
"apa Zulaikha juga akan berpikir sama, saat mengetahui kalau adiknya sendiri mencintai suaminya?"
Seakan sengaja menyiram garam diluka yang masih basah, hingga menyebabkan luka itu semakin melebar tak tentu arah.
Syifa menatap nanar, sakit dan amarah berbaur jadi satu dalam hatinya. Dia yang ingin membantah tidak bisa untuk berucap, hanya pandangan matanya saja yang menyiratkan kalau apa yang lelaki itu katakan sangat melukai hatinya.
"kenapa diam? apa kau tidak tau jawabannya?"
Atha mendekat, mencoba untuk semakin menekan Syifa hingga ke sudut dan membuat wanita itu tidak bisa membantah.
Pandangan mereka kembali bertemu, atmosfir yang terjadi bagai bara api yang membakar siapa saja yang mendekat. Tatapan cinta Atha berikan, tapi dibalas dengan tatapan sakit dan tidak terima.
"kau mengancam akan mengadukan perasaanku pada Mbak Zulaikha?"
Akhirnya Syifa bersuara, setelah berusaha keras menenangkan hati dan juga pikiran.
"Benar, dan aku ingin melihat bagaimana reaksinya!"
Atha berbalik seakan apa yang dia katakan bukanlah masalah, dia menarik kursi dan kembali duduk dengan tangan menggenggam sebuah ponsel.
"lakukanlah! aku juga penasaran bagaimana tanggapan Kakakku!"
Berkata dengan tegar, tetapi tangannya bergetar menahan ketakutan jika Kakaknya mengetahui semuanya. Rasa sesal menelusup dalam hati, andai dia tidak pernah menyetujui ajakan lelaki yang tidak punya rasa malu dan perasaan yang ada dihadapannya.
"Baik, aku akan mengatakan semuanya pada Zulaikha!"
Atha tidak bergerak, mendengar tantangan yang Syifa layangkan. Batinnya mulai bergejolak, apakah dia harus menyerah atau tidak.
"Aku memang mencintai Mas Ammar, tapi itu dulu, dan sekarang aku sudah melupakannya,"
mencoba untuk kembali menjelaskan, ternyata Syifa tidak siap untuk membuat Kakaknya terluka.
"Kalau kau memang melupakannya, maka menikahlah denganku!"
Atha kembali bangkit, kakinya melangkah mendekati Syifa yang menatapnya penuh luka.
"tidak ada hubungannya antara perasaanku dan menikah denganmu, karna aku tidak akan menikah dengan siapapun!"
ucapannya telak menancap dihati Atha, bak sebuah tembok yang dibangun tinggi menghalangi cinta yang coba dia berikan.
Otaknya kembali berpikir, tinggal selangkah lagi untuk mematikan bantahan wanita yang ada dihadapannya. Atha memerlukan pukulan telak agar Syifa tidak bisa lagi menolak.
__ADS_1
"lalu, apa kau pikir, Zulaikha tidak akan sedih saat melihat kau hidup sendiri? sementara Sita mungkin saja akan menikah dengan seorang lelaki?"
lagi, serangan demi serangan Atha berikan membuat wanita itu menjadi bungkam.
"setidaknya pikirkan perasaan Kakakmu, dia akan hidup tenang jika kau bersama dengan seorang pria dan bukannya hidup sendiri! apalagi kau habis terkena kasus, perasaan Kakakmu akan jauh lebih khawatir dari sebelumnya!"
kali ini, ucapan yang Atha berikan terasa menyayat-nyayat hati dan seluruh hidup Syifa. Semua yang lelaki itu katakan membuatnya berpikir seratus kali tentang perasaan Zulaikha, dan berpikir kalau apa yang Atha katakan adalah benar.
"Baiklah, aku tidak akan lagi memaksamu! besok malam, aku akan membawa keluargaku ke rumahmu. Terserah kau mau menerima lamaranku atau tidak!"
Atha melangkah pergi meninggalkan Syifa yang terdiam karna ucapan terakhir lelaki itu, tubuhnya terasa lemas dan merosot jatuh ke lantai.
Suara tangisan lirih terdengar saat Atha menunggu di balik pintu, dia mengutuk dirinya sendiri yang telah melukai hati Syifa sampai sebegitu dalam.
