
Senyum yang tidak pernah terbit diwajah Rafa kini tampak menghiasi bibirnya, untuk pertama kali Sita melihat senyum itu dan berhasil membuatnya terpesona.
"Terima kasih, Sita!"
Rafa berbalik, dan berjalan meninggalkan wanita itu. Ada banyak hal yang harus dia urus untuk pernikahan mereka, terutama memberitahukan berita itu pada keluarganya.
Sementara itu, acara resepsi pernikahan Atha dan Syifa berjalan dengan lancar dan meriah. Para tamu benar-benar puas dengan apa yang disuguhkan, baik suasana, hiburan dan juga makanan dan minuman yang telah disediakan.
Acara pesta itu berlangsung sampai malam, tepat pada pukul 10 pemandu acara menutup acara resepsi itu dengan ucapan terima kasih untuk semua tamu yang hadir.
Atha dan Syifa langsung beranjak ke kamar mereka, rasa lelah dan letih terus menjalar ke seluruh tubuh membuat mereka ingin langsung tidur saat ini juga.
"Ya Allah, aku lelah sekali!"
Syifa merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, matanya tertutup menahan pegal diseluruh tubuh.
Atha yang baru selesai mandi menggelengkan kepalanya, dia lalu melempar handuk yang sedang dia pegang tepat kewajah Syifa.
Syifa yang terkejut langsung bangun, dan betapa syoknya dia saat melihat Atha hanya memakai handuk saja diperut sampai lututnya.
"K-k-kau, apa yang kau lakukan?"
Syifa menutup kedua matanya dengan tangan, sementara Atha tersenyum jahil melihatnya seperti itu.
"ada apa denganmu?"
"Cepat pakai pakaianmu!"
Atha berdecak, dia lalu mengikuti apa yang wanita itu inginkan. Akan tetapi, dia tidak memakai pakaian, melainkan membuka handuk yang melilit pinggangnya.
"sudah!" ucap Atha memberitahu, dia maju selangkah dan berada tepat di depan wajah Syifa.
Syifa yang mendengar itu segera membuka matanya, dan ...
"Aaaah!"
Suara teriakannya menggema di dalam kamar membuat orang-orang yang berada di luar bergegas untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Astaga, teriakanmu cetar membahana sekali!"
Brak! Pintu kamar Syifa dibuka dengan kuat oleh Zulaikha dan pasukannya, mereka segera masuk untuk melihat apa yang sudah terjadi.
Atha yang melihat mereka cepat-cepat memakai handuknya, padahal tanpa dipakai pun dia tetap memakai celana dibalik handuk itu.
"ada apa, Syifa? Kenapa kau berteriak?"
"M-Mbak, d-dia membuka handuknya di depanku!"
"Apa?"
Semua orang yang ada di ruangan itu terkikik geli mendengar apa yang Syifa ucapkan, bahkan Rafa saja yang biasanya tidak pernah bereaksi kini tampak tersenyum tipis.
__ADS_1
"memang apa salahnya kalau buka handuk, toh aku pakai celana kok!" sewot Atha, sebenarnya dia merasa malu tapi dia berpura-pura untuk tegar.
"ta-tapi kenapa kau membukanya di depanku?"
"Yah karna kau istriku! Tidak mungkin aku membukanya di depan Sita!"
Sita terlonjak kaget saat namanya di bawa-bawa oleh lelaki itu, sementara Rafa menatap Atha dengan tajam karna tidak suka dengan apa yang dia ucapkan.
"ekhem! Sudahlah, tidak baik ribut-ribut. Lebih baik kita semua istirahat!" ucap Ammar, dia lalu membawa Zulaikha untuk keluar dari tempat itu.
Sita mengekori mereka untuk keluar dari sana, tetapi tangannya dicekal oleh Syifa hingga dia melihatnya dengan bingung.
"Sita, aku tidur denganmu yah!" pinta Syifa.
Sita melirik ke arah Atha, tentu saja dia tidak keberatan sama sekali, tetapi bagaimana dengan lelaki itu pikirnya.
"Syifa! Ini adalah malam pertama kita, kenapa kau malah mau menghabiskan malam dengan Sita?" Atha merasa tidak terima, dia yang menikah kenapa pulak Sita yang bermalam dengan istrinya.
"Tutup mulutmu, Atha! Sekali lagi kau membuat keributan, akan ku robek mulutmu itu!"
Glek, Syifa dan Sita merapatkan tubuh mereka karna Rafa saat ini terlihat sangat menakutkan.
