
"aku ikut!"
"Apa?"
Atha terlonjak kaget mendengar keinginan Syifa, dia lalu memegang kedua bahu wanita itu sembari menatapnya tajam.
"Aku akan mengantarmu ke rumah Ammar!"
Syifa menggelengkan kepalanya dan tetap ingin ikut bersamanya. "Aku, aku akan bersama dengan Sita!" Pokoknya dia tetap ingin bersama suaminya.
Atha menghela napas kasar, selama ini dia tidak masalah dan senang-senang saja melihat keras kepala sang istri. Akan tetapi, untuk kali ini dia sangat tidak senang melihatnya.
"Sayang, dengarkan aku! Kami di sana bukan mau main rumah-rumahan atau tembak-tembakan, tapi ingin menyelesaikan masalah, dan situasinya pasti akan sangat berbahaya. Bisa saja nanti-"
"Tutup mulutmu, jangan mengatakan sesuatu yang buruk!"
Syifa tau apa yang ingin Atha katakan, dan dia tidak ingin apa yang lelaki itu ucapkan benar-benar terjadi karna perkataan adalah do'a.
"intinya seperti itu, Sayang! Jadi aku mohon dengarkan aku, tetaplah-"
"Aku tetap ingin bersamamu, Atha! Aku janji tidak akan mengganggu dan akan berada di tempat yang aman, tapi izinkan aku ikut. Aku ingin selalu bersamamu!"
Atha pasrah, dia tidak tau lagi harus bicara apa pada istrinya. Dia terpaksa mengizinkan Syifa untuk ikut, tapi nantinya dia akan menyuruh anak buahnya untuk melindungi wanita itu.
Sementara itu, saat ini Rafa dan Sita sedang berada di depan kantor polisi guna untuk mengunjungi Marco. Hari ini Marco akan dihukum mati oleh Negara, mereka memberikan waktu 2 jam untuk lelaki paruh baya itu agar bisa berbicara dengan keluaganya.
"ayo kita masuk, Mas!" ajak Sita, sudah 10 menit mereka berdiri di tempat itu dan tidak kunjung masuk ke dalam.
Rafa terdiam dengan pikiran berkecambuk, entah apa yang sedang dia pikirkan hingga tidak mendengar ajakan sang istri.
Sita yang mengerti bagaimana perasaan Rafa beralih menggenggam tangannya membuat lelaki itu tersentak.
"Tidak apa-apa, ada aku di sini! Ayo, Ibu dan Ayah pasti sudah menunggu!"
Rafa menganggukkan kepalanya dengan sedikit mengulas senyum, dia lalu menggandeng pergelangan tangan Sita dan membawanya masuk ke dalam tempat itu.
"Sudahlah, lebih baik kau pergi sekarang!"
Marco berdiri di hadapan Ibu Lena, terlihat dia dan wanita paruh baya itu saling melihat dengan tatapan tajam mereka.
"Apa sampai akhir kau tidak akan meminta maaf?"
__ADS_1
Ibu Lena benar-benar merasa geram karna sampai detik ini, Marco sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan padanya dan juga putra mereka.
"Sudah ku katakan, aku tidak-"
Marco tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat Rafa dan Sita ada di tempat itu, dia merasa terkejut melihat kehadiran mereka yang sebelumnya tidak pernah dia sangka-sangka.
"Kalian di sini?"
Ibu Lena juga terkejut melihat kedatangan putra dan juga menantunya, sebelumnya mereka berdua tidak memberitahu kalau akan datang ke tempat ini.
Sita mendekati Marco dan mengulurkan tangannya karna ingin menyalim tangan lelaki paruh baya itu, terlihat Marco sedikit terkejut dengan apa yang Sita lakukan.
Rafa yang melihatnya bergegas mendekati sang Ayah dan menarik tangannya membuat Marco terkejut, sementara Sita merasa senang dan segera menyalim tangan mertuanya.
"Bagaimana kabar Ayah?"
Marco kembali terkejut dengan panggilan yang Sita ucapkan, dadanya bergemuruh hebat saat melirik ke arah Rafa yang memandangnya dengan diam.
