Di Bawah Tali Pernikahan

Di Bawah Tali Pernikahan
Bab. 69. Pilihan Sulit Yang Harus Dilakukan.


__ADS_3

"Angkat tangan kalian!"


Dua orang penjaga yang bertugas menjaga gerbang rumah Sean, merasa terkejut melihat kedatangan beberapa lelaki sambil menodongkan pistol ke arah mereka, sementara yang lainnya berusaha menerobos gerbang rumah mewah itu.


"Tangkap semua orang yang ada di sini!"


Semua anak buah Danish langsung menyebar keseluruh penjuru rumah, sementara yang lain mengamankan para penjaga rumah yang berjumlah 6 orang.


Dor!


Ammar dan yang lainnya sangat terkejut saat mendengar suara tembakan, dia segera menyuruh Zulaikha dan kedua adiknya untuk bersembunyi di dalam kamar sekarang juga.


"Mas!"


"Masuklah ke dalam, Sayang! Aku akan melihat siapa yang sedang berada di luar!"


Zulaikha terus menggenggam tangan suaminya dan enggan untuk melepaskannya, dia merasa sangat takut terjadi sesuatu pada Ammar.


"Aku akan baik-baik saja, Sayang! Percayalah!"


Zulaikha mulai mengendurkan pegangannya dan masuk ke dalam kamar, sementara Ammar langsung pergi untuk melihat apa yang terjadi dengan 2 pistol di kanan dan kiri tangannya.


"Maafkan aku, Mbak! Maafkan aku!"


Zulaikha dan Syifa sangat terkejut dengan apa yang Sita lakukan, mereka segera menunduk dan memaksa wanita itu untuk bangkit karna Sita saat ini sedang bersimpuh dilantai.


"Ada apa, Sita? Kenapa kau seperti ini?"


Zulaikha merengkuh tubuh Sita mencoba untuk menenangkannya, begitu juga dengan Syifa yang berusaha menarik tubuh sahabatnya itu.


"Maafkan aku, hiks. Huhuhu, maafkan aku!"


Sita terus menangis tersedu-sedu membuat Zulaikha dan Syifa ikut menangis. "Maafkan aku, hiks. Gara-gara aku-"


"Kau tidak salah apapun, Sita! Kenapa kau minta maaf?"


Sita semakin terisak, karna dia semua orang berada dalam bahaya saat ini. Bukan hanya Kakak dan suaminya saja, bahkan Zulaikha dan keluarganya ikut menderita karnanya.


"huhuhu, maafkan aku, Mbak! Maafkan aku!"


"Tidak ada yang salah dan harus dimaafkan, Sayang! Semua ini sudah takdir, dan kita hanya bisa berdo'a semoga semuanya baik-baik saja!"


Zulaikha memeluk Sita dengan erat, dia tau kalau adiknya itu pasti menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi saat ini.


Sita terus menumpahkan segala tangisannya yang menyayat hati, sungguh dia tidak ingin semua ini terjadi pada semua keluarganya.

__ADS_1


Andai dia menerima Danish, ini semua pasti tidak akan terjadi. Keluarganya tidak akan berada dalam bahaya hanya karna keegoisannya, bahkan sekarang bisa saja orang-orang yang dia sayangi kehilangan nyawa mereka.


"Jangan menangis lagi, Sita! Apapun yang terjadi, kau tetap keluarga kami! Walau waktu bisa diputar kembali pun, kami akan tetap melakukan semua ini! Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri, karna kami sendirilah yang yang memilih untuk melakukan ini!"


Tangisan Sita semakin kuat saat mendengar ucapan Syifa, sungguh dia merasa beruntung telah dipertemukan oleh orang-orang yang sangat baik seperti mereka.


Dor!"


Ketiga wanita itu langsung terkejut saat mendengar suara tembakan yang berasal dari dalam rumah ini, mereka segera bangun dan mendekat ke arah pintu.


"Mbak!"


Syifa menahan tangan Zulaikha yang sudah akan membuka pintu, dia menggelengkan kepalanya untuk melarang Kakaknya keluar dari sana.


"suami mbak ada diluar, Dek! mbak, mbak mau melihatnya!"


"Tidak Mbak, itu sangat berbahaya! Ingat pesan Mas Ammar, dan pikirkan bayi yang ada dalam kandungan Mbak!"


