
"Karna dia adalah calon istriku, dan dia akan menikah denganku!"
Semua orang terlonjak kaget dan langsung mengalihkan pandangan mereka kesumber suara, mata mereka membulat sempurna saat melihat sosok lelaki yang saat ini sedang berjalan ke arah mereka.
"Ma-mas Rafa?"
Rafa berdiri tepat di samping Sita tanpa melihat ke arah gadis itu, matanya menatap tajam ke arah Danu dan juga putranya.
"Kau? Bukannya kau sekretarisnya Azzam?" tanya Danu dengan tajam.
"benar! Saya adalah sekretaris almarhum Azzam, dan sekarang Saya menjadi sekretaris Ammar," jawab Rafa.
Untuk sesaat, suasana menjadi hening. Semua orang mencoba untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, terutama Sita, yang terus menatap Rafa dengan penuh tanda tanya.
"jadi maksudmu, kau akan menikah dengan Sofia?" tanya Danu, sepertinya dia sudah bisa mencerna ucapan lelaki itu.
Sekilas Rafa melihat ke arah Sita, pandangan mereka kembali bertemu. Rafa mencoba untuk menguatkan niatnya melalui sorot mata gadis itu.
"Benar! Saya akan menikah dengannya dalam waktu dekat."
Rafa kembali memalingkan wajahnya ke arah Danu, melihat sorot mata Sita membuatnya yakin dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Wah! Apa ini? Hahahaha!"
Danu tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Rafa, dia bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa sakit.
Sean dan yang lainnya melihat dengan bingung, mereka tidak mengerti apa yang lucu dan membuat lelaki itu tertawa.
"Apa-apaan ini, Sean? Apa kau merasa ini tidak lucu?"
Masih terdengar gelak tawa dari mulut lelaki itu, bahkan Danish saja sampai melihat Ayahnya dengan bingung.
"kenapa anda tertawa? Apa yang dikatakan Rafa itu lucu?"
"tentu saja! Pekerja rendahan sepertinya mau menikahi Sofia, yang benar saja?"
Sean mengepalkan kedua tangannya, darahnya mendidih mendengar hinaan yang keluar dari mulut lelaki itu.
Ternyata bukan Sean saja yang emosi, Sita bahkan jauh lebih geram saat mendengarnya.
"Semua manusia itu sama, tidak ada yang berbeda di hadapan Allah! baik pekerja, pengusaha, bahkan pengemis sekalipun, derajatnya tetap sama!"
Tawa yang masih menghiasi wajah Danu langsung lenyap dan berganti dengan tatapan tajam mematikan.
"Jadi kau menolak anakku, hanya karna dia?"
Danu merasa tidak terima, anaknya tidak bisa dibandingkan dengan sekretaris rendahan seperti itu.
Sita menganggukkan kepalanya dengan penuh keraguan, entahlah, dia tidak tau apa yang akan terjadi nantinya.
"oh, ayolah! Apa kau juga akan menerima itu, Sean?"
__ADS_1
"Tentu saja, kenapa tidak! Selagi adikku menerimanya, tidak ada alasan untukku menolak!"
Tegas menjawab, selagi adiknya bahagai, maka Sean pasti akan melakukan apapun untuk kebahagiaan itu.
"baiklah! Aku harap kalian tidak akan menyesal telah melakukan ini pada keluargaku, karna aku tidak akan segan-segan lagi untuk menghancurkan kalian!"
"Danish, ayo kita pergi!"
"Ta-tapi Pa-"
Danish terpaksa bungkam saat melihat tatapan tajam dari sang Ayah, mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa melihat ke belakang.
Sita menghela napas lega saat melihat mereka pergi, setidaknya dia sudah tidak khawatir lagi untuk dipaksa menikah dengan Danish. Tapi ....
"Kak, apa semuanya akan baik-baik saja?" tanya Sita khawatir, dia tau persis bagaimana kejamnya keluarga Danu.
"Tentu saja! Kenapa kau khawatir, Sweetu? Tidak akan terjadi apa-apa."
Sean mengusap puncak kepala Sita, dia lalu melirik ke arah Rafa yang juga sedang melihat ke arahnya.
"ja-jadi, masalah yang tadi, emm ... anu, Mas tidak akan benar-benar menikahiku kan?" tanya Sita, dia melihat ke arah Rafa yang sedang bertatapan dengan Sean.
Rafa beralih melihat ke arahnya. "Kenapa? Apa kau berpikir kalau aku tidak serius?"
"hah! Y-ya bukan seperti itu, hanya saja-"
"Rafa, kita harus bicara!"
Sean berbalik dan pergi dari tempat itu setelah mendapat anggukan dari Rafa, sementara Sita langsung panik dengan apa yang terjadi saat ini.
