
"Aku mendengarnya berdehem, tapi bukan ponakanmu, melainkan Bapaknya!"
Syifa tertawa geli mendengar ucapan Atha, begitu juga dengan yang lainnya yang berusaha untuk menahan tawa mereka.
Ammar sendiri hanya menggelengkan kepalanya, siapa yang suka kalau istrinya berdekatan dengan lelaki lain walaupun tidak ada maksud tertentu di dalamnya.
Setelah semua rencana penyerangan selesai, mereka segera pamit untuk menuju tempat yang sudah disiapkan. Terlihat Sita dan Syifa melihat mereka semua dengan sendu saat ini.
"Sofia, Kakak dan suamimu pergi dulu! Kakak harap kau baik-baik saja di rumah, dan tunggulah kami pulang!"
Sita menganggukkan kepalanya, dia lalu memeluk tubuh Sean dengan erat seperti tidak ingin ditinggalkan.
"Berhati-hatilah, Kak! Dan kembalilah dengan selamat!"
Hanya itulah yang Sita inginkan saat ini, dia berharap semua keluarganya yang pergi akan pulang dengan selamat dan tanpa kekurangan apapun.
Sean melerai pelukannya dan mengecup kening sang adik, dia lalu tersenyum sembari mengusap air mata yang menetes diwajah Sita.
"Mas!"
Sita beralih ke suaminya, lelaki itu langsung memeluk tubuhnya dengan erat membuat air matanya semakin deras mengalir diwajahnya.
"Aku akan baik-baik saja, tunggu aku di rumah ya!"
Sita menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Aku akan menunggu, Mas!"
Rafa juga mengecup kening Sita beberapa kali, tidak ketinggalan dia juga mengecup kedua pipi wanita itu walaupun ada banyak orang di sana.
Lain hal dengan mereka, saat ini Atha dan Syifa sedang sama-sama diam. Entah apa yang sedang mereka pikirkan, dan keheningan itu terhenti saat Atha menggenggam kedua tangan istrinya.
"Sayang, aku akan merindukanmu!"
Syifa melotot tajam ke arah Atha. "Kau cuma pergi sebentar, dan akan kembali lagi ke sini! Dengar itu!"
Atha tertawa lebar dan menarik Syifa ke dalam pelukannya, dia mengecupi kening wanita itu beberapa kali sembari memejamkan kedua matanya.
"Kau harus kembali, Atha! Aku, aku tidak bisa hidup tanpamu!"
__ADS_1
Atha terdiam, dia tidak menyangka kalau Syifa akan berkata seperti itu. Dia lalu merenggangkan pelukannya dan meletakkan wajahnya tepat di depan wajah Syifa.
"Tentu saja aku aku akan kembali, Sayang! Aku tidak tahan jika tidak menyentuh tubuhmu sehari saja!"
Air mata yang sudah menggenang dipelupuk mata Syifa langsung kering mendengar ucapan suaminya, dia lalu mencubit pinggang laki-laki itu sampai Atha mengerrang kesakitan.
"Sayang, harusnya kau memberiku ciuman, bukan cubitan!"
"Diam! Kau memang tidak pernah beres, aku, aku, hiks!"
Akhirnya pertahanan Syifa runtuh juga, air mata mengalir bebas dimatanya membuat Atha langsung mengecup kedua matanya.
"jangan menangis, Sayang! Aku sudah berjanji kalau aku tidak akan membuatmu menangis!"
"Aku akan terus menangis kalau kau tidak kembali! Hiks, aku, aku-"
Cup, Atha mengecup bibir Syifa agar wanita itu tidak bicara lagi. Sungguh hatinya terasa sesak melihat istrinya menangis.
"Aku akan baik-baik saja, tidak mungkin aku meninggalkan istriku yang sangat hot diranjang!"
Wajah Syifa memerah saat mendengar kelakar Atha, dia merasa malu dengan apa yang suaminya itu katakan.
"Jangan menangis lagi! Lebih baik kita berdo'a agar mereka semua baik-baik saja, hem!"
Zulaikha mencoba untuk menenangkan kedua adiknya, padahal jika Ammar yang pergi, mungkin dia juga akan seperti kedua adiknya.
"bagaimana? Apa sudah ada jawaban dari Danu?" tanya Sean pada Soni melalui telpon, karna saat ini mereka berada dalam mobil yang berbeda.
"belum, Tuan! Tapi saya rasa sebentar lagi dia akan terpancing, sebab sudah banyak pengusaha terkenal yang menawar Ruby itu!"
Sean lalu memerintahkan Soni untuk mengabarinya jika Danu sudah muncul, dan langsung diiyakan oleh lelaki paruh baya itu.
"Apa saya boleh bertanya sesuatu pada anda, Tuan?" ucap Atha saat Soni sudah memutus panggilan dengan Sean.
Soni menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Atha untuk bicara, sementara matanya masih sibuk dengan tablet yang ada di tangannya.
"Sudah berapa lama Tuan bekerja dengan Tuan Sean?"
__ADS_1
Soni melihat sekilas kearah atha, dia merasa heran karna lelaki itu bertanya tentang lamanya dia bekerja.
"saya sudah bekerja dengan keluarga Tuan Sean saat Nona Sofia berusia 5 tahun!"
"Wow! Ternyata sudah sangat lama yah." Atha mengangguk-anggukkan kepalanya.
"kenapa anda bertanya?" tanya Soni kemudian.
"Saya merasa iri, karna tidak ada bawahan saya yang setia dan bekerja lama seperti anda!"
Atha memalingkan wajahnya sekilas, terlihat Soni tersenyum tipis dengan apa yang dia katakan.
Tidak berselang lama, Soni membulatkan matanya saat melihat Danu mulai masuk dalam perangkap mereka. Soni sengaja memancing Danu melalui aplikasi yang biasa digunakan oleh para pengusaha besar untuk berbisnis. Baik legal maupun ilegal, semua dibebaskan.
Soni segera membuat perjanjian dengan Danu mengenai transaksi yang akan mereka lakukan, dia harus memancing lelaki itu agar datang ke tempat yang telah mereka siapkan.
Setelah Danu menyetujuinya, Soni segera menelpon Sean dan mengatakan kalau Danu akan segera datang ke lokasi.
"Apa dia sudah membuat janji, Tuan?"
Soni menganggukkan kepalanya. "Ya, dia berniat untuk membeli ketiga Ruby itu. Sebaiknya kita segera sampai ke sana sebelum dia duluan!"
Atha menganggukkan kepalanya, dia menekan pedal gasnya agar bisa lebih cepat sampai ke tempat mereka. Syukur-syukur tidak sampai ke hadapan Tuhan.
Setelah menempuh perjalanan 20 menit, akhirnya mereka semua sudah sampai di sana. Soni segera menyerahkan Ruby itu pada salah satu anak buah Sean yang sudah ditunjuk sebelumnya, dan membawa Ruby itu ke dalam tempat itu.
"Tetap berada diposisi kalian sebelum aku memberi perintah!"
Sean sudah memberi ultimatum pada semua anak buahnya, agar tidak gegabah dan merusak segala rencananya
Dari kejauhan, terlihat 3 buah mobil mendekati tempat itu. Seringai iblis muncul disudut bibir Sean saat melihat Danu.
"Akhirnya kau datang!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.