
Mobil Sean sudah sampai diparkiran rumah sakit, mereka semua segera turun dan berlalu masuk untuk melihat keadaan Syifa.
Ammar dan Zulaikha saat itu sedang berbicara pada Syifa, mereka mencoba untuk bersikap biasa saja dan tidak membahas masalah yang telah terjadi.
Brak! tiba-tiba pintu ruangan Syifa dibuka oleh seseorang membuat mereka semua langsung memalingkan wajah ke arah pintu tersebut.
"Sita?"
Zulaikha langsung memeluk tubuh Sita dengan erat, dia merasa sangat bahagia melihat adiknya itu sudah baik-baik saja.
"Syukurlah kau sudah baik-baik saja, Sita! Mbak sangat mengkhawatirkanmu."
Tubuh Zulaikha bergetar karna menangis haru saat melihat Sita, beban yang ada dipundaknya terasa sedikit ringan karna kesembuhan gadis itu.
"Maafkan aku, Mbak!"
Sita membalas pelukan Zulaikha dengan tangis yang terdengar lirih, dia lalu melihat kearah Syifa yang sedang tersenyum kearahnya.
Sita mulai merenggangkan pelukannya, dia lalu berjalan kearah Syifa dengan masih berlinangan air mata.
"Syukur lah, Sita! aku senang kau-"
Syifa tidak dapat melanjutkan ucapannya karna Sita memeluk tubuhnya dengan erat, tubuhnya ikut bergetar karna getaran yang ada ditubuh Sita.
"Maafkan aku, maafkan aku, Syifa!"
Syifa membalas pelukan Sita, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis walaupun beberapa kali air mata berhasil lolos dari matanya.
"Kenapa kau minta maaf? Memangnya kau ada salah?"
Syifa berusaha untuk tetap terlihat seperti biasanya, dia tidak mau membuat semua orang kembali merasa sedih. Apalagi kondisi mereka saat ini juga sedang tidak baik-baik saja.
"Maafkan aku karna tidak berada di sampingmu, maafkan aku karna tidak bisa menjadi sahabat yang baik. Maafkan aku, Syifa! Maafkan aku!"
Sita menangis sampai tersedu-sedu karna merasa bersalah dengan apa yang terjadi.
Dari dulu, Syifa selalu berada di sampingnya. Gadis itu mencurahkan segala kasih sayang keluarga untuknya, dia bahkan selalu menjadi tameng dalam hidupnya jika ada orang lain yang berusaha untuk mengganggunya.
Apapun yang terjadi, Syifa tetap berdiri tegak menjadi garda terdepan untuk membelanya. Namun, saat gadis itu tertimpa musibah. Dia tidak ada di sampingnya. Dia tidak bisa menjaga dan menolongnya, bahkan dia tidak ada untuk mendengarkan segala rasa sakitnya.
Syifa yang sudah berusaha untuk menahan semuanya, kini runtuh juga. Dia menangis sampai seluruh tubuhnya bergetar, ingatan demi ingatan terus berkeliaran dalam kepalanya.
__ADS_1
Zulaikha yang melihat kedua adiknya seperti itu juga tidak kuasa untuk menahan diri, dia mendekati mereka dan memeluk kedua adiknya dengan erat.
"Ya Allah, maafkan aku yang tidak bisa menjaga amanahmu. Maafkan aku yang tidak bisa menjalankan kewajibanku, maafkan aku ya Allah! Maafkan aku!"
Ammar dan Sean yang ada ditempat itu saling pandang, Sean memberi kode pada lelaki itu untuk menghentikan tangisan mereka sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
"sudahlah, hentikan kesedihan ini! Allah sangat tidak menyukai orang-orang yang lemah dan patah semangat seperti ini!"
Ammar menarik tubuh Zulaikha agar pelukan mereka terlepas, dia juga menyuruh Zulaikha untuk tidak menangis lagi.
"aku tau kalau saat ini kita sedang berduka, kita sedang diberi ujian oleh Allah! tapi dibalik ujian ini, Allah ingin melihat kesabaran dan keteguhan hati kita untuk terus bangkit dan menjalankan apa yang Dia perintahkan!"
Semua orang terdiam mendengar ucapan Ammar, mereka beristighfar pada Allah agar diberi ketenangan.
Setelah semuanya tenang, mereka kembali membahas masalah yang lain. Khususnya tentang ingatan Sita yang telah kembali pulih.
Banyak hal yang dia ceritakan tentang kehidupannya dulu, dia juga meminta izin untuk berkunjung ke rumahnya.
