Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 48


__ADS_3

Biru menghentikan laju motornya tepat di depan pekarangan rumah kedua orang tuanya sekitar pukul enam lebih empat puluh tujuh menit. Pria itu turun dari motor setelah Inggit lebih dulu turun.


"Bisa nggak?" tanya pria itu memperhatikan Inggit yang tengah kesusahan membuka gesper helmnya.


"Bisa," jawab Inggit yakin. Biru menatapnya dengan sabar. Ia berharap Inggit meminta pertolongannya dengan suka rela.


"Yakin?" Biru menyorot ragu, sepertinya pengait dalam gesper Inggit bermasalah.


"Susah," jawabnya mrengut hampir menyerah.


"Sini aku bantuin?" pintanya melangkah mendekat. Pria itu sedikit memiringkan kepalanya untuk mengintip sumber masalah. Jarak mereka yang teramat dekat membuat Inggit menahan napas. Biru melirik sekilas, memperhatikan bayangan dirinya di matanya.


"Udah," ucap pria itu membantu melepas helm tersebut dari kepala istrinya, lalu merapikan rambut yang sedikit berantakan.


"Ayo masuk!" Mereka berjalan beriringan.


"Assalamu'alaikum ...." sapa salam dari kedua orang yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya.


"Waalaikumsalam ... anak mantu Mama sudah datang." Mama Diana menyambut antusias. Biru dan Inggit menyalami kedua orang tua Biru dengan takzim. "Mama kira nggak jadi datang, mengingat tadi sempat hujan. Mama sampai mau menyuruh Pak Danang menjemput kalian," jelas Diana.


"Jadi dong Ma, Biru juga sudah kangen suasana rumah dan masakan mbok Darmi," jawabnya semangat. Biru merangkul bahu Inggit bak pasangan harmonis. Gadis itu melirik waspada, mengurai tangan Biru yang bertengger di bahunya dengan senyum terpaksa.


"Ayo sini sayang duduk, jangan diem aja." Entah mengapa Inggit sangat canggung di rumah mertua. Ia bersyukur tidak harus tinggal bersama setiap hari, apalagi harus berakting manis begini di depan Mama, sungguh sangat melelahkan.


"Iya, Ma." Inggit mengangguk sopan.


"Kamu duduk-duduk dulu sambil nunggu makan malam siap, sebentar Mama ke belakang dulu," ujar Mama Diana bangkit dari kursi.


"Ikut Ma," seru Inggit yang diangguki Mama, dari pada terjebak di ruang tamu dengan Biru dan papanya, Inggit lebih baik ikut ke belakang, barangkali ada kegiatan yang butuh bantuannya.


"Sayang, kenalin, ini mbok Darmi, ART di rumah ini sudah puluhan tahun kerja dengan kami, sudah seperti keluarga sendiri, semenjak Biru kecil, beliau yang merawat anak bandel itu," jelas Mama.


"Salam kenal Mbok, saya istrinya Biru," ucap Inggit ramah.

__ADS_1


"Cantik dan sopan sekali, simbok pernah lihat, jangan sungkan meminta tolong bila perlu sesuatu, Non," ucap wanita yang lebih tua dari mamanya itu. Mbok Darmi sudah pernah lihat tapi baru ini ada kesempatan berakrab ria dengan istri dari anak majikannya itu.


"Panggil saja Inggit, Mbok," ucap Inggit sungkan.


"Kamu mah persis seperti Den Biru, dia juga tidak mau disebut gitu, tapi simbok suka manggil aja." Mbok Darmi terkekeh sendiri.


"Inggit bantuin apa Mbok." Inggit mulai memindai menu makan malam yang tengah di susun mbok Darmi dan Mama Diana.


"Bawa ini ke meja makan, bisa sayang," tawar Mama.


"Bisa Ma, sini biar Inggit saja." Inggit berjalan mondar mandir dari dapur menuju meja makan. Sementara Mama menyiapkan minuman penutup dan mbok Darmi membereskan dapur yang masih nampak berantakan. Setelah semuanya siap, Mama memanggil Papa dan Biru di ruang tengah yang sedang asyik mengobrol.