"apa aku salah? Coba kau yang berada diposisiku, pas malam pertamamu dengan Sita dia bermalam dengan temannya!"
"Apa?"
Syifa langsung melihat ke arah Sita, sementara Sita sendiri memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
"Sudahlah, keluar kalian berdua dari kamarku! Ayo istriku, kita tidur!"
Rafa yang sudah geram dengan Atha langsung menarik Sita keluar dari kamar itu, sementara Syifa kembali panik karna hanya berduaan dengan Atha.
"tu-tunggu, Atha! Kau, kau sudah berjanji tidak akan memaksaku kan," Syifa mengkerut takut, tubuhnya merapat didinding saat Atha semakin mendekatinya.
"aku sudah bilang jangan takut padaku, Syifa! Aku suamimu, aku tidak akan menyakitimu," lirih Atha, dia lalu mengulurkan tangannya memeluk tubuh Syifa yang diam membeku.
"Ayo, sekarang kita tidur! aku janji tidak akan melakukan apapun!"
Syifa mendonggakkan kepalanya, matanya yang jernih menatap Atha dengan sayu. "Janji?"
Atha menganggukkan kepalanya, dia lalu menuntun Syifa untuk naik ke atas ranjang dan berbaring di sana.
Syifa berbaring membelakangi Atha, jantungnya terus berdebar kencang karna satu ranjang dengan seorang lelaki.
Atha tersenyum tipis, dia lalu mematikan lampu dan masuk dalam selimut. Tangannya kembali terulur memeluk tubuh Syifa yang menegang.
"Atha-"
"Tidurlah, aku hanya akan memelukmu!"
Akhirnya Atha memejamkan matanya dan memasuki alam mimpi, sementara Syifa masih berusaha untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Rafa yang sudah membawa Sita keluar kamar terus menarik tangan wanita itu sampai berdiri di depan kamarnya, dia lalu berbalik dan melihat Sita dengan tajam.
"A-anu, aku, aku ingin segera tidur!"
Rafa melepaskan genggaman tangannya, tapi tatapan matanya masih menatap lekat gadis itu.
"ka-kalau gitu, selamat malam!"
"Aku harap kau besok tidak seperti itu, Sita!"
Sita yang udah membuka pintu kembali melihat ke arahnya dengan bingung.
"Aku harap malam pertama kita tidak seperti mereka!"
Blush, sontak wajah Sita langsung merah bak kepiting rebus mendengar ucapan lelaki itu.
"Se-selamat malam!" Brak, Sita langsung masuk ke dalam kamarnya karna sudah terlalu malu.
"Kenapa dia berkata seperti itu sih?" Sita memegangi wajahnya yang terasa panas.
Sementara Rafa sendiri tersenyum simpul, baru kali ini dia melihat Sita malu seperti itu. "Dia menggemaskan sekali."
Tanpa dia sadari, ternyata Ammar dan Zulaikha mengintip dari pintu kamar mereka. Mereka berdua terkikik geli karna tidak menyangka kalau Rafa bisa mengatakan hal seperti itu.
Sementara itu, di sisi lain terlihat seorang lelaki paruh baya sedang menyusun rencana untuk menghancurkan seseorang. Dia ditemani oleh dua orang bawahannya yang selalu menjalankan semua perintahnya.
"pertama-tama, kalian harus mencari tau identitas lengkap lelaki ini! Baru kita hancurkan mereka semua!" ucapnya dengan tajam, pisau yang sejak tadi dia pegang menancap tepat disebuah foto.
"Dia bukannya sekretaris Azzam, Tuan?"
"Benar! sejak lelaki itu mati, dia menjadi sekretaris adiknya, kita harus cari tau siapa dia sebenarnya!"
"tapi kenapa, Tuan? Bukannya target kita Tuan Sean dan adiknya?" tanya salah satu bawahannya.
"dia telah menghancurkan seluruh rencanaku, dia membuat anakku tidak bisa menikah dengan sofia! Tau gitu dulu aku langsung saja membunuh mereka semua!" jelas Danu penuh kebencian.
"Target pertama kita adalah dia, pastikan kalian mencaritau semua seluk beluk lelaki itu!"
Kedua bawahan Danu menganggukkan kepala, mereka lalu keluar dari ruangan itu untuk menjalankan apa yang dia perintahkan.
"Kau lihat saja, Sean! Aku menyesal telah membiarkanmu hidup, tapi sekarang tidak lagi! Aku akan menghancurkan dan memburumu sama seperti apa yang aku lakukan dulu!"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
__ADS_1