Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 74


__ADS_3

Jajaran penting departemen kampus nampak hadir di sana. Rupanya foto-foto yang tersebar via internet itu cukup viral hingga berimbas nama kampus terbawa-bawa. Pihaknya akan menindak lanjuti tegas untuk sanksi bagi siapa saja yang telah melanggar tata tertib yang ada.


Inggit selaku orang pertama di foto itu yang pertama mendapat introgasi. Ia pun mulai menceritakan dengan pihak kampus mulai asal muasal foto itu. Dibantu Biru yang terus meyakinkan, semua yang hadir di sana. Pria itu juga menyesali perbuatannya yang dengan sengaja mengambil dan menyimpan foto itu.


"Inggit, kamu itu sedang masa percobaan setelah kemarin sempat berulah, Bapak akan menindak lebih tegas kalau kalian tidak bisa membuktikan bukti kebenaranya," ucap Pak Dani selaku pimpinan fakultas di sana.


"Maaf, Pak, itu foto hanya untuk dokumentasi pribadi, dan status kami sudah menikah dari kurang lebih tiga bulan yang lalu. Kami seru-seruan aja, bahkan saya punya foto aslinya dan benar cowok di sana itu adalah saya sendiri, karena saya yang mengambil gambarnya," jelas Biru tenang. Inggit yang pada dasarnya tidak tahu menahu kronologis yang sebenarnya hanya bisa mengiyakan.


"Lain kali, tidak usah mendokumentasikan hal semacam begitu, biar apa coba? Untuk apa? Bukankah itu malah merugikan kalian sendiri, sudah jelas sekali kalau kalian pasangan halal juga tidak harus bergaya-gaya seperti itu, salah-salah kalau kasus kaya gini tersebar, yang rugi siapa? Kalian sendiri!"


"Begini Pak, kami selaku orang tua sangat kecewa dengan adanya kasus ini, sebisa mungkin tolong kerja samanya juga untuk membanned gambar-gambar tak senonoh itu agar tidak semakin menyebar. Untuk yang telah menyebar luaskan foto tersebut, kami akan melewati jalur hukum karena itu sudah termasuk pelanggaran, dan juga pencemaran nama baik anak kami dan keluarga." Pak Rasdan langsung angkat bicara.


Perdebatan semakin pelik, Biru menunjukkan foto aslinya pada pihak kampus, membuktikan bahwa pria itu dirinya. Pihak kampus juga sudah menerima laporan bahwa kedua muda mudi itu pasangan suami istri yang sah berdasarkan dokumen surat nikah dan bukti pernikahan mereka. Jadi, satu hal positif yang bisa didapat adalah, mereka, Inggit lebih tepatnya sebagai korban, bukanlah pasangan mesum seperti yang terlihat secara kasat mata.


Perdebatan ditunda sampai kasus Biru Inggit ini menemukan bukti kuat penyebaran foto tersebut. Karena kalaupun itu milik pribadi jika termasuk pornografi pihaknya tetap dikenai sanksi. Jadi, semua akan dilimpahkan untuk proses selanjutnya. Kalau mereka terbukti tidak bersalah dan fitnah pencemaran nama baik, pihak kampus akan mencabut sanksi dan membantu mengembalikan namanya. Tetapi, kalau mereka terbukti melakukan pelanggaran dengan sengaja, keduanya bisa mendapat sanksi berat atau bahkan di drop out dari kampus mereka.


Pak Tama cukup kecewa dengan sikap Biru, yang notabene sebagai suami tidak bisa menahan jarinya untuk mengontrol diri. Sekali pun mereka menginginkan kehidupan anaknya untuk rukun dan bersatu, kalau Biru bersikap kurang ajar terhadap putrinya jelas seorang Ayah marah.

__ADS_1


"Biru, Romo tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa, yang jelas selama kasus ini belum bisa kamu bereskan, lebih baik kalian tinggal terpisah dulu. Romo menyayangkan hal itu, tapi Romo cukup kecewa dengan keteledoran kamu menyimpan foto itu. Tidak hanya mencoreng nama baik kalian sendiri, terutama jelas pihak anak Romo, jadi ... sebaiknya kalian saling memahami hati kalian masing-masing sampai adanya kasus ini bersih dan tuntas. Baru kamu bisa menemui Romo." Pak Tama jelas sakit hati, begitu pula dengan Bu Tami, sebagai seorang Ibu prihatin dengan kasus yang menimpa putrinya.


