
Pasangan muda yang lagi anget-angetnya itu menghabiskan weekend bersama. Mereka benar-benar memanfaatkan momen langka itu sebelum akhirnya berpisah kembali.
"Udah nggak sabar, pingin cepat kelar KKN ini, aku rasain lama ... banget. Aku kangen terus sama kamu, Dek?" curhat pria itu sembari tiduran di pangkuan istrinya. Mereka tengah duduk di rerumputan yang teduh menghadap ke Tlaga.
Inggit membelai rambut pria itu dengan sayang, memainkan sela-sela rambut suaminya dengan jari jemarinya. Netra mereka saling bertautan, perempuan itu menatap dari atas dengan senyuman, Biru menangkap tatapan itu dari bawah dengan penuh cinta. Mereka sedang berwisata di kawasan Kota tempat KKN mereka. Tempatnya di sebuah Telaga yang cukup asri dengan air yang tenang.
"Satu minggu lagi juga udah pulang, Mas, kita bisa menikmati waktu sama-sama terus," jawab Inggit dengan membelai rambutnya. Pria itu menggenggam satu tangannya dan membawa dalam kecupan.
"Perpisahan ini membuat aku merindu setiap waktu, setiap hari aku dilanda khawatir karena keinget kamu, Dek, takut banget kejadian kemarin terulang lagi, apalagi tinggal seatap sama cowo-cowo lain, ah ... bikin Mas resah sepanjang malam," curhat pria itu lagi.
"Itu cuma perasaan kamu aja yang parnoan, aku nggak mungkin mendua, terkecuali ...."
"Terkecuali apa?" Biru yang tengah menikmati belaian sambil terpejam langsung membuka matanya.
"Terkecuali apa Dek?" todongnya sampai bangkit dan mengambil sikap duduk.
"Ya terkecuali kamu yang berkhianat," jawab Inggit jelas.
"Astaghfirullah ... ngomongnya gitu, bikin Mas gemes."
"Ya mungkin saja 'kan, dalamnya hati orang mana ada yang tahu."
"Apa yang membuatmu masih meragu, apa perlu adek belah dada Mas, yang sudah pasti isinya hanya namamu, Inggit, Inggit dan Inggit Prameswari."
"Sini aku belah," gurau perempuan itu meninju lirih dadanya.
"Aww ... sakit, adek sayang." Pria itu mendrama, menekan dadanya sendiri bekas timpukan tangannya. Jelas itu membuat Inggit gemas dan tertawa.
"Lebay," celetuk perempuan itu hendak meninju lagi. Dengan sigap tangan itu Biru tangkap lalu menggenggamnya dan membawa dalam kecupan dengan mata tak putus dari tatapan wajahnya.
Pria itu tiba-tiba mengikis jarak, menatap begitu dalam dan lekat.
__ADS_1
"Eh! Mau ngapain?" Inggit memundurkan wajahnya waspada.
"Nakal banget sih, orang cuma mau sun juga," ujarnya percaya diri.
"Jangan ngawur Mas, kita di tempat umum, nggak boleh!" tolak Inggit halus.
"Iya ya, aku khilaf kalau udah di dekat adek, ah ... gemes." Biru mengganti dengan cubitan sayang di pipinya.
"Sakit Mas ...." rengek perempuan itu tak terima. Bibirnya monyong dengan kedua tangan mengusap pipinya.
"Sakitan mana, malam pertama apa cubitan mesra?" tanyanya menggoda.
"Dua-duanya, kamu nakal," jawab perempuan itu merona.
"Emang sakit banget ya, sampai nangis, seandainya aku bisa aku tidak ingin melukaimu sedikit saja, tapi sayangnya kita harus melewati itu."
"Hmm ...."
"Jangan menggodaku Mas, aku nanti ngambek," ujarnya membuang muka.
"Kamu selalu bikin Mas gemas kalau ngambek, sudah nggak sabar pingin pulang terus ngurungin adek seharian di kamar."
"Eh! Menakutkan sekali." Inggit melotot, membayangkan itu ngeri-ngeri ngilu.
"Apa sih kok senyum-senyum? Kamu mengerikan Mas."
"Apanya yang ngeri, nyatanya bikin adek ketagihan," todongnya tersenyum.
"Ngomong apa sih, cabut yuk lapar?" Inggit mengalihkan perkataan suaminya.
"Mau makan apa?"
__ADS_1
"Apa ya, Mas pingin makan apa?" Inggit balik bertanya.
"Makan adek boleh?" jawabnya ambigu.
"Jangan mulai dech, aku mau ...." perempuan itu meneliti sekitar. Tatapannya jatuh pada gerobak bakso yang tak jauh dari sana.
"Itu aja Mas, kayaknya enak," tunjuk Inggit antusias.
"Ayo ....!" Biru menengadahkan telapak tangannya. Inggit menumpuk telapak tangan mereka dan menautkan, lalu berjalan bergandengan.
Indah, semua serasa begitu indah. Hari di mana semua terasa begitu bahagia. Tidak harus ke tempat yang spesial super mahal. Cukup makan bakso di pinggiran Telaga dengan duduk lesehan di atas tikar, semua begitu terasa nikmat.
"Adek coba punya aku?" Biru menyodorkan bakso miliknya. Perempuan itu menyambut dengan senang hati. Satu suapan membuat perempuan itu ketagihan.
"Mau lagi?" pintanya sampai isi mangkuk pria itu hampir habis. Inggit tertawa.
"Sini gantian, aku yang suapin kamu," ujar perempuan itu mulai menyendok isi mangkuknya.
Makan, makanan bekas pasangan itu rasanya dobel nikmat, benar nggak sih?
"Adek ... cinta tak selamanyaa indah, Dek!" celetuk seorang pemuda yang kebetulan melintas melihat dua sejoli yang tengah berbagi bahagia itu.
Spontan, Biru dan Inggit pun menoleh ke arah pemuda tersebut, keduanya kembali saling menatap lalu mereka tertawa ngakak bersama.
"Bang, cinta tak selamanya indah, Bang! Betul juga ya?" Inggit menirukan.
"Lebih dari indah untuk kita lewati bersama Dek, semoga kita bisa menjaga sampai kita menua bersama. Aaminn!" ungkap Biru tulus.
"Aamiin ... yang paling kenceng."
.
__ADS_1
Tbc