Zulaikha terdiam, dia lalu terisak dalam pelukan Syifa karna tidak tau lagi harus melakukan apa.


Sementara itu, diluar kamar Ammar dan Danish sedang saling menodongkan senjata. Semua anak buah Danish sudah mengamankan para karyawan Sean, dan bersiap untuk mencari keberadaan Sita.


"Berhenti atau ku tembak kalian!"


Ammar juga menodongkan senjatanya ke arah anak buah Danish yang akan menaiki tangga, dia tidak akan membiarkan mereka menyentuh Zulaikha dan kedua adik iparnya.


"Hahahaha!"


Danish tertawa mendengar ucapan Ammar. "Polisi? Apa kau pikir mereka bisa menangkapku? Apa kau tidak tau, bagaimana cara kerja polisi di negara ini?"


Ammar mencengkram pistolnya dengar erat sampai tangannya bergetar, dia benar-benar merasa emosi mendengar ucapan lelaki itu.


Danish lalu memberi kode pada anak buahnya untuk mencari Sita, dia harus segera membawa wanita itu saat ini juga.


"Berhenti ku bilang!"


Dor!


Untuk pertama kalinya Ammar menembak seseorang yang langsung menembus dada orang tersebut, dadanya berdebar kencang dengan tangan gemetaran sampai membuat pistolnya terjatuh.


Danish yang melihatnya merasa bingung, padahal Ammar yang menembak, tapi leleki itu juga yang sekarang tampak pucat.


"Ya Allah, aku, aku membunuh seseorang?"


Ammar terdiam dengan air mata menetes dari sudut matanya, sementara Danish yang melihat semua itu tentu tidak melewatkannya.

__ADS_1


Dia segera melayangkan kakinya tepat ke tangan Ammar sampai pistol yang dipegang lelaki itu terjatuh, dengan cepat dia juga melayangkan tangannya ketubuh Ammar sampai lelaki itu tersungkur ke lantai.


Ammar yang masih merasa syok mulai kembali sadar, dia melihat ke arah Danish yang sedang menodongkan pistol tepat ke kepalanya.


"Katakan di mana Sofia!"


Ammar tersenyum sinis. "Bunuh aku, dan lupakan dia!"


Danish langsung menendang perut Ammar sampai beberapa kali karna meras kesal dengan ucapannya, darah segar keluar dari mulut Ammar yang menetes membasahi lantai.


"Aaarggh!"


Ammar kembali berteriak saat kaki Danish menginjak kepalanya dengan kuat, dia memegangi kaki itu dan berusaha untuk mengangkatnya.


Pada saat yang sama, semua anak buah Danish sedang memeriksa seluruh kamar. Sebelumnya Sita sudah mengunci semua kamar yang ada di rumah itu sehingga siapa pun akan susah untuk membukanya.


Brak!


Ketiga wanita itu kembali terkejut saat ada yang mencoba untuk mendobrak pintu kamar mereka, perlahan Sita bangkit dan membawa Zulaikha agar menjauh dari pintu.


"Aaargh!"


Zulaikha semakin terisak saat mendengar suara suaminya, dadanya terasa sesak karna memikirkan apa yang sedang terjadi pada Ammar saat ini.


"Mas Ammar, huhuhu!"


Sita yang melihatnya sungguh merasa sangat hancur, dia lalu memikirkan sesuatu agar bisa menyelamatkan Ammar.


Saat ini Zulaikha dan Syifa sedang duduk di pinggir ranjang, dia lalu melirik ke arah pintu dan berniat untuk keluar.


"Aku harus keluar, aku tau kalau mereka pasti mencariku!"


Sita lalu berlari ke arah pintu dan membuka kuncinya dengan cepat, setelah terbuka, dia menarik kunci tersebut dan langsung keluar lalu kembali mengunci pintunya


"Tidak, Sita!"


Zulaikha dan Syifa langsung berlari ke arah pintu dan mencoba untuk membukanya, mereka terus berteriak memanggil Sita agar wanita itu membuka pintu tersebut.


Begitu Sita keluar, dia langsung disuguhkan pemandangan yang sangat menyeramkan, di mana ada belasan anak buah Danish yang sudah menodongkam pistol ke arahnya.


"Kalian mencariku kan? Bawa aku, dan tinggalkan tempat ini!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2