
Bruk!!
Perempuan cantik itu langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di kasur, rebahkan sejenak.
"Ingat pulang Buk, gue kira lo hari ini bakalan absen," celetuk Okta di sampingnya. Perempuan itu baru mandi tengah bersolek.
"Pulang lah, kita 'kan nggak boleh ninggalin kelompok sembarangan, iya kali kampus bapak lo, suka-suka deh ikut apa nggak?"
"Sewot bener, kalau masih kangen kenapa nggak seharian aja chek in sampai puas?" Perempuan itu mendekati sahabatnya yang tengah leha-leha. Wajahnya terlihat kurang bersemangat, satu kata loyo.
"Omo ... Nggit, lukisan lo banyak amad!" ledek Okta meneliti leher Inggit yang penuh dengan tanda merah.
"Eh, masih jelas banget ya?" Inggit mengambil sikap duduk dan mendekatkan pada cermin.
"Astaghfirullah ... ini sih jelas kentara, suamiku rese' banget sih," gerutunya bingung sendiri.
"Suami lo ganas juga, berapa ronde?" Okta mendadak kepo.
"Ish ... nggak jelas banget pertanyaan lo," jawab Inggit salah tingkah.
"Cie ... malu-malu segala, nggak pa-pa bestie, namanya suami istri ya wajar aja kaya begitu mah."
"Iya sih, sumpah gue masih capek banget, pingin tidur seharian."
"Ish ish ish ... pasti banyak ya, sampai lo ngoyo gitu. Make up sana, biar segeran dikit tuh muka."
"Bentaran, ini ditutup pakai apa ya, lo ada bawa syal nggak?"
"Nggak lah, nggak kepikiran bawa benda itu, pakai baju berkerah panjang aja," saran Okta ada benarnya. Masalahnya Inggit tidak membawa.
"Ah kesel gue, bisa jadi bulan-bulanan teman satu kelompok nih gue." Perempuan itu ngedumel seraya bercermin.
"Buatnya enak, kenapa sisanya marah-marah Buk!" goda Okta lagi.
"Cowok emang gitu ya, nggak bisa mungkin kalau nggak buat ginian." Mereka berdua tersenyum bersama.
__ADS_1
Inggit menggerai rambutnya, dipadukan dengan jaket berleher panjang untuk menutupi maha karya suaminya. Mereka tengah brefeing untuk kunjungan ke Sekolah Dasar yang letaknya sekolahnya tidak begitu jauh dari tempat itu.
Kegiatan mereka yang sudah terencana di sambut baik oleh pihak sekolah. Selain edukasi untuk kebersihan mencuci tangan dan gosok gigi. Kelompok mahasiswa juga mengadakan lomba mewarnai gambar dan melakukan kegiatan bermain di halaman sekolah. Semua agenda tersusun rame lancar untuk hari ini. Ditutup dengan pemberian hadiah bagi peserta lomba yang berhasil menjadi juara. Dilanjutkan bagi-bagi susu kotak serta snack sebelum pamitan. Tentu anak-anak yang mengikuti begitu antusias.
"Alhamdulillah ... akhirnya selesai juga." Kelompok 15 kembali ke posko selepas dhuhur. Menyusun laporan kegiatan, setelah aman tugas tertandatangani semua merasa lega.
Ada kegiatan rutin setiap sore, mulai dari jam tiga, anak-anak seumuran SD akan berbondong ke posko untuk belajar kelompok bersama. Salah satu agenda dalam proker, ikut membantu mencerdaskan anak bangsa.
Mbak dan Mas KKN akan berkumpul mengajari anak-anak dengan materi sesuai kelompok berdasarkan kelasnya. Mereka membagi tugas membantu mengerjakan PR serta memberi pengarahan untuk adik-adik. Kegiatan tersebut, sama sekali tidak membosankan karena akan diselingi bermain setelah usai. Hampir setiap hari posko mereka selalu rame.
Tak jarang kedatangan pemuda karang taruna yang ikut meramaikan setiap kegiatan. Termasuk agenda desa dan membantu mempublikasikan daerah wisata di sekitar.
