Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 70. Akhirnya Pengkhianatanmu Terbongkar.


__ADS_3

"Kalian mencariku, 'kan? Bawa aku, dan tinggalkan tempat ini!"


Semua anak buah Danish saling pandang saat mendengar ucapan Sita, salah satu dari mereka lalu menyuruh wanita itu untuk berjalan turun ke lantai satu.


Buak!


Ammar yang berhasil mengangkat kaki Danish langsung memutar kaki itu sampai Danish tersungkur di atas lantai, dia lalu segera bangkit dan malayangkan kakinya tepat mengenai dada lelaki itu.


"F*uck!"


Danish berteriak marah dan segera bangkit dengan menodongkan senjatanya, sementara Ammar yang juga sudah memegang pistol mengarahkan senjata itu kepada Danish.


"Hentikan!"


Ammar dan Danish langsung melihat ke arah tangga saat mendengar suara perempuan, mata mereka membulat sempurna saat melihat Sita sedang menuruni anak tangga.


"Sofia!"


Danish merasa sangat senang saat melihat Sita, lain hal dengan Ammar yang terpaku tidak percaya melihat wanita itu berhasil ditangkap oleh anak buah Danish.


Semua anak buah Danish langsung mengepung Ammar, dengan senjata mereka yang membidik seluruh tubuh lelaki itu.


"Akhirnya aku menemukanmu, Sofia!"


Sita terus berjalan sampai berdiri tepat di hadapan Danish, tetapi matanya melihat ke arah Ammar dengan sendu.


"Sita!"


Ammar yang teringat akan Zulaikha langsung melihat ke arah lantai dua, tetapi dia tidak melihat tanda-tanda kalau Zulaikha dan Syifa sedang menuju ke tempatnya berada saat ini.


"Sekarang kau sudah menemukanku, Danish! Aku minta lepaskan Mas Ammar!"


Danish tersenyum tipis, sementara Ammar merasa terkejut dengan apa yang Sita ucapkan. Apalagi dia tidak melihat keberadaan Zulaikha dan Syifa, membuatnya memikirkan kemungkinan yang sedang wanita itu lakukan.


"Apa Sita menyerahkan dirinya sendiri?"

__ADS_1


"tentu saja aku akan melepaskan mereka, Sofia! Tapi, kau harus ikut denganku!"


"Tidak, Sita! Jangan lakukan itu!"


Ammar memberontak membuat anak buah Danish terpaksa memegangi tubuhnya, salah satu di antara mereka bahkan sampai memukul wajah Ammar agar dia menutup mulut.


"Hentikan! Jangan pukul Mas Ammar!"


Danish mengangkat tangannya agar anak buahnya tidak lagi memukul lelaki itu, dia lalu menarik tangan Sofia sampai tubuh wanita itu menabrak tubuhnya sendiri.


"Jangan menyebut nama laki-laki lain, Sofia! Aku sangat muak mendengarnya!"


Sita terdiam, dia harus menuruti ucapan Danish agar mereka tidak lagi memukul Ammar.


Danish semakin merapatkan tubuh Sita sampai menempel ditubuhnya, dengan cepat dia mengecup bibir wanita itu sampai membuat Sita tersentak kaget dengan air mata yang membanjiri wajahnya.


"Dasar bajing*an! Lepaskan tangan kotormu itu!"


Ammar semakin memberontak, tentu dia tidak bisa melawan semua anak buah Danish yang memeganginya bak seekor hewan.


Deg, Ammar langsung terdiam mendengar ucapan Danish. Dia rela mati demi keluarganya, tapi dia tidak akan rela kalau sampai istri dan anaknya celaka.


"Cepat bawa aku dan lepaskan mereka, Danish! Aku-"


Cup, Danish kembali mendaratkam ciumannya membuat tubuh Sita bergetar hebat. Sekilas wajah Rafa melintas dalam pikirannya membuat air mata terus mengalir deras.


"Kalau sampai kau berani menelpon polisi, maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuh semua orang yang sedang melawan Ayahku sekarang. Aku juga tidak akan segan membunuh Sofia jika kalian macam-macam!"


Ammar terdiam, dia tidak tau harus melakukan apa untuk menyelamatkan Sita dan semua orang.


"Kita pergi!"


Danish lalu menggandeng tangan Sita dan berlalu pergi dari sana, wanita itu melirik ke arah Ammar dengan sendu sembari menganggukkan kepalanya seolah mengatakan kalau dia baik-baik saja.


"Sita!"

__ADS_1


Tubuh Ammar merosot jatuh ke lantai saat melihat pintu rumah itu ditutup oleh anak buah Danish, dia bisa saja langsung menelpon polisi tapi kedua kakinya seakan tidak mampu untuk dia gerakkan.


"Maafkan aku, Kak! Aku tidak bisa menjaga istrimu, maafkan aku!"


Ammar memukul-mukul lantai dengan tangannya sampai terluka, sungguh dia merasa sangat tidak berguna karna tidak bisa menjaga adik iparnya sendiri.


Sementara itu, di tempat lain terlihat baku tembak sudah tidak ada lagi. Semua anak buah Sean dan Atha sudah terkapar di atas lantai, begitu juga dengan anak buah Danu yang sudah tergeletak.


"Hebat, hebat Sekali!"


Danu bertepuk tangan melihat kegigihan dan perjuangan mereka, sementara Sean dan yang lainnya merasa geram mendengar ucapannya itu.


Saat ini, Danu dan Rafa sedang sama-sama menodongkan senjata. Begitu juga dengan Atha dan Soni yang bersiap menyerang anak buah Danu yang masih tersisa.


"Hari ini kau akan mati ditanganku, Danu! Aku sudah bersumpah akan membunuhmu!"


Rafa sudah tidak sabar untuk menembakkan pelurunya ketubuh Danu, bila perlu kekepala lelaki itu sekalian agar Danu bisa langsung mati.


Tanpa semua orang sadari, saat ini ada seseorang yang sudah menarik pelatuk pistolnya dan mengarahkan pistol itu tepat ke tubuh Sean. Apalagi posisi lelaki itu saat ini sedang bersandar di dinding, membuatnya lebih muda untuk menghabisi.


Dor!


Semua orang langsung melihat ke sumber suara tembakan, terlihat Rafa dan Sean membulatkan mata mereka saat melihat apa yang sedang terjadi.


"Ternyata dugaanku selama ini tidak salah, kau lah yang sudah mengkhianati kami dan bekerja sama dengan bajing*an itu!"


Deg, Rafa dan Sean terperanjak kaget mendengar ucapan Atha. Mereka melihat lelaki yang saat ini ada di bawah kaki Atha dengan tajam, mereka benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2