Sementara keluarga Biru berjanji untuk segera menuntaskan masalah ini. Mereka akan menyewa ahli IT untuk menghilangkan atau melenyapkan semua foto yang beredar. Biru dan Inggit hanya terdiam, tak berani menyela apapun keputusan para orang tua mereka. Jelas Biru merasa keberatan dengan sikap Romo, namun lagi-lagi karena kesalahanya, pria itu harus bisa menahan diri sampai membuktikan semuanya.


"Romo, tolong jangan pisahkan kami, kami akan melewati ini bersama, Biru berjanji untuk tidak membuat Inggit dalam masalah atau kesusahan," mohonnya sendu.


"Maaf, Nak Biru, kamu hanya boleh menjemput putri Romo kembali setelah kamu bisa membuktikan semuanya, dan kasus ini lenyap."


Mata pria itu mengembun, menyesal untuk hal-hal yang telah lalu. Rasa itu semakin perih kala mendapati kekecewaan seorang Ayah terhadap dirinya. Untuk pertama kalinya Biru menyesal dan menangis mengakui kesalahannya tempo dulu.


"Sabar Nak, kamu bisa melewatinya, tunjukan pada kami kamu sudah berubah. Maafkan Papa dan mamamu yang tidak bisa membimbingmu menjadi orang tua yang baik. Mungkin karena kesibukan Papa, kamu menjadi begini." Pak Rasdan menepuk pundak putranya, berusaha menguatkan anak mereka, ia salah namun bukan berarti harus menghakimi begitu saja, anak itu patut untuk diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.


Biru menangis sesenggukan di pangkuan mamanya. Ia meminta maaf pada kedua orang tuanya. Ia juga selama ini pernah berbuat banyak salah dengan Inggit, Biru mengakui semuanya di depan orang tua mereka. Namun, pria itu juga menegaskan kalau ia sangat mencintai istrinya saat ini dan sedang proses memperbaikinya.


Semangat itu hilang begitu saja, walaupun ia telah kembali ke rumah mewahnya, ya Mama Diana mengizinkan putranya yang terpuruk untuk tinggal bersamanya. Namun, Biru tidak menampakkan raut bahagia. Wajahnya begitu mendung, raut kesedihan jelas tergambar jelas di sana. Bahkan seharian mengurung diri di kamar, baru beberapa jam terpisah dengan istrinya rasa rindu itu semakin menyiksa.


Hal yang sama juga dirasakan Inggit, walaupun sempat sakit hati dan marah. Namun, gadis itu sudah mulai nyaman hidup bersamanya. Ada rasa yang hilang saat berjauhan, kamar yang selalu ia rindukan kala ditinggalkan sejak tinggal bersama Biru, tak lagi bisa menghangatkan dan memberi rasa nyaman. Keduanya saling memeluk guling mereka, merasakan rindu yang sama.

__ADS_1


Malam semakin larut, Biru yang sedari tadi sudah gelisah akhirnya memberanikan diri untuk menelponnya. Pria itu melakukan panggilan vidio call.


"Malam sayang, aku rindu," sapa Biru disebrang sana begitu panggilan terhubung.


"Belum tidur? Istirahat Al, kamu harus bisa menyakinkan Romo, untuk bisa menjemputku."


"Iya, aku akan segera membuktikan kebenarannya. Kamu juga belum tidur? Apa kamu juga merasakan hal yang sama?"


"Aku tidak bisa tidur."


"Aku merindukanmu sayang, aku kangen, ya Allah ... ini belum genap sehari, kenapa begitu berat."


Inggit hanya menimpali dengan senyuman, setidaknya dengan masih berkomunikasi lewat telepon, mereka masih bisa melepas rindu walau tak bisa bertemu.


"Jangan dimatiin, biarkan ponsel ini tetap menyala, aku ingin menemanimu tidur."


Inggit mengangguk, cukup lama mereka mengobrol menyuarakan kesedihan dan gegalauan hatinya saat terpisah oleh jarak dan waktu, sampai keduanya terlelap menyambangi mimpi bersama.

__ADS_1


__ADS_2