"Ta, lo bakda maghrib ngisi acara ngaji bareng anak-anak ya? Gue izin dulu, capek banget hari ini."
"Ih ... izin mulu, kemarin udah, berangkat aja biar dapat pahala."
"Anak-anak yang lain pada ke mana?"
"Ada yang pulang, ada yang ketemuan di kabupaten, pada keluar semua ini 'kan hari sabtu. Udah pada izin dari menjelang sore."
"Hah, posko kosong dong, lo nggak ikut cabut?"
"Ya mana tahu mau nge-date bareng Ares," cetus Inggit tepat sasaran.
"Ada ketemu sih besok, tapi nggak kencan juga, doi sepertinya sangat sibuk. Akhir pekan selalu pulang, padahal jauh."
"Cie ... hafal bener jadwalnya, kayaknya habis KKN bakalan ada kata sepakat nih," ledek Inggit mengerling. Okta tertawa menanggapi ocehan sahabatnya itu.
"Kalem lah, apalah dayaku yang orang pinggiran, jangan terlalu tinggi menghalu."
"Tapi kalau Ares nembak mau 'kan?"
"Ish ... Bu Albir suka kepo ama urusan orang, siap- siap gih, kita ngumpul di posko."
Sabtu sore memang rada sepi, tersisa dari separonya dari satu kelompok full yang ada. Anak-anak sibuk dengan kegiatannya sendiri. Termasuk Biru yang sudah datang menyambangi tempat mereka.
__ADS_1
"Mas, cepet banget jemputnya, kenapa nggak malam aja, masih mau ngajarin bocil ngaji," protes Inggit begitu mendapati suaminya sudah datang ke posko mereka sebelum maghrib.
"Nggak pa-pa aku tungguin, yang lain pada ke mana? Dikit amat." Biru meneliti sekitar.
"Masih ada di rumah Pak Kadus sebagian, sebagian lagi ada yang keluar."
"Owh ... sama sih kelompok aku juga," jawab pria itu sembari duduk di teras.
"Besok jemput aja lagi ya, terus jalan, malam ini kamu pulang, aku sampai malam lho ini, biasanya habis isya baru kelar, kalau anak-anaknya banyak bisa lebih malam."
"Nggak mau, nungguin aja, terserah mau jam berapa, di posko juga nggak ngapa-ngapain. Kelompok bebas tugas kalau weekend."
"Ya udah terserah, bantuin juga boleh?"
"Hmmm ... nanti deh, udah makan belum? Atau adek mau makan apa?"
"Nanti aja lah, belum terlalu lapar."
"Ehem-ehem!" Okta datang ikut bergabung. Di belakang menyusul Dara, Mila, dan kholid.
"Ehem juga, dari mana Ta?" tanya Inggit kepo.
"Beli gorengan, ini enak lho masih anget." Okta menaruh kresek sedang berisi mendoan dan kawan-kawannya di sana.
"Wah ... enak nih sore-sore makan ginian." Mereka asyik bersama, menikmati gorengan sembari menunggu maghrib.
"Sholat dulu, di sini aja." Mereka lekas mengambil wudhu lalu bareng-bareng berjamaah. Selepas maghrib terlihat anak-anak sudah mulai datang untuk mengaji. Benar saja, malam minggu malah ramai, hampir jam setengah sembilan baru terlihat sepi.
"Pulang sana, aku mau istirahat," usir Inggit pada suaminya.
"Ya ampun ... jangan diusir dong, Dek, aku masih kangen."
"Keluar aja yuk, sekalian pamit malam ini ninggalin posko kaya kemarin. Nggak bakalan dicariin juga, 'kan besok libur. Ayolah Dek, sekalian bawa ganti, siangnya kita jalan." Biru sibuk merayu.
"Mmmm ... dipikir-pikir dulu."
__ADS_1
"Jangan lama-lama, keburu malam juga."
"Kuy lah, jalan malam kayaknya asyik juga."