Cinta memang membutakan segalanya, hingga membuatnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan wanita yang dia cintai.
Sementara itu, Syifa meratap sedih. Bayangan kekecewaan dari sang Kakak membayang di depan wajahnya. Bahkan, mungkin bukan Kakaknya saja yang akan kecewa, tetapi seluruh keluarganya.
"Ya Allah, Engkau yang maha menggariskan segalanya. Hidupku, matiku, rezekiku dan juga jodohku. Tunjukkan ke mana jalan Takdir membawaku!"
Syifa bangkit dengan perlahan, berjalan gontai menuju pintu keluar tanpa melihat ke belakang. Betapa sakit dan hancur hidupnya saat mengingat semua ucapan Atha, setiap kata demi kata yang lelaki itu ucapkan berhasil menencap direlung hatinya.
"Ayo, kita pulang!"
"kau, kau masih di sini?" menatap heran dan enggan untuk melangkahkan kaki mengikuti Atha.
"Kau pergi bersamaku, maka pulang juga harus bersamaku!"
Atha kembali melangkah tanpa melihat ke belakang, dia berjalan lurus sampai berada di depan mobilnya.
Syifa mengukuti dari kejauhan, banyak pasang mata yang memperhatikan dan berspekulasi kalau lelaki itu sudah ditolak.
Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang gadis sedang berbincang dengan para pelayan.
Ada beberapa piring berisi makanan dan juga gelas minuman yang menjadi pendamping obrolan mereka di siang ini, tawa canda mengikuti setiap obrolan yang terjadi.
"jadi, Nona ingin dipanggil dengan nama yang mana?"
salah satu pelayan bertanya, tangannya memasukkan sepotong kue ke dalam mulut saat pertanyaan itu sudah terlontar.
"kalau di sini, aku Sofia! kalau di sana, aku Sita!"
__ADS_1
Menjelaskan dengan semangat, hijab yang dia gunakan sampai berkibar terkena hembusan angin yang menerpa.
Selama berada di rumah, Sita kembali mengakrabkan diri dengan para pelayan. Baik yang lama maupun yang baru, semua berbaur jadi satu.
Tidak ada perbedaan kasta antara majikan dan pelayan, semua menempatkan diri dengan baik sesuai dengan tempatnya masing-masing.
Syifa kemudian pamit saat mendengar suara adzan, dia melangkah pergi menuju kamar dengan membawa beberapa buku yang dia dapat dari ruang kerja sang Kakak.
"Benar, Tuan! sampai saat ini, Nona Sofia masih tinggal di sini!"
Langkah Sita terhenti, keningnya berkerut sampai membuat kedua alisnya hampir menyatu saat mendengar suara seseorang.
Dia beralih ke samping, mengintip dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Terlihat salah satu penjaga rumah ini sedang berbincang melalui ponsel.
"Baik, Tuan! saya akan melaporkan semuanya!"
ucapan lelaki itu menimbulkan sebuah pertanyaan dalam hati Sita, seolah-olah lelaki itu sedang melaporkan sesuatu kepada majikannya.
Dia juga mendengar namanya disebut oleh lelaki itu, membuat kecurigaan dalam dirinya mulai muncul.
Sita kembali melanjutkan langkahnya, otaknya mulai berpikir dan menerka-nerka sedang bicara dengan siapa lelaki itu tadi.
Sita lalu mengambil wudhu dan berlalu shalat, dia akan membahas masalah ini dengan Kakaknya saat Kakaknya itu sudah pulang.
Hari sangat cepat berlalu, siang juga sudah berganti dengan malam. Sita yang sedang menyiapkan makan malam teekejut mendengar suara seseorang di ruang depan dan memutuskan untuk melihatnya.
"Kakak? sudah pulang?"
Sita meletakkan piring yang tidak sengaja dia bawa, dia lalu menyalim tangan Sean dan juga Soni dihadapan seseorang yang bertamu ke rumah mereka.
"Sofia? kau, kau benar-benar masih hidup?"
Tubuh Sita terhuyung ke belakang saat dipeluk oleh seorang pria, refleks Sita mendorong pria itu hingga pelukannya terlepas.
"Sofia, ini aku, Danish! tunanganmu!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