"kenapa kau minta izin, Sita? Itu adalah rumahmu, kapanpun kau mau pulang, itu terserah padamu! tapi, kau juga harus ingat, kalau kami akan selalu menjadi keluargamu!"
Sita merasa tersentuh mendengar apa yang Zulaikha katakan, begitu juga dengan Sean yang ikut bahagia karna Adiknya berada dilingkungan orang-orang yang baik.
"baiklah, Syifa! kau harus bangkit dan tetap semangat, kau harus membuat senyum mereka tetap mengembang seperti itu!"
Suasana bahagia menyelimuti mereka saat ini, untuk sekejap mereka melupakan musibah-musibah yang telah menimpa mereka.
"Oh iya, Kak! apa Mas Rafa sudah diperiksa?"
Tiba-tiba Sita teringat dengan Rafa, dia bertanya pada sang Kakak karna sejak tadi hanya fokus pada Syifa dan Zulaikha saja.
"mana Kakak tau! Kakak tidak melihatnya dan hanya melihat kalian saja,"
Sean juga sama, sejak masuk ke dalam rumah sakit, dia tidak melihat ke belakang yang artinya dia tidak tau apakah Rafa mengikuti mereka atau tidak.
"diperiksa? memangnya Kak Rafa kenapa?" tanya Ammar, raut wajahnya terlihat sangat khawatir saat ini.
Sita lalu menceritakan apa yang terjadi pada Rafa, tak lupa dia juga menceritakan luka ditangan lelaki itu.
"Hah, dia pasti bertengkar lagi dengan Ayahnya!"
Semua orang tampak terkejut mendengar ucapan Ammar, kecuali Zulaikha yang memang sudah tau mengenai keluarga Rafa.
__ADS_1
"memangnya kenapa, Mas? apa hubungan mereka tidak baik?"
Sita merasa sangat penasaran, walaupun sudah bertahun-tahun dia mengenal Rafa, tetapi lelaki itu tidak pernah bercerita tentang hidupnya.
Ammar terdiam, dia merasa tidak enak untuk menceritakan tentang keluarga orang lain. Apalagi Rafa sudah dianggap sebagai Kakaknya sendiri.
"begini, Sita! Aku bukannya tidak mau menceritakannya, hanya saja kurang pantas rasanya membuka masalah keluarga orang lain!"
Ammar memilih untuk tidak mengatakannya, biarlah Rafa sendiri yang nantinya akan menceritakan tentang keluarganya pada orang lain.
"benar, Mas! kita memang tidak pantas untuk menceritakan masalah keluarga orang lain, hanya saja Mas Rafa itu orang yang sangat tertutup. Sudah bertahun-tahun aku mengenalnya, dan yang aku tau yah hanya namanya saja. Tidak dengan cerita hidupnya!"
Semua orang melihat Sita dengan heran, mereka merasa kalau ada perubahan dalam diri gadis itu. Dia yang biasa sedikit tertutup dan tidak tertarik dengan masalah orang lain, kini malah bertanya panjang lebar mengenai keluarga Rafa.
"Jangan heran! adikku memang seperti itu, kalau sudah penasaran, sampai ujung dunia pun akan tetap dicari!"
Sean seperti mengerti kalau mereka heran melihat Sita, sementara Sita sendiri menundukkan kepalanya, dia merasa malu saat mendengar ucapan Sang Kakak.
Begitulah Sita Al-Nashwa, seorang gadis yang tidak sengaja ditolong oleh keluarga Zulaikha, dan dia kehilangan ingatannya.
Tersadar dalam keadaan tidak mengingat apapun membuat Sita menjadi pribadi yang sedikit tertutup. Selama ini dia hidup dalam kebingungan, dia terus bertanya-tanya siapa dia dan dari mana dia berasal.
Akan tetapi, lambat laun ingatan demi ingatan mulai bermunculan dikepalanya. Dia terus mencatat segala ingatan yang muncul, dan sedikit demi sedikit dia mulai mengingat potongan-potongan kecil dari masa lalunya.
"Anda benar, Sita tampak sedikit berbeda! tapi dia tetap Adikku," ucap Zulaikha dengan senyum lebar di wajahnya.
Tanpa mereka semua sadari, saat ini Rafa sedang berdiri di balik pintu. Dia yang berniat untuk melihat keadaan Syifa, terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar mereka bertanya soal keluarganya.
Apalagi saat Sita meminta Ammar untuk menceritakan tentangnya, dia memilih untuk mendengar apakah Ammar akan mengatakannya atau tidak.
"kenapa kau penasaran, Sita?"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1