
"Kenapa lihatin aku kaya gitu, jangan-jangan beneran kamu mulai suka," tuduhnya to the point.
"Ge er," jawab Inggit sambil lalu. Biru tersenyum tipis melihat istrinya salah tingkah. Ia lekas mengguyur tubuhnya di ruang ganti. Hampir setengah jam keduanya sibuk sendiri.
"Udah?" tanya Biru menghampiri Inggit yang masih sibuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Sini aku bantuin biar cepet," sambung pria itu bergerak lembut di kepala istrinya. Inggit terbengong sesaat, ia benar-benar merasa Biru mulai memperhatikan dirinya.
'Ini orang beneran perhatian, atau modus sih?'
Inggit bergeming, membiarkan laki-laki berstatus suaminya itu dengan telaten mengeringkan rambutnya.
"Jangan lihatin aku terus Nggit, nanti kamu naksir beneran? Repot lho kalau udah cinta, nggak bakalan bisa lepas," seloroh Biru menangkap pantulan dirinya lewat pantulan kaca di depannya. Inggit gelagapan sendiri, terciduk tengah memperhatikan pria itu.
"Ayo pulang," ajak Inggit mengalihkan pembicaraan.
"Hmm … ikut ke kafe aja ya, sekalian makan di sana, laper 'kan?" Inggit mengiyakan, menghabiskan waktu di kolam memang cukup membuat perut gadis itu keroncongan.
Motor mereka melaju membelah jalanan, cukup dengan waktu tujuh belas menit, pria itu menepikan motornya di sebuah parkiran khusus karyawan. Mereka masuk, nampak sambutan hangat dari teman-temannya. Berhubung waktu menjelang maghrib, Al langsung pamit ke bilik belakang.
"Ke mana, Al?" tanya Inggit bingung.
"Udah ada panggilan, sebelum mulai kerja, curhat dulu sama yang di Atas," ucap pria itu seraya menanggalkan jaket dari tubuhnya.
"Ayok, sebelah sini kamar mandinya."
"Iya." Anggukan Inggit berbarengan dengan ayunan kaki mengekor pria itu. Tiga rakaat ia tunaikan berdua. Ini adalah sholat bersama pertama mereka, perdana setelah dinobatkan menjadi pasangan halal. Ada rasa haru, dan tenang. Hingar bingar dunia seakan sirna berganti dengan kedamaian.
Saat pria itu mengulurkan tangannya, reflek Inggit menyambut dengan segera. Sentuhan hangat di atas punggung tangannya langsung menarik dua sudut bibir pria itu. Spontan bergerak membalas dengan memberikan jejak sayang di keningnya. Jeda, ada rasa yang berbeda, pergerakan mereka sungguh seperti layaknya keluarga harmonis yang nyata, sayangnya momen itu dilakukan saat berpacu dengan waktu harus bekerja. Mereka berdua bergegas keluar dari bilik itu.
"Cie … Biru, bawa siapa nih," ledek salah satu teman Biru di sana.
"Kenalin, dia orang yang paling spesial dalam hidup gue, Inggit ist----" ucap Biru terpotong.
"Inggit, salam kenal semuanya." Gadis berparas ayu itu mengangguk sopan seraya menjabat tangan.
"Kenapa? Ini bukan di kampus, nggak harus ditutupin 'kan? Lagian emang bener kamu istriku, nggak salah 'kan kalau aku ngomong gitu." Inggit sempat kaget mendengar penuturan pria itu, namun tak bisa dipungkiri ada perasaan menghangat di relung sanubari terdalam. Apa itu tandanya, Biru sudah siap dan serius dengan hubungan mereka, bagaimana kalau banyak orang yang tahu, dan pria itu berubah, apa itu tidak lebih dari menyakitkan.
"Al mau sholat dulu, bareng yuk," ajak seorang cewek berambut sebahu.
__ADS_1
"Alhamdulillah udah, bisa bergantian dengan yang lainnya."
"Owh … dia siapa? Ke sini bareng kamu?" tanya perempuan itu meneliti Inggit dengan seksama. Sekilas pandang, perempuan itu terlihat tak suka, raut wajahnya yang sinis mampu menyiratkan isi kepalanya. Namun, Inggit tak ambil pusing, ia bersikap ramah ala kadarnya.
"Nggit, kok bengong, kamu belakangan ini suka melamun, santai saja, kamu duduk sini, di sini orangnya ramah-ramah kok, nanti kamu duduk aja nungguin aku perform sambil pesen makanan. Oke … sayang, eh keseleo, maksudku bestie."
"Jadi kamu beneran kerja di sini? Aku ragu sama suara kamu itu kalau nyanyi?" Inggit terlihat menyangsikan kemampuan cowok tampan berstatus suaminya itu.
"Beh … belum pernah denger ya? Gini-gini jago buat orang baper lho, nanti aku bawain lagu deh buat kamu."
"Terserah!" Sedikit kesal, Inggit kembali ke mode mrengut.
"Jutek kamu tuh … bikin aku nggak kuat, nggak kuat nahan pingin cubit kamu." Biru menarik pipi kiri dan kanan Inggit dengan gemas, sampai-sampai Inggit mengaduh dan kesal, Biru malah terkekeh pelan.
