sangat sesak dengan apa yang telah dilakukan oleh orang kepercayaannya. Sungguh dia tidak bisa mempercayai semua ini, dan berharap kalau Soni tidak mengkhianatinya.
"Kenapa kau berteriak, Sean? Seharusnya kau tau kalau selama ini tidak ada satu pun orang yang benar-benar setia padamu!"
Hati Sean terasa seperti sedang ditusuk oleh ribuan pisau saat mendengar ucapan Danu, dia tidak menyangka kalau orang seperti Soni tega mengkhianatinya.
Cres! "Aaarrgh!"
Soni yang sejak tadi diam ternyata sedang mengambil sebuah pisau dari saku celananya, begitu berhasil dia langsung menggores tangan Atha yang sedang menodongkon pistol padanya.
Goresan pisau itu berhasil membuat pijakan kaki Atha melemah, dengan cepat Soni menendang perut Atha membuat lelaki itu mundur beberapa langkah ke belakang
Rafa yang melihatnya tentu tidak tinggal diam, dia langsung menembak tubuh Soni yang tepat mengenai dada sebelah kiri laki-laki itu.
Danu yang tidak mau kehilangan kesempatan langsung menembak Rafa, tetapi naas, ternyata pistolnya sudah kosong membuatnya mengumpat kesal.
Dor!
Sean yang tau kalau Danu sudah kehabisan peluru langsung melesatkan tembakan, tetapi Danu masih bisa menghindar dengan mengorbankan anak buahnya.
"Bajing*an!"
Baku hantam pun terjadi, mereka yang sudah sama-sama kehabisan peluru langsung saling serang dengan pisau atau benda apapun yang bisa digunakan.
Buak!
__ADS_1
Brak!
"Aarggh!"
Suara teriakan serta benturan terus terdengar, Atha yang hanya punya satu peluru lagi sengaja disimpan untuk membunuh Danu. Akan tetapi, saat ini dia belum bisa melakukannya karna harus melumpuhkan beberapa anak buah lelaki itu.
Brak!
Pyar!"
"Brengs*ek! Ku bunuh kau!"
Danu murka, sudah banyak luka ditubuhnya akibat serangan demi serangan yang Rafa berikan, sementara Soni yang ingin membantu Danu dihalangi oleh Sean.
"Hebat, kau hebat sekali, Paman! Aku tidak menyangka kalau topeng yang selama ini kau gunakan sangat bagus!"
Soni terdiam, entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini, yang pasti dia tidak berniat untuk membela diri karna memang dia bekerja sama dengan Danu.
"Kenapa kau melakukan ini?"
Napas Sean tersengal-sengal akibat menahan amarahnya, dia ingin mendengar langsung alasan Soni kenapa laki-laki itu mengkhianatinya.
Brak!
Sean melempar kursi yang ada di sampingnya ke arah Soni, tetapi lelaki itu bisa menghindarinya.
"Saya tidak mau menjawabnya, yang pasti saya harus membunuh anda!"
Soni langsung menyerang Sean yang susah payah untuk melangkahkan kaki, saat ini mereka berdua sama-sama sedang terluka sehingga perkelahian mereka tidak sehebat yang lainnya.
Atha membabat habis 3 orang anak buah Danu, dia lalu beralih membantu Sean untuk melumpuhkan Soni.
Buak!
Atha langsung melayangkan tendangannya ke punggung Soni membuat lelaki itu tersungkur menabrak meja, bukan itu saja, Atha juga menarik tangannya dan memukul wajah Soni sampai beberapa kali.
"Dasar brengs*ek! Pengkhianat!"
Atha terus menghajar tubuh Soni yang sudah tidak berdaya akibat peluru yang bersarang didada sebelah kirinya, napasnya juga mulai melemah hanya tinggal menunggu malaikat maut datang menjemput.
__ADS_1
"Hentikan Atha, ingat lukamu!"
Sean berusaha untuk menahan Atha yang masih saja menghajar Soni, lelaki itu tidak perduli dengan luka sayatan yang membuat darahnya terus mengalir.
Brak! "Hegh!"
Danu mengerrang keras saat Rafa menginjak perut dan dadanya, dia sudah tidak sanggup lagi untuk bangun karna memang tenaga Rafa sangatlah kuat.
Buak, buak, buak! 3 bogeman kembali Rafa berikan membuat Danu benar-benar tepar, dia lalu menarik kerah kemeja lelaki itu dan melemparnya ke arah Sean.
Bruk! Tubuh Danu terhempas dengan kuat ke atas lantai, matanya menatap tajam ke arah mereka semua yang telah berhasil melumpuhkannya.
"kau lihat sekarang, aku sudah berhasil melumpuhkanmu, dan sebentar lagi aku akan mengirimmu ke alam baka!"
"Cih!"
Danu berdecih, dia benar-benar merasa kesal saat ini. Bagaimana tidak, sejak tadi dia menunggu kedatangan Danish tetapi lelaki itu tidak juga datang. Belum lagi dia berhasil dikalahkan oleh Sean yang sebentar lagi akan mengirimnya ke akhirat.
"Kenapa diam? Apa kau sedang mempersiapkan diri untuk bertemu Tuhan?"
Sean tersenyum sinis, lalu Atha yang ada di sampingnya langsung memberikan pistol padanya.
"masih tersisa 1 peluru, dan sepertinya peluru itu memang khusus tersisa untuknya!" ucap Atha.
Sean tersenyum lebar, dia segera mengambil pistol itu dan menodongkannya ke kepala Danu.
"ucapkan selamat tinggal untuk dunia ini!"
"Berani kau membunuh Ayahku, maka akan kubunuh adikmu!"
Deg, Sean dan yang lainnya langsung melihat ke arah pintu. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Danish dan beberapa anak buahnya, terlebih-lebih seorang wanita yang saat ini berada di samping laki-laki itu.
"Sofia?"
•
•
Tbc.
__ADS_1