Rafa menahan kakinya yang akan melangkah, matanya melihat ke arah tangannya yang sedang digenggam oleh Sita.
"aku tidak punya waktu untuk bercanda, Sita! Aku harus segera pergi, jadi tolong lepaskan tanganku!"
"Hah?"
Sita melihat ke arah tangan Rafa, dia terkejut dan langsung melepaskannya, sangking paniknya, dia tidak sadar kalau sedang menggenggam tangan lelaki itu.
Rafa lalu berbalik pergi untuk menyusul langkah Sean, sementara Sita sendiri merasa gelisah dengan apa yang terjadi saat ini.
"Ya Allah, apa ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini?"
Sita merasa lepas dari mulut singa tetapi masuk dalam mulut harimau, entah apa yang sedang terjadi, dia hanya bisa berharap kalau Rafa tidak serius dengan ucapannya.
Sementara itu, Sean yang sudah berada di ruang kerja Ammar menunggu kedatangan Rafa. Sebelumnya dia sudah meminta izin pada Ammar untuk memakai ruang kerja lelaki itu.
"Masuklah, dan tutup pintunya!"
Rafa yang masih berdiri di depan pintu langsung masuk, dan menutup pintu ruangan itu. Dia lalu duduk disofa, berhadapan tepat dengan Sean.
"aku tidak tau alasan apa yang membuatmu ikut campur dengan urusanku, tapi, aku merasa berterima kasih karna kau telah membantu Sita keluar dari jeratan Danu!" ucap Sean dengan tulus, terlepas dari apapun niat lelaki itu.
__ADS_1
Rafa hanya diam mendengarkan, dia masih menunggu momen yang tepat untuk mengatakan keinginannya.
"Jadi, untuk kedepannya tidak akan mudah. Aku harap kau bersedia untuk membantuku melindungi Sofia, karna aku tau apa yang Danu ucapkan tidak main-main!"
Rafa menganggukkan kepalanya, tanpa diminta pun dia sudah bersumpah akan menyerahkan hidupnya untuk melindungi Sita.
"terlepas apapun maksud dari ucapanmu tadi, aku akan membayarmu sesuai dengan apa yang-"
"Saya tidak butuh bayaran, Tuan! Saya hanya butuh restu."
Sean mengerutkan keningnya. "Restu?" Tatapan penuh tanda tanya dia layangkan pada lelaki itu.
"Saya serius dengan apa yang saya katakan, Tuan! Saya harap Tuan mengizinkan saya untuk menikah dengan Sita."
Kaget, itulah yang Sean rasakan sekarang. Sebenarnya dia mulai berpikir kalau Rafa dan adiknya sama-sama saling suka, tapi kalau untuk menikah, dia belum berpikir sampai ketahap itu.
"Kau serius?"
Rafa menganggukkan kepalanya. "Saya serius, Tuan! Saya ingin menjadikan Sita sebagai istri saya, tapi, saya melakukannya bukan karna balas budi atau untuk melindunginya, Tapi karna hati saya yang menginginkannya!"
Sean terpaku, dia tidak menyangka kalau lelaki sedingin dan sekaku Rafa bisa mengucapkan kata-kata seperti itu.
"apa kau mencintai adikku?"
walaupun sudah paham dengan apa yang Rafa katakan, tetapi Sean ingin mendengar bagaimana jawaban dari lelaki itu.
Rafa terdiam, sesungguhnya dia tidak tau apa itu cinta karna memang tidak ada satupun wanita selain Ibunya yang selama ini mengisi hatinya.
Akan tetapi, akhir-akhir ini dia sering memikirkan Sita. Entah perasaan cinta atau tidak, tetapi hatinya merasa sesak dan tidak terima saat mendengar Sita akan menikah dengan orang lain.
"Saya tidak tau, Tuan! Saya hanya merasa tidak suka saat ada lelaki lain yang ingin menikah dengannya."
Sudah cukup, Sean sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Walaupun Rafa tidak mengatakan kalau dia mencintai adiknya, tetapi jawaban yang terucap dari mulut lelaki itu sudah mengatakan segalanya.
"Jadi, kapan kau akan menikahinya?"
Rafa terkejut, jelas dia tidak menyangka kalau Sean akan langsung bertanya mengenai hal itu.
"apa, apa Tuan merestui saya?"
"Tentu saja! tapi, aku tidak mau kalau menunggu terlalu lama. Sama seperti Atha, kita bisa menyiapkan pernikahan dalam beberapa hari ke depan!"
Sepertinya Sean ingin mengikuti jejak Atha, tapi dia melakukannya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk pernikahan sang adik.
"Baik, Tuan! Saya akan mempersiapkan semuanya."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