Semua sudah bersiap di meja makan, Inggit jelas sungkan, apalagi Biru bersikap sangat manis. Sudah hal biasa anak itu berakting bila di dekat orang tuanya, tapi kali ini Inggit benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan pria itu. Mendadak begitu romantis dengan menawarkan menyuapinya.


"Ya ampun ... kalian manis sekali," ucap Mama senang.


"Biar aku makan sendiri saja, Al," tolak Inggit dengan senyuman kepalsuan. Ia mendelik sengit pada pria berstatus suaminya itu. Biru malah tersenyum menampilkan wajah tanpa dosa.


"Nggak pa-pa sayang, Mama dan Papa pasti maklum, iya kan Ma?" Mama mengangguk dengan senyuman.


Kedua orang tua Biru memang tak lagi muda, tapi keduanya masih terlihat harmonis dan kompak di lain kesempatan. Makan malam dilalui dengan perasaan canggung. Inggit yang tetap kalem walau sebel, dan Biru yang merasa cukup puas karena banyak kesempatan. Rasanya ia ingin tinggal di rumah Mama saja biar Inggit bersikap manis dan terus menurut begini, mengurungnya seharian di kamar dan melakukan banyak hal yang menyenangkan. Biru senyum-senyum sendiri.


"Kalian kemarin ke Jogja ke mana aja?" tanya Mama.


"Kalian?" Inggit bingung sendiri.


Mati gue, malu banget kalau ketahuan ngikutin Inggit.


"Owh ... Jogja memang kota menyenangkan, apalagi sepanjang jalan Malioboro, cukup berkesan," sindir Biru tersenyum.


Tuh cowok ngomong apa sih, nggak jelas banget.


"Banyak kegiatan yang mengacu pada pengetahuan sih Ma, Inggit ke sana 'kan buat study tour, jadi pastinya banyak ilmu yang di dapat dan juga dapat refreshingnya karena sekalian mengunjungi tempat wisata."

__ADS_1


"Wah ... kalian pasti mencuri-curi waktu berdua ya?"


"Emm ... Biru ti----" Omongan Inggit menguap di udara, karena pria itu langsung menyela.


"Iya dong Ma, kami pasti menyempatkan selalu bersama bila ada kesempatan." Inggit melirik curiga.


"Mama senang kalian terlihat rukun dan harmonis, begitu tak mau jauhnya, Biru sampai nyusul ke Jogja, benar-benar di luar ekspektasi Mama, Mama kira kalian akan susah saling jatuh cinta, ternyata nggak, jadi nggak sabar Mama punya cucu." Inggit terbengong-bengong dengan penuturan mertuanya, ia menyorot pria yang tengah tersenyum kikuk itu dengan tatapan menyelidik.


Duh ... Mama, apa-apa sih, malah skakmat begini, malu woy ...


"Sayang, kalian menginap, 'kan malam ini?"


"Iya Ma, tenang saja, kita sudah membawa jadwal untuk besok pagi," jawan Biru benar adanya.


"Kebetulan Papa juga mau ngomong serius sama kamu Al, nanti setelah usai makan, temui Papa di ruang kerja." Pak Rasdan menyumbangkan suaranya.


"Siap Pah," jawab Biru semangat, entah apa yang ingin mereka katakan, tapi Inggit berharap itu tentang pengesahan warisan untuk Biru, agar dirinya tidak harus berlama-lama terjebak dalam pernikahan semu.


"Sayang, kamu tunggu di kamar dulu ya, aku ke ruangan Papa dulu," pamit Biru lembut. Rasanya Inggit geli mendengar Biru terus-terusan memanggil sayang untuk dirinya. Inggit menyorot tajam, meminta penjelasan sengaja menginjak tumit Biru karena kesal.


"Aww ...!" Biru mengaduh dengan cengiran di wajahnya. "Sayang, aku hanya menemui Papa sebentar, sepertinya kamu takut aku terlalu lama meninggalkan kamu," ucapnya lembut. Inggit melotot garang, Biru malah mengulum senyum meninggalkan ruang makan.


.


TBC


Hallo all ... author udah kabulin double up hari ini nich ... ayo beri semangat mendukung karya ini dengan


Like


Koment


Vote

__ADS_1


Thanks gengs ... 😍😍😍


__ADS_2