"aku, aku baik! Tapi, apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya kemudian.
"Maaf karna baru bisa berkunjung sekarang, Ayah!"
"tidak apa-apa, aku juga tidak berharap kedatangan kalian!"
"Bohong!"
Tiba-tiba Ibu Lena bersuara, dia dapat melihat perubahan diraut wajah suaminya, saat ini dan beberapa saat yang lalu sebelum Rafa dan Sita datang.
Sita tersenyum melihat wajah Marco yang sedikit bersemu merah, sementara Rafa hanya diam di sampingnya tanpa bicara apa-apa.
Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening. Mereka semua seperti sedang menikmati saat-saat seperti ini, karna sebentar lagi salah satu dari mereka akan tiada.
"Waktu kalian tinggal 1 jam lagi, setelah itu tolong tinggalkan tempat ini!"
Air mata Sita langsung menetes saat mendengar seruan salah satu polisi yang ada di tempat itu, begitu juga dengan Ibu Lena yang saat ini sedang memalingkan wajahnya ke arah samping.
"pergilah! Kalian hanya buang-buang waktu di sini, "ucap Marco dengan tajam, tetapi Sita dapat merasakan getaran disetiap kata-kata yang mertuanya itu ucapkan.
"Hiduplah dengan bahagia, aku senang melihat keadaan kalian sekarang!"
Tangis Ibu Lena sudah tidak bisa di bendung lagi membuat Sita langsung menghampiri mertuanya itu dan memeluknya dengan erat, walau bagaimanapun sifat Marco, tetapi lelaki itu tetap saja suaminya.
__ADS_1
"Dan kau, Rafa! Hiduplah dengan tenang bersama istrimu, sayangi dia sebagaimana dia menyayangimu!"
Yah, Marco sedang mengucapkan kata-kata terakhirnya sebelum dia meninggalkan dunia ini. Dia merasa senang karna di detik-detik terakhir hidupnya, dia masih bersama orang-orang yang dia sayangi.
"kau tidak berhak mengatakan itu, karna kau sendiri tidak melakukannya!" ucap Rafa.
Marco menarik sedikit ujung bibirnya hingga membentuk senyum tipis. "Itu karna aku bukan lelaki yang baik, tapi kau berbeda! Kau seorang anak yang benar-benar membanggakan, Rafa!"
Darah Rafa berdesir mendengar ucapan sang Ayah, ingin sekali dia menghajar lelaki itu karna mulut Marco sudah lancang mengatakan bangga padanya.
"Dasar bajing*an! Kenapa baru sekarang kau mengatakan itu?"
Rafa mengepalkan kedua tangannya menahan segala gejolak emosi yang melanda hatinya, sungguh dia berada dalam situasi yang sangat menyedihkan saat ini.
"jadilah suami dan ayah yang baik untuk istri dan juga anakmu, serta sayangi Ibumu yang selama ini sangat menyayangimu!"
"Sudah kukatakan kalau kau tidak pantas untuk mengatakan itu, Marco!"
Marco tersenyum lebar mendengar ucapan putranya membuat sudut mata Rafa menjadi basah, air mata terlihat ingin menerobos keluar menghancurkan pertahanannya.
"Berbahagialah, dan maafkan aku!"
Deg, tubuh semua orang terpaku di tempat saat mendengar kata maaf terlontar dari mulut Marco. Untuk pertama kalinya dia meminta maaf pada keluarganya sendiri dan disaat dia akan meninggalkan mereka.
Marco merasa puas, setidaknya dia bisa melihat wajah mereka sebelum mati. Kemudian dia berbalik dan bersiap pergi meninggalkan tempat itu.
Namun, langkahnya terhenti saat tangan seseorang mencengram erat pergelangan tangannya membuat dia melihat ke arah belakang.
"Jangan terus menjadi penjahat bahkan disisa akhir hidupmu, Marco! Karna aku tidak akan pernah memaafkannya!"
Rafa langsung menubruk tubuh Marco dan memeluknya dengan erat membuat lelaki paruh baya itu terdiam dengan tubuh menegang.
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
__ADS_1