"Makanya jangan jutek-jutek, nanti kalau aku khilaf bisa aku tarik kamu, terus aku cium tuh bibir kamu yang hobbynya ngomel-ngomel mulu." Inggit mendelik, namun Biru malah tersenyum simpul seraya mengacak rambutnya pelan. Berjalan menjauh dan bersiap unjuk kebolehan di atas panggung yang telah tersedia.
Tangan lincahnya mulai memetik senar yang beresonasi dengan ruang kayu berleher panjang. Nada akustik yang mengalun mulai memengaruhi atensi muda-mudi yang hadir di sana. Ia tersenyum lembut, menampilkan aura kuat pemikat yang mampu menyeret banyak pasang mata.
Pekikan dari gadis sebelah yang kagum dengan penampilan pria itu mulai mengusik indera penglihatan Inggit, yang sedari tadi menahan kagum untuk tidak memperhatikan seseorang yang sedari tadi menyorot ke arahnya.
Awas Jatuh Cinta
Coba ku ungkapkan padamu
Berharap kamu 'kan menjadi
Rencana besar dihidupku
Tapi kau bilang
'Pergi sana'
Kamu tak mau melihat diri ini selamanya
Awas nanti jatuh cinta
Cinta kepada diriku
Jangan-jangan ku jodohmu
__ADS_1
Kamu terlalu membenci
Membenci diriku ini
Awas nanti jatuh cinta padaku
(Song by: Armada)
"Kenapa tadi nggak pesen makan, katanya lapar, ini udah malam banget," protes pria itu setelah menyelesaikan perform hampir pukul setengah sepuluh.
"Kamu juga belum makan, aku nggak mau makan sendirian, sementara kamu sendiri kerja buat hidup kita." Nggak nyangka Inggit berkata demikian, hatinya mengucap syukur, ternyata pilihan orang tuanya tidak pernah salah, Inggit bahkan tidak takut kesusahan hidup dengannya.
"Maaf, membawamu hidup susah, seharusnya kamu bisa hidup lebih baik kalau saja sejak awal aku tidak berulah."
"Hmm," jawab Inggit dengan gumaman.
"Pakai jaketnya dulu, udara malam tidak baik untuk kesehatanmu." Biru lekas menyampirkan kain hangat berbahan katun itu ke bahunya.
"Tapi, kamu juga perlu, lebih baik kamu yang pakai, di depan lebih dingin."
"Aku kuat menahan dingin, tapi aku nggak kuat menahan jauh darimu, sebagai gantinya, peluk aku dari belakang, impas 'kan?" ujarnya tersenyum.
"Hmm … ada maunya, dasar kang modus!" Biru terkekeh.
"Ayo cepet naik, cacing di perutku sudah berdemo, kita terlambat makan malam." Inggit mengiyakan. Gadis itu pikir, Biru akan langsung membawanya pulang, dan mereka akan terlibat kegiatan rempong di dapur. Ternyata tidak, Biru menepikan motor mereka di pinggir sebuah angkringan. Warung bertenda yang hanya buka semenjak petang itu menjadi tempat singgah makan malam mereka. Suasana ramai lebih di dominasi anak cowok yang nongkrong, Inggit tidak terbiasa dengan tempat itu, tentu ia merasa bingung.
"Sini, nggak usah takut, 'kan ada Abang, coba duduk sini deh, kita nikmati makanan yang pastinya kamu belum pernah ngerasain 'kan?" Biru memesan dua gelas wedang jahe, dua bungkus nasi kucing lengkap dengan beberapa tusuk sate telur puyuh.
Biru benar, walaupun kelas ekonomi Inggit di bawah jauh keluarga Biru, namun gadis itu tak pernah menginjakkan kakinya di angkringan. Ini mungkin yang pertama bagi gadis itu, dan cukup berkesan. Unik dan tidak terlalu buruk.
"Kamu sering ke tempat kaya gini?" tanyanya bingung, pasalnya setahu Inggit, Biru tipikal cowok berduit, jadi sepertinya mustahil bila sering jajan di pinggiran kaya gini.
"Sering sih nggak, tapi nggak jarang juga datang menghabiskan waktu bertiga dengan Nathan dan Devan, ya kita nongkrong aja kalau nggak ke klub, ya di jalan kaya gini, kamu pasti nggak kaget lah, coverku 'kan emang identik dengan kebrengsekan yang mendominasi. Hahaha … makanya kamu benci banget ya sama aku?" terang Biru panjang lebar. Inggit tidak menanggapi, bingung lebih tepatnya.
Malam semakin larut, tapi justru warung semakin ramai. Banyak anak-anak yang nongkrong di sana, tak jarang mereka saling menyapa atau bertegur sapa, rupanya pria itu juga banyak yang kenal dengan anak-anak yang jajan di sana.
Saat Inggit tengah menghabiskan disuapan terakhir, handphone gadis itu bergetar, sebuah notifikasi pesan masuk. Ternyata ucapan selamat malam dari Ares. Terlihat banyak panggilan di sana, sepertinya pria itu sedari sore menghubungi Inggit, namun karena handphone Inggit silent, dan getaran tadi tertimbun musik kafe, membuat ia tidak notice dengan panggilan yang ada.
"Siapa?" Biru mengintip saat gadis itu membuka pesan. Air mukanya tiba-tiba keruh dan terdiam.
__ADS_1