
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil. Atha dan Syifa sama-sama tengah sibuk memikirkan sesuatu.
Atha sedang berpikir bagaimana caranya agar Syifa mau menerimanya sementara Syifa sendiri sedang memikirkan bagaimana caranya agar membuat Atha berhenti mengganggunya.
Sesaat kemudian, mobil Atha sudah sampai disebuah restoran. Dia segera turun dengan diikuti oleh Syifa yang melihat ke sekeliling restoran tersebut.
"Untuk apa kita ke sini?"
Syifa mengikuti langkah Atha yang sudah sampai dipintu restoran, terlihat tempat itu masih agak sepi karna memang hari masih pagi.
"Untuk makanlah! memangnya untuk apa lagi?"
Atha berlalu meninggalkan Syifa yang masih berdiri di depan pintu, dia langsung menuju rooftop karna memang dia telah menyiapkan sesuatu di sana.
"Memangnya aku tidak tau apa, kalau restoran itu tempat makan! maksudku kan bukan kayak gitu!"
Syifa mengikuti langkah Atha dengan kesal, tapi dia berusaha untuk tetap tenang karna setelah hari ini, dia akan terbebas dari lelaki itu.
Sesampainya di rooftop, mata Syifa membulat sempurna saat melihat dekorasi yang ada di tempat itu.
Banyak bunga-bunga yang menghiasi setiap sudut rooftop, juga ada pernak-pernik lain yang menambah keindahan tempat itu.
Pemandangan alam yang disuguhkan di belakang restoran juga tidak kalah cantik, membuat siapa saja senang saat melihatnya.
Atha yang sedang berdiri di dekat meja beralih mendekati Syifa yang masih terpaku, ternyata dia telah membayar seseorang untuk menyiapkan tempat itu dengan sedemikian rupa.
"Kenapa kau diam saja? apa kau tidak pernah melihat pemandangan seperti ini?"
Syifa tersadar dari lamunannya dan menatap Atha dengan tajam. "Apa ini? apa kau yang menyiapkan semua ini?"
Atha menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman, tanpa menjawab pertanyaan Syifa, dia malah mempersilahkan wanita itu untuk dusuk dikursi yang sudah dia sediakan.
Syifa menuruti apa yang Atha lakukan, terserahlah mau Atha yang menyiapkannya atau tidak yang pasti dia sangat senang berada di tempat itu.
Setelah Atha dan Syifa duduk, datanglah seorang pelayan yang menyediakan minuman dan makanan ringan untuk mereka.
Lagi-lagi Syifa bertanya-tanya, mungkinkah semuanya sudah di atur oleh lelaki itu karna mereka belum memesan apa-apa tetapi sudah disuguhkan makanan dan minuman.
"Makanlah, makanan itu terbuat dari kacang almond yang baik untuk kesehatanmu!"
Syifa melihat kue yang sudah terhidang di atas meja, dia lalu mengambil makanan yang Atha maksud dan menikmatinya.
Atha tersenyum simpul, awalan yang baik untuk memulai sesuatu yang nantinya pasti akan sangat mengejutkan Syifa.
Beberapa menit telah berlalu, Atha melirik ke arah Syifa yang sedang melihat pemandangan pertanda kalau dia sudah bisa memulai aksinya saat ini.
"Syifa, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu!"
Syifa mengalihkan pandangannya, dia lalu mempersilahkan Atha untuk melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Syifa, aku, aku ingin kalau kau menikah denganku!"
"Apa?"
Syifa yang merasa sangat terkejut langsung berdiri dan melotot dengan tajam, dia merasa kalau saat ini Atha sudah sangat keterlaluan.
"dengar yah, kau memang sudah menolongku, tapi bukan berarti kau bisa melakukan apapun yang kau mau!" ucap Syifa dengan tajam, dia lalu mengambil tasnya dan hendak pergi dari tempat itu.
"Kenapa? apa yang salah dengan keinginanku?"
Syifa yang sudah memegang tasnya mencengkram tas itu dengan kuat, ingin sekali dia melemparkannya ke wajah Atha saat ini.
"aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan, tapi kalau sampai kau berkata seperti itu lagi, maka aku-"
"kenapa? apa yang salah dengan pernikahan? wajarkan, kalau seorang laki-laki dan wanita menikah?"
Atha menatap Syifa dengan tajam seolah-olah apa yang dia katakan adalah sesuatu yang biasa terjadi.
"kalau kau memang mau menikah, menikah saja dengan orang lain! dan jangan lagi menggangguku!"
"tidak bisa! aku hanya ingin menikah denganmu, tidak dengan yang lain,"
"Hentikan, Atha!"
Suasana menjadi hening dan penuh dengan ketegangan, hanya ada hembusan angin yang berhembus mengelilingi mereka saat ini.
Selama beberapa detik, pandangan mata mereka terkunci. Mereka seolah-olah saling menumpahkan rasa cinta dan benci melalui tatapan tajam itu.
Syifa berbalik dan berjalan ke arah pintu, dia sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tetap bersama dengan lelaki itu.
"Aku mencintaimu, Syifa!"
Deg, langkah Syifa terhenti saat mendengar apa yang Atha katakan. Tangan yang sudah memegang handel pintu tidak kuasa untuk dia gerakkan.
Atha yang sebenarnya belum ingin mengungkapkan perasaannya malah kelepasan, dia merasa gugup dan gelisah saat melihat Syifa pergi. Itu sebabnya ungkapan cinta langsung meluncur dari mulutnya.
"Aku mohon hentikan, Atha! apapun yang kau katakan dan kau inginkan, silahkan lakukan pada wanita lain!"
Syifa berkata tanpa membalikkan tubuhnya, dia merasa tidak sanggup untuk melihat langsung ke arah lelaki itu. Dia memang benar-benar tidak ingin bersama Atha, tapi entah kenapa saat ini dadanya terasa sesak.
"Apa salah kalau aku mencintaimu, Syifa?"
Bibir Syifa bergetar, dia tidak sanggup membalas ucapan lelaki itu lalu menundukkan kepalanya.
"tidak, aku tidak boleh seperti ini! aku tidak ingin bersamanya, aku tidak ingin bersama siapapun!"
"Cintamu memang tidak salah, Atha! tapi orang yang kau cintailah yang salah!"
Syifa berbalik setelah berhasil menenangkan diri, dia melihat ke arah Atha yang juga sedang melihatnya.
__ADS_1
Atha tersenyum, dia sudah bisa menduganya kalau tidak akan mudah untuk membuat Syifa setuju untuk menikah dengannya.
"benar, cintaku memang tidak salah tapi orang yang aku cintailah yang salah!"
"begitu juga kan, dengan perasaan cintamu pada Ammar?"
Syifa terdiam dengan dada bergemuruh, lelaki itu kembali mengingatkan perasaan yang telah susah payah dia kubur.
"lalu, bagaimana? apa kau tetap akan mempertahankan perasaamu untuk suami dari Kakakmu sendiri?"
ucapan Atha terasa menancap tepat di hati Syifa, wajahnya merah padam menahan emosi atas kelancangan lelaki itu.
"kau tidak berhak untuk mengatakan itu, dan kau juga tidak berhak untuk ikut campur!"
"Jadi, siapa yang berhak? Zulaikha?"
Atha tertawa sinis, dia menatap wajah Syifa yang terlihat sangat-sangat emosi saat ini.
"maafkan aku, Syifa! aku terpaksa harus melakukan ini" Atha merasa bersalah pada wanita itu.
"sebenarnya maumu apa, Atha? kenapa kau ikut campur dalam urusanku? dan apa hubungannya denganmu?" suara Syifa lirih terdengar, bahkan beberapa air mata berhasil lolos dari matanya.
"Aku sudah bilang, kalau aku ingin menikah denganmu!"
Syifa melempar tas yang sejak tadi dia pegang tepat ke arah meja membuat seluruh makanan dan minumannya berserakan, bahkan Atha saja sampai terlonjak kaget karnanya.
"bisakah kau berhanti memaksaku? aku tidak mau, dan aku tidak mencintaimu! jadi tolong hentikan! sebelum aku benar-benar membencimu!"
kesal, marah, kecewa dan rasa sakit bercampur jadi satu dalam hati Syifa membuat dadanya semakin sesak.
"aku tidak akan berhenti sebelum kau setuju untuk menikah denganku!"
Atha tetap teguh pendirian, walaupun merasa bersalah tapi dia tetap ingin memaksa Syifa untuk menikah dengannya.
"kau benar-benar sudah tidak waras!"
"benar, aku memang tidak waras karna mencintaimu! Tapi kau jauh lebih gila karna mencintai Kakak iparmu sendiri!"
"aku memang mencintainya, tapi tidak ada sedikitpun niatku untuk memilikinya!"
mereka saling balas membuat suasana menjadi semakin panas, angin yang berhembus sedikit kencang bahkan tidak mampu untuk mendinginkan hati dan kepala mereka.
"apa Zulaikha juga akan berpikir sama, saat mengetahui kalau adiknya sendiri mencintai suaminya?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